JOMBANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ketua Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU), Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A, menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi utama dalam menghadapi perubahan zaman, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Hal tersebut disampaikan Prof. Amany dalam sambutannya pada Seminar Nasional dan Bahtsul Masail APMNU yang digelar dalam rangka menyukseskan Muktamar NU ke-35 di Jombang, Kamis (27/8/2026).
Seminar Nasional APMNU mengangkat tema besar “Mewujudkan Generasi Cerdas Digital dan Lingkungan Nir Kekerasan Seksual”.
Baca juga: Jaksa Agung Burhanuddin Resmi Lantik 37 Pejabat Baru Eselon 1 dan 2 di Lingkungan Kejaksaan Agung
Baca juga: Riset Dosen UMM: Kualitas Tidur dan Dukungan Keluarga Jadi Kunci Kendalikan Diabetes
Forum tersebut menghadirkan para profesor Muslimat NU dari berbagai daerah serta membahas sejumlah isu strategis, di antaranya pola asuh, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijak, perlindungan anak, kesehatan perempuan, serta pencegahan kekerasan seksual.
Dalam sambutannya, Prof. Amany menekankan bahwa keluarga yang kuat dan tangguh merupakan modal penting untuk membentuk generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Yang dinamakan ketahanan keluarga harus kita perkuat. Di samping itu, intelektualitas perempuan Muslimat Indonesia juga harus terus ditingkatkan,”ujar Prof. Amany.
Menurutnya, perempuan Muslimat NU tidak cukup hanya memiliki peran dalam keluarga dan masyarakat, tetapi juga harus terus memperluas wawasan serta aktif menyampaikan gagasan melalui tulisan, forum akademik maupun ruang-ruang publik.Ia berharap para perempuan akademisi Muslimat NU mampu membangun pemikiran Islam yang autentik dan moderat, tetap berpegang pada tradisi, tetapi tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.
“Kita tetap berpegang pada tradisi, tetapi tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu. Kita harus terbuka terhadap kemajuan dan modernitas tanpa meninggalkan spiritualitas,” tegasnya.
Prof. Amany menilai kemajuan zaman harus diimbangi dengan penguatan nilai agama dan spiritualitas. Perempuan, menurutnya, harus menjadi sosok yang memiliki keimanan kuat sekaligus wawasan luas.Penguatan tersebut tidak hanya berdampak pada individu perempuan, tetapi juga terhadap ketahanan keluarga dan organisasi.
“Kalau kita perempuan dan anggota keluarga kita menjadi sosok yang beriman kuat, dengan sendirinya organisasi kita, Muslimat NU, juga menjadi kuat. Keluarga-keluarga kita juga menjadi kuat,” jelasnya.
Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi keluarga saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital memberikan banyak manfaat, tetapi pada saat yang sama juga membawa berbagai risiko bagi anak-anak.Karena itu, keluarga harus menjadi ruang pertama bagi anak untuk memperoleh pendidikan, pendampingan dan pembentukan karakter.

Dalam Seminar Nasional tersebut, APMNU memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan teknologi digital secara cerdas dan bijaksana.
Menurut Prof. Amany, kemampuan menggunakan teknologi harus dibangun sejak lingkungan keluarga. Anak-anak perlu didampingi agar mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif, bukan justru terpapar konten yang merusak perkembangan mereka.
Selain persoalan digital, seminar juga membahas pola asuh dan perlindungan perempuan serta anak dari kekerasan.
“Dalam kegiatan kali ini kita membahas bagaimana mendukung digitalisasi atau penggunaan alat digital yang cerdas dan bijaksana kepada seluruh anggota keluarga, terutama anak,” katanya.
Ia berharap pembahasan tersebut dapat memberikan perspektif baru bagi keluarga Muslimat NU dalam menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Setelah seminar nasional, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Bahtsul Masail yang dilaksanakan di lingkungan SMKN 1 Jombang. Forum tersebut menjadi ruang bagi para profesor dan akademisi untuk membahas persoalan aktual secara kritis dan multidisipliner.
Prof. Amany berharap peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi aktif memberikan pandangan, mengajukan pertanyaan dan menguji berbagai gagasan secara objektif.
“Ibu-ibu nanti juga hadir semua, bisa mendengarkan dan berdiskusi, menanyakan secara kritis dan objektif terhadap apa yang kita sampaikan,” ujarnya.
Menurutnya, proses tersebut penting agar Bahtsul Masail tidak hanya menghasilkan pembahasan akademik, tetapi mampu melahirkan rumusan yang memberikan solusi terhadap persoalan perempuan, keluarga dan anak.
Prof. Amany juga menekankan bahwa keterbukaan terhadap kemajuan zaman tidak berarti meninggalkan tradisi yang selama ini menjadi kekuatan NU.
Justru, tradisi keilmuan dan spiritualitas harus menjadi fondasi untuk menghadapi perkembangan modern. Pemikiran Islam, menurutnya, harus terus dikembangkan agar mampu menjawab persoalan kontemporer tanpa kehilangan akar tradisi.
Semangat tersebut sejalan dengan keberadaan APMNU yang menghimpun para profesor dan akademisi Muslimat NU dari berbagai disiplin ilmu.
APMNU diharapkan menjadi ruang pengembangan gagasan yang mempertemukan kekuatan tradisi keislaman dengan pendekatan akademik dan riset.
Prof. Amany menegaskan bahwa pelaksanaan Seminar Nasional dan Bahtsul Masail merupakan bagian dari khidmah APMNU untuk ikut menyukseskan Muktamar NU ke-35 di Jombang.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan menghasilkan keputusan serta rekomendasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita berharap output kegiatan hari ini bisa berjalan lancar dan keputusan yang dihasilkan dapat memberikan solusi terhadap berbagai persoalan,” ungkapnya.
APMNU sekaligus menjadi momentum memperlihatkan kontribusi intelektual perempuan Muslimat NU dalam menjawab tantangan zaman.Dengan memperkuat ketahanan keluarga, kecerdasan digital, perlindungan anak, pencegahan kekerasan serta wawasan keislaman yang moderat, APMNU ingin memastikan bahwa kemajuan zaman tetap berjalan seiring dengan nilai agama dan tradisi.
“Keluarga kuat, perempuan berdaya, generasi cerdas digital dan tetap berpegang pada spiritualitas,” menjadi pesan penting Prof. Amany dalam forum yang menjadi bagian dari khidmah APMNU menyukseskan Muktamar NU ke-35 di Jombang.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.