Langsung ke konten
Rabu, 7 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Nasional

Mahasiswa FBiPK UB Raih Gold Medal, Juara 1 dan Juara Umum PENA 3 Lewat Gagasan Kesejahteraan Guru Honorer

Tim mahasiswa FBiPK UB berhasil meraih Gold Medal, Juara 1, sekaligus Juara Umum dalam ajang Pekan Essay Nasional 3 (PENA 3) yang diselenggarakan Pena

Mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB). Tim mahasiswa FBiPK UB berhasil meraih Gold Medal, Juara 1, sekaligus Juara Umum dalam ajang Pekan Essay Nasional 3 (PENA 3)

Mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB). Tim mahasiswa FBiPK UB berhasil meraih Gold Medal, Juara 1, sekaligus Juara Umum dalam ajang Pekan Essay Nasional 3 (PENA 3) (Foto: Humas FBiPK)

BANDUNG | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB). Tim mahasiswa FBiPK UB berhasil meraih Gold Medal, Juara 1, sekaligus Juara Umum dalam ajang Pekan Essay Nasional 3 (PENA 3) yang diselenggarakan Pena Competition bersama Politeknik TEDC Bandung, 3–4 Oktober 2026.

Capaian tersebut diraih melalui gagasan inovatif berjudul “GEMS: Optimalisasi Tata Kelola Kesejahteraan Guru Honorer Berbasis Merit System dan Good Governance Guna Mendukung Indonesia Emas 2045.”

Tim FBiPK UB terdiri atas Revand Christ Zomen Simanjuntak, Maria Tetania Simanjuntak, Nabil Muhammad Ridwan Rustandi, Hanif Fathurrohmat, dan Yeka Vanly Kusumaningati. Dalam proses penyusunan gagasan hingga persiapan kompetisi, tim mendapatkan bimbingan dari Dr. Wisynu Ari Gutama, S.P., MMA.

Baca juga: Departemen Tanah FBiPK UB Gandeng University of Goettingen Teliti Agroforestri Kopi Jawa Timur untuk Hadapi Perubahan Iklim

Baca juga: Wakil PM Timor-Leste Mariano Assanami Sabino Sapa Mahasiswa FBiPK UB, Bagikan Pesan tentang Karakter dan Kepemimpinan

GEMS lahir dari perhatian terhadap persoalan kesejahteraan guru honorer yang dinilai masih membutuhkan penguatan, terutama dari sisi tata kelola, transparansi, akuntabilitas, serta mekanisme penilaian berbasis kinerja.

Melalui gagasan tersebut, mahasiswa FBiPK UB menawarkan kerangka tata kelola yang mengintegrasikan prinsip merit system dan good governance. Konsep itu diarahkan untuk mendorong pengelolaan kesejahteraan guru honorer yang lebih adil, transparan, akuntabel, dan terukur.

Yang menarik, GEMS tidak berhenti pada gagasan konseptual. Tim juga merancang dukungan sistem digital berbasis website yang mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Distributed Ledger Technology (DLT).

Integrasi teknologi tersebut dirancang untuk mendukung pengelolaan data secara sistematis, membantu pengambilan keputusan berbasis data, sekaligus meningkatkan transparansi dan keterlacakan informasi dalam tata kelola kesejahteraan guru honorer.

Iklan

Pendekatan inilah yang menjadi salah satu kekuatan GEMS. Persoalan kesejahteraan guru tidak hanya dilihat dari perspektif kebijakan, tetapi juga didekati melalui mekanisme implementasi yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital.

Dengan demikian, gagasan yang dibawa mahasiswa FBiPK UB memadukan sejumlah aspek sekaligus, mulai dari kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, teknologi, hingga persoalan sosial dan pendidikan.

Keberhasilan menyabet tiga capaian sekaligus dalam PENA 3 menjadi pengalaman penting bagi para anggota tim. Selain menjadi prestasi akademik, kompetisi tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, menyusun argumentasi, serta menawarkan solusi berdasarkan persoalan nyata.

“Prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan GEMS agar tidak berhenti sebagai sebuah gagasan dalam kompetisi. Kami berharap konsep ini dapat terus disempurnakan dan memberi kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan guru honorer di Indonesia,” ujar salah satu anggota tim.

Menurut tim, penguatan kesejahteraan guru memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Guru memiliki posisi strategis dalam membentuk kualitas generasi masa depan sehingga tata kelola kesejahteraan yang adil dan berbasis kinerja dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kualitas pendidikan nasional.

Sementara itu, pembimbing tim, Dr. Wisynu Ari Gutama, S.P., MMA., mengapresiasi capaian mahasiswa FBiPK UB tersebut.

Iklan

Menurutnya, prestasi dalam PENA 3 menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan gagasan lintas disiplin dengan menggabungkan aspek tata kelola, kebijakan, teknologi, dan persoalan sosial.

“Kompetisi seperti ini menjadi ruang yang baik bagi mahasiswa untuk belajar mengidentifikasi masalah, membangun argumentasi, serta merancang solusi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Capaian ini patut diapresiasi dan diharapkan menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya yang memiliki manfaat lebih luas,” katanya.

Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa FBiPK UB mampu mengambil peran dalam merespons persoalan pembangunan yang lebih luas. Kreativitas mahasiswa tidak hanya diarahkan pada bidang bio-industri, pertanian, dan kehutanan, tetapi juga berkembang pada isu sosial, kebijakan publik, pendidikan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Melalui capaian di PENA 3, mahasiswa FBiPK UB menunjukkan bahwa kompetisi ilmiah dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas akademik sekaligus melatih keberanian dalam menawarkan gagasan terhadap persoalan strategis nasional.

Ke depan, tim berharap GEMS dapat dikembangkan melalui kajian yang lebih mendalam, penguatan model implementasi, serta penyempurnaan sistem digital agar semakin aplikatif.

Dengan pengembangan tersebut, GEMS diharapkan tidak hanya menjadi karya yang mengantarkan mahasiswa meraih prestasi dalam kompetisi, tetapi juga dapat berkembang menjadi alternatif gagasan dalam mendorong tata kelola kesejahteraan guru honorer yang lebih baik.

Pada akhirnya, gagasan tersebut diarahkan untuk mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih berkeadilan sekaligus memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju 2045.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.