Sorotan
NGAWI | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MIM Ngrendeng, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, berlangsung penuh keceriaan.
Berbeda dari biasanya, perayaan tahun ini menghadirkan dongeng boneka, dari pendongeng lokal Kak Qochan.
Kehadiran Kak Qochan dengan dongeng boneka tersebut menjadi pengalaman pertama bagi para siswa MIM Ngrendeng.
Baca juga: Dongeng Islami dalam Semarak Maulid Nabi Muhammad SAW di SDN Sidolaju 01
Siswa Antusias Dengarkan Dongeng Boneka Kak Qochan
Sejak acara dimulai, wajah antusias tampak dari para siswa.
Mereka dengan penuh perhatian mengikuti cerita dari Kak Qochan melalui dongeng boneka.
Sesekali gelak tawa dan tepuk tangan terdengar ketika boneka mengajak siswa berinteraksi.
Bagi para siswa, kehadiran dongeng boneka menjadi pengalaman baru yang menarik.
Selain menghibur, cerita yang disampaikan juga membawa pesan tentang keteladanan Nabi Muhammad SAW, akhlak mulia, keberanian, kasih sayang, dan pentingnya berbuat baik kepada sesama.
Salah satu momen yang cukup menyentuh terjadi ketika Pandu, siswa kelas 2 yang telah menyandang predikat yatim, dengan berani maju ke depan untuk membantu Kak Qochan dalam pertunjukan dongeng boneka.
Meski masih duduk di kelas 2, Pandu tampak percaya diri ketika diminta tampil di hadapan teman-temannya.
Keberaniannya sontak mendapat perhatian dan apresiasi dari para guru serta siswa yang hadir.
Antusiasme Pandu membangunkan Kak Qochan untuk melempar pertanyaan kepada teman-temannya. Bukan pertanyaan terkait Maulid Nabi Muhammad SAW, melainkan pertanyaan perkalian matematika.
“Awalnya kami tidak menyangka Pandu akan begitu berani maju ke depan. Ia masih kelas 2, tetapi keberaniannya membantu Kak Qochan menjadi momen yang sangat berkesan bagi kami,” ujar Sumarni, S.Pd., salah seorang guru di MIM Ngrendeng Sine yang mengajar di kelas 3.
Kehadiran Pandu di tengah pertunjukan juga memberikan pesan tersendiri.
Status sebagai anak yatim bukanlah penghalang untuk tumbuh menjadi anak yang berani, percaya diri, dan mampu menunjukkan potensi dirinya.
Para guru turut mendampingi dan memberikan dukungan agar seluruh siswa mendapatkan pengalaman positif dari kegiatan tersebut.
Adapun guru kelas yang turut terlibat dalam kegiatan pendidikan siswa di MIM Ngrendeng adalah Jamiatus Solihah, S.Ag. sebagai guru kelas 6, Sendyta Meilani, S.Pd. sebagai guru kelas 5, Adelia, S.Pd. sebagai guru kelas 4, Sumarni, S.Pd. sebagai guru kelas 3, Dwi Wahyu N, S.Pd. sebagai guru kelas 1, serta Hesti Nurriasih, S.Pd. sebagai guru kelas 2.
Harapan Sekolah Gandeng Pendongeng Lokal
Menariknya kepala sekolah MIM Ngrendeng, A’yun Fauziah Wulandari S.Pd.I. berharap kolaborasi dengan pendongeng lokal bisa terus berlanjut.
Hal ini karena pengalamannya mengajar di Jawa Tengah sebelumnya—melihat dongeng— bisa menjadi media pembelajaran efektif dan penanaman nilai-nilai luhur pada anak-anak.
Sehingga, melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikemas dengan dongeng boneka, sekolah tidak hanya mengajak siswa mengenal sejarah dan keteladanan Rasulullah SAW, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan.
Kegiatan perdana tersebut menjadi pengalaman yang berkesan bagi para siswa MIM Ngrendeng Sine Ngawi.
Antusiasme mereka menunjukkan bahwa pembelajaran nilai-nilai agama dapat tersampaikan dengan cara kreatif, dekat dengan dunia anak, dan meninggalkan kenangan positif di hati mereka.(QONY)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.