MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Negeri Malang (UM) terus mendorong kemandirian pangan di lingkungan pesantren melalui sentuhan teknologi modern. Lewat program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim UM sukses menerapkan sistem aquaponik terintegrasi Internet of Things (IoT) di Pondok Pesantren Mambaul Abyad, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.
Program yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026 ini tidak sekadar menyerahkan bantuan alat, tetapi juga membekali para santri dengan literasi teknologi dan keahlian agropreneurship. Instalasi aquaponik yang menggabungkan budidaya ikan dan sayuran segar seperti selada dan pakcoy ini telah dipasang pada akhir Juli lalu, disusul dengan pelatihan intensif pengoperasian perangkat IoT bagi pengurus dan santri.
“Sistem aquaponik ini mengintegrasikan budidaya perikanan dan pertanian melalui sirkulasi air yang sangat efisien. Nutrisi dari sistem perikanan dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga pesantren bisa mengoptimalkan lahan yang ada,” jelas perwakilan Tim PkM UM saat menjelaskan mekanisme kerja alat tersebut.
Baca juga: SMA Syarif Hidayatullah Grati Gelar Upacara Khidmat Peringati Hari Santri 2025
Melalui pelatihan praktik langsung pada pertengahan Agustus lalu, para santri diajak melek teknologi dengan memantau kondisi aquaponik secara digital.
“Santri kini sudah bisa memantau parameter penting secara real-time menggunakan IoT. Mulai dari memantau tingkat pH, suhu, hingga mendeteksi ketinggian dan aliran air. Jika sistem menunjukkan kondisi yang tidak normal, mereka sudah memahami langkah penanganan yang harus dilakukan secara mandiri,” tambahnya.
Penerapan teknologi pertanian presisi ini dinilai sangat strategis dan sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam menuntaskan kelaparan (Zero Hunger) dan menghadirkan pendidikan berkualitas (Quality Education).
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada KEMENDIKTISAINTEK yang telah memberikan Grant Program Pengabdian Kepada Masyarakat. Dukungan ini sangat berarti bagi pengembangan fasilitas pesantren,” ujar perwakilan Tim PkM UM.
Ke depannya, sistem aquaponik di pesantren yang dikelola oleh Syarif Hidayatullah, M.Pd., ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai sarana produksi konsumsi harian. Pengurus pesantren menargetkan peningkatan kapasitas panen agar hasilnya dapat diolah menjadi produk bernilai jual, sekaligus menghidupkan ekosistem kemandirian ekonomi yang produktif bagi para santri.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.