Langsung ke konten
Jumat, 21 Agustus 2026
Headline Relik Dmitry Donskoy Ditemukan Utuh di Kremlin, Putin Tinjau Makam
Nasional

Kader Ansor Tulungagung Soroti Seruan Ulama Sepuh Jaga Marwah NU Jelang Muktamar

TULUNGAGUNG | JATIMSATUNEWS.COM: Kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Tulungagung, Krisna Wahyu Yanuar, menilai seruan moral para ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga marwah organisasi menjadi pesan penting bagi seluruh kader menjelang muktamar.

Pernyataan tersebut disampaikan Krisna menyikapi pertemuan sejumlah ulama sepuh NU di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya No. 164, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Pertemuan yang digelar melalui pertemuan langsung dan Zoom itu antara lain membahas proses pemilihan Rais Aam serta pentingnya menjaga marwah NU dalam muktamar.

Menurut Krisna, perhatian para ulama sepuh terhadap proses pemilihan Rais Aam menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan NU tidak boleh dilepaskan dari kepentingan menjaga keutuhan jam’iyah.“

Bagi kader Ansor, dawuh para kiai sepuh harus menjadi rujukan moral. Muktamar bukan sekadar momentum memilih kepemimpinan, tetapi juga momentum menjaga kehormatan dan masa depan NU,” ujar Krisna.

Ia menilai dinamika dalam proses menuju muktamar merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar seperti NU. Namun, dinamika tersebut harus tetap berada dalam koridor adab, musyawarah, dan kepentingan jam’iyah.

Krisna juga mengingatkan kader muda NU agar tidak mudah terseret pada polarisasi yang dapat memperuncing perbedaan menjelang muktamar.“Perbedaan pandangan dalam NU adalah hal yang biasa. Yang harus dijaga adalah jangan sampai perbedaan pilihan membuat kita kehilangan ukhuwah dan adab kepada para ulama,” katanya.

Menurutnya, kader Ansor memiliki posisi strategis dalam menjaga suasana organisasi tetap kondusif. Sebagai generasi penerus, kader muda NU tidak cukup hanya mengikuti dinamika politik organisasi, tetapi juga harus mampu memastikan bahwa setiap proses tetap mencerminkan nilai-nilai khidmah.

“Ansor harus menjadi bagian dari generasi yang menjaga NU, bukan justru ikut memperkeruh suasana. Kepentingan jam’iyah harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” tegas Krisna.

Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dalam proses menuju muktamar dapat menjadikan seruan para ulama sepuh sebagai pedoman bersama. Menurutnya, muktamar harus menjadi ruang konsolidasi dan penguatan organisasi, bukan arena yang meninggalkan luka perpecahan.

“Kalau para kiai sepuh sudah menyerukan agar marwah NU dijaga, maka kader di bawah harus menerjemahkannya dalam sikap. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi NU harus tetap satu,” pungkasnya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.