MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya menggelar Seminar Nasional Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat, Rabu, 12 Agustus 2026, di Ruang GS.1.1 Gedung Sentral FBiPK. Forum ini jadi wadah berbagi gagasan dan praktik pengabdian masyarakat, terutama untuk mendorong pengembangan bioindustri berkelanjutan, penguatan masyarakat, dan transformasi kawasan.
Lebih dari 150 peserta hadir. Mulai dari akademisi, praktisi, mahasiswa, sampai dosen di lingkungan FBiPK Universitas Brawijaya. Kehadiran mereka memperkuat posisi kampus sebagai penghubung antara pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, kebijakan, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dekan FBiPK Universitas Brawijaya, Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., membuka acara sekaligus menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat semestinya tidak berhenti pada pelaksanaan program semata. Menurutnya, kegiatan semacam ini harus menghasilkan pengetahuan, model, atau inovasi yang bisa direplikasi dan memberi dampak berkelanjutan.
“Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari bagaimana perguruan tinggi menghadirkan ilmu pengetahuan agar benar-benar memberikan manfaat. Melalui forum diseminasi seperti ini, pengalaman di lapangan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan, tetapi dapat menjadi pengetahuan bersama yang dikembangkan, direplikasi, dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Prof. Mangku.
Seminar ini makin strategis dengan kehadiran Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebagai keynote speaker pertama, meski hanya lewat sambungan zoom meeting. Dari layar, Menteri Transmigrasi membagikan perspektif kebijakan soal pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan dan transformasi kawasan, termasuk lewat inovasi yang berpijak pada potensi sumber daya dan kebutuhan masyarakat setempat.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai mitra pembangunan disebut jadi kunci agar transformasi kawasan tidak melulu soal pembangunan fisik, tapi juga memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
“Perguruan tinggi memiliki kekuatan pada ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan sumber daya manusia. Ketika kekuatan tersebut dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat serta agenda pembangunan kawasan, kita memiliki peluang besar untuk melahirkan transformasi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat kemandirian masyarakat,” kata Menteri Transmigrasi dalam sesi keynote-nya.
Materi soal pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan lalu diperdalam oleh keynote speaker kedua, Sidi Rana Menggala, Ph.D., Koordinator Nasional GEF–Small Grants Programme Indonesia. Ia membawakan materi bertajuk “Inovasi Bioindustri Berkelanjutan: Penguatan Masyarakat, Ketahanan Pangan, dan Transformasi Kawasan Melalui Kolaborasi Perguruan Tinggi.”
Sidi menempatkan masyarakat sebagai aktor penting dalam pengembangan bioindustri berkelanjutan. Inovasi, katanya, harus dibangun dengan memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, dan ekologis suatu kawasan. Perguruan tinggi punya peran strategis mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lokal, supaya inovasi yang dihasilkan lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Keberlanjutan tidak cukup hanya menghadirkan teknologi atau inovasi baru. Masyarakat harus menjadi bagian dari proses tersebut. Kolaborasi perguruan tinggi dengan komunitas menjadi penting agar inovasi mampu memperkuat kapasitas lokal, mendukung ketahanan pangan, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya,” ujar Sidi.

