MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kawasan wisata Pantai Ngliyep di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, kembali menjadi saksi bisu kemegahan spiritual Nusantara. Masyarakat adat setempat menggelar ritual tahunan Larungan sesaji di Gunung Kombang, sebuah tradisi sakral warisan leluhur untuk tolak bala dan ungkapan rasa syukur yang kini genap memasuki usia pelaksanaan ke-117 tahun sejak dimulai pertama kali pada tahun 1913.
Gelaran adat tahun ini bertepatan dengan hari pasaran Jawa, Jumat Pahing, 28 Agustus 2026. Sebelum prosesi utama dimulai pada Jumat sore, rangkaian acara telah diawali terlebih dahulu dengan ritual memanjatkan doa pada Kamis malam yang dipimpin oleh tokoh spiritual Nyai Ida Rofi bersama Ki Eko Condro Wijoyo. Doa kolektif tersebut dipanjatkan secara khusus untuk keselamatan negeri serta sebagai sarana tolak bala agar bangsa Indonesia dijauhkan dari segala ancaman marabahaya maupun wabah penyakit (pagebluk).
Nyai Ida Rofi menegaskan bahwa ritual kebudayaan ini merupakan bentuk laku batin kolektif dalam menjaga keseimbangan antara hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta. “Untaian doa yang dipanjatkan di tepi laut selatan ini esensinya adalah altar penyerahan diri kita. Kita mengetuk pintu langit agar negeri ini senantiasa dibentengi dari segala marabahaya, dijauhkan dari bencana, serta masyarakatnya hidup makmur dan tenteram,” tutur Nyai Ida Rofi di sela-sela persiapan acara.
Kontribusi Nyai Ida Rofi: Menyerahkan Dua Ekor Kerbau
Ada hal monumental dalam pelaksanaan labuhan ke-117 ini. Sebagai wujud nyata komitmen dan kepeduliannya terhadap kelestarian adat Nusantara, Nyai Ida Rofi secara konsisten kembali menyokong penuh jalannya upacara. Pada tahun ini, beliau menghibahkan dua ekor kerbau sekaligus untuk digunakan sebagai hewan kurban utama dalam prosesi larungan sesaji.
Langkah spiritual ini menunjukkan dedikasi budaya yang tinggi. Dalam menghadiri ritual penting di pesisir Malang Selatan ini, Nyai Ida Rofi hadir didampingi oleh beberapa rombongan serta sosok Ki Suryo Alam. Ki Suryo Alam merupakan figur pilar yang selalu setia mendampingi dan mengantarkan Nyai Ida Rofi dalam setiap agenda kebudayaan di berbagai daerah, yang diberangkatkan langsung dari kediaman sekaligus pusat spiritual Keraton Nyai Ida Rofi di Desa Kali Sampurno, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.
Kehadiran dua ekor kerbau sumbangan Nyai Ida Rofi menjadi elemen krusial agar upacara adat dapat terselenggara secara utuh sesuai pakem aslinya. Berdasarkan ketetapan adat turun-temurun, hewan kurban tersebut disembelih untuk diambil bagian kepalanya sebagai bahan utama yang akan dilarung bersama sesaji pelengkap lainnya. Sementara itu, bagian dagingnya dimasak secara gotong-royong oleh kaum laki-laki desa setempat yang sedang berpuasa, untuk kemudian dibagikan dan dinikmati bersama oleh warga dalam ritual kenduri selamatan desa.
Pengurus Rumah Lumbung Paparkan Sejarah Asal-Usul Sejak 1913 Sebelum Pemberangkatan
Suasana mendadak hening dan penuh khidmat menjelang Jum’at sore, sesaat sebelum kepala kerbau diberangkatkan dari Rumah Lumbung desa menuju titik pelarungan di tebing Pantai Ngliyep. Di hadapan para warga, dan rombongan tamu dari Sidoarjo, pengurus Rumah Lumbung maju memberikan sambutan untuk memaparkan kembali sejarah dan asal-usul tradisi mulia ini agar api sejarah tetap terjaga di sanubari generasi muda.
Dalam penuturannya, pengurus Rumah Lumbung mengisahkan bahwa Tradisi Labuhan Gunung Kombang ini lahir dari peristiwa pagebluk atau wabah penyakit misterius yang melanda Desa Kedungsalam pada awal abad ke-20. Kala itu, dua tokoh linuwih desa, Eyang Kyai Thalib dan Eyang Atun, melakukan pertapaan di bukit karang Gunung Kombang. Mereka mendapatkan petunjuk spiritual untuk menggelar selamatan desa dan melarung sesaji ke laut selatan sebagai sarana tolak bala.
Sejak ritual pertama sukses dilaksanakan pada tahun 1913 silam, wabah penyakit mematikan tersebut berangsur-angsur sirna dan masyarakat desa kembali hidup tenteram. Memasuki tahun 2026, tradisi tersebut kini tepat menginjak usia ke-117 tahun. Pengurus Rumah Lumbung menegaskan bahwa keikhlasan tokoh luar daerah seperti Nyai Ida Rofi dalam menyokong kebutuhan upacara adat ini merupakan bukti nyata bersambungnya amanah para leluhur dalam menjaga keselamatan wilayah dan merawat persaudaraan lintas daerah.
Nyimas Tumenggung Dewi Nawang Sari Pimpin Doa Sakral di Puncak Gunung Kombang
Usai pemaparan sejarah, iring-iringan kirab budaya langsung bergerak menuju bukit karang yang menjorok ke samudra. Memasuki prosesi puncak pelarungan di atas tebing Gunung Kombang pada Jumat sore, atmosfer berubah menjadi sangat magis dan religius. Jalannya rapalan doa sakral pada detik-detik pelarungan kepala kerbau tersebut dipimpin langsung oleh Nyimas Tumenggung Dewi Nawang Sari.
Asal-usul sebagai anak putu lumbung membuat Nyimas Tumenggung Dewi Nawang Sari, yang mdedikasikan kiprahnya secara aktif sebagai spiritual pendoa di setiap acara labuhan, menuntun ritual dengan penuh ketulusan. Berdiri kokoh menghadap gulungan ombak laut selatan, ia melambungkan untaian doa permohonan keselamatan negeri, keberkahan, serta ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta Jagat Raya.
Sesaat setelah doa selesai dipanjatkan, kepala kerbau bersama sesaji pelengkap dilarung ke tengah laut selatan melalui gerbang spiritual yang dikenal masyarakat sebagai Watu Lawang. Hingga upacara berakhir, arus kunjungan wisatawan dan masyarakat adat terpantau terus mengalir memadati kawasan Pantai Ngliyep, menyaksikan salah satu warisan budaya terbesar di Malang Selatan yang tetap lestari berkat sinergi erat para tokoh spiritual dan adat Nusantara.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.