Langsung ke konten
Kamis, 13 Agustus 2026
Headline Ketua Perbasi Sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini Persiapkan Atlet Hadapi Popda 2026, Target Juara
Daerah Pasuruan

Prof Elfi Anis Saati Tawarkan Pengganti Susu dari Sari Bunga dan Buah Untuk MBG, FGD Bahaya Mikroplastik dan Pangan Sehat Fungsional di Pasuruan

Prof Elfi Anis Saati bersama Tim

PASURUAN| JATIMSATUNEWS.COM: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak cukup hanya dimaknai sebagai pemberian makanan kepada masyarakat. Lebih dari itu, program strategis pemerintah tersebut harus menjadi investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar dan Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, dalam kegiatan yang membahas penguatan program MBG, pemenuhan gizi holistik, keamanan pangan, pemanfaatan bahan pangan lokal, hingga hilirisasi produk UMKM.

Menurut Prof Elfi, konsep gizi dalam program MBG harus dipahami secara menyeluruh atau holistik. Artinya, pemenuhan gizi tidak hanya melihat kandungan protein, karbohidrat, vitamin dan mineral dalam makanan, tetapi juga memperhatikan keamanan, kehalalan, keberagaman bahan pangan, cara penyajian, hingga dampaknya terhadap tumbuh kembang anak.

“Makanya di dalamnya sekarang ada gizi holistik. Jadi ketika ada penyuluhan, misalnya dari KUA, permasalahan gizi dan kesehatan keluarga harus disampaikan secara menyeluruh,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemenuhan gizi sejak dini merupakan bentuk investasi keluarga sekaligus investasi bangsa. Masa 1.000 hari pertama kehidupan, menurutnya, merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

“Kalau sejak balita starting-nya tidak baik, maka pada usia 18 tahun perkembangannya juga bisa tidak maksimal. Kemampuan anak untuk berkembang dan menjadi produktif menjadi tidak optimal. Karena itu sejak balita harus dikawal agar tidak terjadi stunting,” jelasnya.

Prof Elfi menilai persoalan stunting tidak semata-mata berkaitan dengan ukuran fisik anak, tetapi memiliki dampak panjang terhadap kualitas generasi. Karena itu, intervensi gizi harus dilakukan sejak dini agar anak tumbuh sehat, cerdas, kreatif dan produktif.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia saat ini memasuki momentum bonus demografi. Bonus demografi, kata dia, hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi muda memiliki kesehatan, pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang memadai.

“Jangan sampai kita berharap bonus demografi, tetapi ketika lulus sarjana justru banyak yang menganggur. Karena itu anak-anak harus dibekali keterampilan, pengetahuan, kemandirian diri dan ketahanan pangan,” katanya.

Prof Elfi juga mendorong agar implementasi MBG tidak hanya menghasilkan generasi sehat, tetapi sekaligus menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat melalui pelibatan petani, UMKM, pelaku usaha pangan dan berbagai sektor lokal.

Menurut dia, produk UMKM yang masuk dalam ekosistem MBG harus memberikan dampak luas kepada masyarakat.

“Produk UMKM yang dititipkan dalam program MBG harus berdampak. Artinya manfaatnya harus dirasakan banyak pihak, bukan hanya oleh satu pihak yang bekerja sama dengan kita,” tegasnya.

Ia menilai bahan pangan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, hilirisasi hasil pertanian harus terus didorong agar masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi dari proses pengolahan dan inovasi.

Sejumlah riset pangan yang dikembangkan juga diarahkan pada pemanfaatan bahan lokal, mulai dari teh daun mangga, bunga mawar, kecipir berwarna ungu, brokoli ungu, hingga pengembangan beras analog dan pemanfaatan beras pecah.

“Dosen harus respek terhadap masyarakat. Hasil riset jangan hanya berhenti di jurnal, tetapi harus bisa membumi. Kalau produk bisa dimanfaatkan, petani juga bisa menjual bahan bakunya,” tuturnya.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pemanfaatan bunga mawar sebagai bahan pangan dan kosmetik. Dengan teknologi tertentu, bahan tersebut bahkan berpotensi dikembangkan menjadi produk serum berbasis teknologi nano.

Prof Elfi juga menyinggung potensi pigmen alami dari bahan tumbuhan sebagai alternatif bahan pewarna yang selama ini banyak diperoleh dari sumber impor.

“Dari bunga bisa dimanfaatkan. Yang belum bermanfaat kita lanjutkan risetnya, sehingga bisa menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya.

Keamanan Pangan dan Bahaya Mikroplastik

Dalam kesempatan tersebut, isu mikroplastik juga menjadi perhatian. Dr. Ir. Roy Hendro Setyobudi dari UMM menyampaikan bahwa mikroplastik merupakan ancaman baru yang perlu mendapat perhatian serius dalam sistem pangan dan kesehatan manusia.

Plastik, menurutnya, membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Bahkan plastik tertentu membutuhkan ratusan tahun untuk mengalami proses degradasi.

Ilmu mengenai mikroplastik sendiri tergolong relatif baru. Salah satu tokoh yang dikenal dalam pengembangan kajian mikroplastik adalah Prof. Richard Thompson.

Karena itu, masyarakat perlu mulai memperhatikan penggunaan plastik, termasuk di lingkungan rumah tangga dan dalam penyimpanan makanan.

“Yang paling gampang, kita belajar. Kedua, di dalam dapur kita di rumah tolong dilihat penggunaan plastiknya,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

Prof Elfi menambahkan, kajian mengenai bahaya mikroplastik tersebut tidak berhenti pada penyampaian informasi. Tim peneliti juga mengembangkan pangan fungsional berbasis bahan lokal yang diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak paparan residu mikroplastik.

“Kami mengemas tema kali ini dengan mengenalkan bahaya mikroplastik, tetapi juga bagaimana menanggulanginya dengan produk pangan fungsional yang berbasis bahan lokal,” jelasnya.

Hasil riset tersebut, lanjut dia, diharapkan dapat diimplementasikan pada sasaran program MBG maupun di luar MBG, termasuk pondok pesantren dan sekolah.

Dapur MBG Perlu Diperkuat Ahli Gizi dan Pangan

Prof Elfi juga menekankan pentingnya keberadaan tenaga ahli di dalam pengelolaan dapur MBG. Menurutnya, dapur MBG idealnya melibatkan ahli gizi dan pangan sehingga menu yang disajikan benar-benar memenuhi prinsip gizi seimbang dan keamanan pangan.

Ia mengingatkan bahwa konsep gizi seimbang saat ini tidak lagi menggunakan paradigma “4 sehat 5 sempurna”, melainkan menekankan keberagaman makanan sesuai kebutuhan tubuh.

“Gizi seimbang bukan lagi 4 sehat 5 sempurna. Masyarakat harus memahami bahwa makanan harus beragam,” katanya.

Ia juga membuka peluang inovasi dalam penyediaan minuman dalam menu MBG, tidak selalu bergantung pada susu, tetapi dapat dikembangkan melalui sari buah, sari tumbuhan atau bahan pangan lokal lainnya yang memenuhi kebutuhan gizi.

Menurutnya, sumber pangan hewani maupun nabati memiliki karakteristik dan manfaat masing-masing sehingga pemilihan bahan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keamanan konsumen.

MBG di Kabupaten Pasuruan Terus Dievaluasi

Sementara itu, Bakti Jati Permana dari Bapelitbangda Kabupaten Pasuruan memaparkan pelaksanaan program MBG di daerah tersebut.

Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Pasuruan terus melakukan koordinasi dan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG agar manfaat program dapat diterima masyarakat secara optimal.

Di Kabupaten Pasuruan terdapat SPPG yang tersebar di 24 kecamatan. Dari sekitar 120 unit yang direncanakan, sebanyak 105 unit disebut telah aktif secara operasional.

Pemkab Pasuruan juga telah menerbitkan SK Bupati terkait MBG serta melakukan pakta kerja sama dengan SPPG, koordinator, mitra dan tenaga ahli gizi.

“Kalau ada evaluasi dan sampai disuspend, kasihan penerima manfaat. Karena itu kita berupaya melakukan respons cepat terhadap berbagai persoalan,” ujarnya.

Menurut Bakti, Kabupaten Pasuruan bahkan memiliki kantor sekretariat Satgas MBG yang menjadi salah satu pusat koordinasi. Keberadaan sekretariat tersebut diharapkan mempercepat respons ketika muncul persoalan di lapangan, termasuk informasi yang viral di media sosial.

Ia menambahkan, masih terdapat sejumlah unit SPPG yang perlu melengkapi persyaratan, termasuk aspek sertifikasi dan kelayakan sanitasi.

Sertifikasi Halal Jadi Bagian Penting

Aspek halal juga menjadi perhatian dalam ekosistem MBG. Prof Elfi menilai kewajiban sertifikasi halal tidak sekadar persoalan administratif, tetapi berkaitan dengan jaminan keamanan dan ketenangan masyarakat dalam mengonsumsi makanan.

Ia mengingatkan bahwa pelaku usaha dalam negeri harus memperkuat daya saing menghadapi masuknya produk pangan dari luar negeri, termasuk dari China.

Menurutnya, kemandirian pangan harus menjadi perhatian bersama. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk negara lain, sementara potensi bahan pangan lokal justru belum dikembangkan secara maksimal.

“Kalau kita hanya senang-senang saja, kita khawatir kebanjiran produk dari luar. Karena itu kemandirian pangan harus diperkuat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, perusahaan, UMKM, petani dan masyarakat.

“Kolaborasi itu sangat penting. Tidak hanya kampus yang harus bergerak, tetapi juga perusahaan dan seluruh pihak yang terlibat agar program ini berjalan,” imbuhnya.

Makanan dari Hati untuk Generasi Indonesia Emas

Prof Elfi menegaskan bahwa keberhasilan MBG pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak makanan yang dibagikan setiap hari. Lebih penting lagi, bagaimana makanan tersebut mampu membentuk generasi yang sehat, cerdas, produktif, mandiri dan memiliki karakter.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam MBG untuk memberikan makanan dengan penuh kepedulian.

“Bagaimana kita memberikan makanan dari hati, dengan gembira. Karena yang diberikan bukan hanya kandungan gizinya, tetapi juga kasih sayang dan perhatian,” katanya.

Menurut dia, pemberian makanan dengan sepenuh hati akan membangun dimensi yang lebih luas dalam pertumbuhan anak, termasuk aspek spiritual dan karakter.

“Menu MBG disyaratkan ada SLHS dan sertifikat halal. Sebenarnya tujuannya juga ke sana, agar bisa berdampak menjadi manusia yang sehat, cerdas dan bisa diandalkan dalam keluarga,” jelasnya.

Ia berharap program MBG mampu berkontribusi terhadap penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas kecerdasan generasi Indonesia.

Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, Indonesia seharusnya mampu menghasilkan produk pangan yang kreatif, inovatif dan bernilai ekonomi tinggi.

“Negeri kita kaya raya. Kalau kita cerdas, kreatif dan inovatif, banyak sekali produk yang bisa dibanggakan dari daerah masing-masing,” tandasnya.

Prof Elfi berharap hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti sebagai karya ilmiah yang hanya dibaca kalangan akademisi, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.

“Kalau jurnal dibaca oleh orang internasional dan kalangan intelektual. Tetapi kalau menjadi produk, petani juga bisa membeli dan menjual bahan bakunya. Mudah-mudahan karya kami betul-betul membumi,” pungkasnya.

Dengan demikian, MBG diharapkan bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan makan anak, melainkan menjadi ekosistem besar yang menghubungkan gizi, kesehatan, pendidikan, keamanan pangan, halal, inovasi, UMKM, petani dan ekonomi rakyat untuk menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.