TAIWAN | JATIMSATUNEWS.COM: Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar “Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Affiliate Marketing” bagi lebih dari 20 Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Ikatan Muslim Indonesia Taiwan (IMIT) Taichung. Kegiatan yang berlangsung pada 3 Agustus lalu ini bertujuan membekali para pahlawan devisa dengan keterampilan digital praktis guna membuka peluang penghasilan tambahan.
Program pemberdayaan ini digagas setelah melihat tingginya aktivitas PMI di media sosial yang selama ini masih sebatas untuk hiburan dan komunikasi.Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN UMM, Ruli Inayah Ramadhoan, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan kini sangat mudah diakses.
“Kami ingin menunjukkan bahwa AI bukan sesuatu yang sulit. Hanya dengan smartphone, PMI dapat mulai belajar membuat konten, mengembangkan ide usaha, dan memanfaatkan platform digital secara lebih produktif,” jelas Ruli.
Selama workshop, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan jingle lagu, naskah promosi, video pendek, hingga desain grafis berbasis AI melalui gawai mereka. Lebih jauh, tim KKN UMM juga mengajarkan trik affiliate marketing—mulai dari memilih produk hingga personal branding—di platform populer seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube.
Achmad Nakhlah Phelia Rahim, perwakilan mahasiswa KKN, menambahkan bahwa pendekatan praktik langsung terbukti efektif.
“Meski awalnya banyak yang belum terbiasa dengan AI, setelah didampingi perlahan, mereka mulai asyik mengeksplorasi pembuatan konten promosi secara mandiri,” ungkapnya.
Kegiatan edukatif ini mendapat apresiasi penuh dari Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan, Sahrul Husein. Ia menilai, peningkatan kapasitas skill digital sangat krusial bagi bekal masa depan PMI setelah masa kontrak kerja mereka di luar negeri berakhir.
Melalui payung “Gerakan Sadar Digital”, KKN Internasional UMM berkomitmen untuk terus mendorong masyarakat Indonesia di luar negeri agar tidak hanya menjadi penonton, melainkan kreator cerdas yang mampu memanfaatkan teknologi demi kemandirian ekonomi.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.