Langsung ke konten
Sabtu, 22 Agustus 2026
Headline Relik Dmitry Donskoy Ditemukan Utuh di Kremlin, Putin Tinjau Makam
Daerah

Di Balik Ketelitian Radioterapi IMRT: Pengalaman Mahasiswa Fisika Mengenal Teknologi Penanganan Kanker

Dokumentasi Mahasiswa Bersama Pembimbing Lapangan di Depan Logo Adi Husada Cancer Center sebagai Lokasi Pelaksanaan Kegiatan Magang

Dokumentasi Mahasiswa Bersama Pembimbing Lapangan di Depan Logo Adi Husada Cancer Center sebagai Lokasi Pelaksanaan Kegiatan Magang

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Bagi mahasiswa Fisika, konsep-konsep yang dipelajari di ruang kuliah sering kali terasa abstrak hingga diterapkan dalam dunia kerja. Program Pembelajaran Luar Kampus (PLK) menjadi jembatan untuk menghubungkan teori dengan praktik tersebut. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Musyary Yahya, mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT). Selama menjalani PLK di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya, mulai 6 Juli hingga 6 November 2026, ia belajar secara langsung mengenai penerapan fisika medis dalam perencanaan radioterapi di bawah bimbingan Lellen Novia Hariono, S.Si., selaku fisikawan medis dan pembimbing lapangan, serta Primasari Cahya Wardhani, S.Si., M.Sc., sebagai dosen pembimbing.

Rumah Sakit Adi Husada Cancer Center (AHCC) merupakan salah satu pusat layanan kanker di Surabaya yang menyediakan pelayanan radioterapi dengan dukungan teknologi modern. Fasilitas seperti mesin radioterapi dan Treatment Planning System(TPS) memungkinkan proses perencanaan terapi dilakukan secara presisi sesuai dengan kondisi setiap pasien. Selain didukung oleh teknologi, pelayanan radioterapi di AHCC juga melibatkan kolaborasi multidisiplin antara dokter spesialis onkologi radiasi, radiografer, dan fisikawan medis untuk memastikan setiap tahapan terapi memenuhi standar kualitas dan keselamatan. Melalui kegiatan Pembelajaran Luar Kampus ini, Musyary memperoleh kesempatan untuk mempelajari secara langsung proses perencanaan radioterapi menggunakan teknik Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) bersama tim radioterapi AHCC.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa radioterapi bukan sekadar proses penyinaran pasien. Di balik setiap terapi terdapat serangkaian tahapan perencanaan yang kompleks untuk memastikan dosis radiasi mengenai target secara tepat sekaligus melindungi jaringan sehat. Kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia, dengan radioterapi sebagai salah satu metode pengobatan utama yang banyak diandalkan. Di balik proses pengobatannya, ternyata tersimpan tahapan yang jauh lebih rumit dari yang dibayangkan masyarakat awam. Hal inilah yang menjadi fokus dari kegiatan Pembelajaran Luar Kampus yang dilakukan.

Pembelajaran diawali dengan mengamati proses akuisisi citra menggunakan CT-Simulator, yang menjadi dasar dalam penyusunan rencana radioterapi melalui Treatment Planning System(TPS). Pada tahap ini, mahasiswa mempelajari proses delineasi, yaitu menentukan batas target tumor serta organ-organ sehat (Organ at Risk/OAR) yang harus dihindari dari paparan radiasi berlebih. Dari hasil delineasi tersebut, fisikawan medis kemudian mengoptimalkan berbagai parameter penyinaran, seperti energi foton, sudut gantry, konfigurasi Multi Leaf Collimator (MLC), dan jumlah Monitor Unit (MU), agar distribusi dosis yang dihasilkan mampu memberikan dosis optimal pada target sekaligus meminimalkan paparan terhadap jaringan sehat.

Pada teknik IMRT, radiasi diberikan dari berbagai sudut dengan modulasi intensitas berbeda di tiap segmen. Dari keterlibatan dalam perencanaan kasus pasien yang sudah pernah ditangani, mahasiswa memahami pentingnya menyeimbangkan dosis yang cukup untuk membunuh sel kanker dengan perlindungan maksimal bagi jaringan sehat. Optimasi dilakukan bertahap hingga distribusi dosis memenuhi kriteria klinis yang ditetapkan dokter onkologi radiasi dan fisikawan medis.

Pada radioterapi kanker serviks, terdapat dua pendekatan pemberian dosis yang umum digunakan, yaitu Simultaneous Integrated Boost(SIB) dan Sequential Boost. Pada teknik SIB, dosis untuk target risiko tinggi dan target elektif diberikan secara bersamaan dalam setiap fraksi penyinaran dengan tingkat dosis yang berbeda. Sementara itu, pada teknik Sequential Boost, penyinaran dilakukan secara bertahap dalam dua fase yang saling melengkapi. Selama kegiatan Pembelajaran Luar Kampus di AHCC, mahasiswa mempelajari pendekatan Sequential Boost, yang terdiri atas fase whole pelvis dan booster.

Fase whole pelvis bertujuan memberikan penyinaran pada area panggul secara luas, meliputi target primer serta kelenjar getah bening regional yang berpotensi menjadi lokasi penyebaran penyakit. Setelah dosis pada fase ini terpenuhi, penyinaran dilanjutkan ke fase booster, yaitu pemberian dosis tambahan yang lebih terfokus pada target dengan risiko tertinggi untuk meningkatkan kontrol lokal tumor. Perbedaan luas target pada kedua fase tersebut menyebabkan proses perencanaan radioterapi menjadi lebih kompleks. Fisikawan medis harus melakukan optimasi yang berbeda pada setiap fase agar distribusi dosis tetap memenuhi tujuan klinis, sekaligus menjaga dosis pada organ sehat berada dalam batas toleransi. Dari proses tersebut, mahasiswa memahami bahwa perubahan target penyinaran turut memengaruhi parameter perencanaan, seperti distribusi dosis, jumlah Monitor Unit (MU), jumlah segmen penyinaran, hingga estimasi waktu terapi.

Melalui proses tersebut, mahasiswa memahami bahwa semakin kecil target penyinaran, bukan berarti semakin mudah menyusun treatment plan. Perubahan bentuk dan volume target akan memengaruhi strategi optimasi, cakupan dosis, serta upaya memenuhi batas dosis organ sehat (Organ at Risk). Oleh karena itu, setiap fase penyinaran memerlukan pendekatan perencanaan yang berbeda agar tujuan klinis tetap tercapai tanpa mengurangi aspek keselamatan pasien.

Dokumentasi Mahasiswa saat Mengikuti Morning QA di Ruang Radioterapi Adi Husada Cancer Center

Pengalaman Pembelajaran Luar Kampus ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu fisika, yang sering kali dianggap abstrak, memiliki peran penting dalam dunia kesehatan, khususnya dalam mendukung keberhasilan terapi kanker melalui radioterapi. Melalui kegiatan Pembelajaran Luar Kampus ini diharapkan, tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep-konsep fisika medis, tetapi juga memahami bagaimana proses perencanaan radioterapi dilakukan secara sistematis, akurat, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal dalam mempersiapkan diri sebagai calon fisikawan medis yang kompeten serta mampu berkontribusi dalam pengembangan pelayanan radioterapi di Indonesia.

Menurut pembimbing lapangan kegiatan magang ini memberikan kesempatan secara langsung kepada mahasiswa untuk memahami secara langsung proses pelaksanaan radioterapi ini dilakukan.  “Melalui kegiatan ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami bagaimana menggunakan Treatment Planning System, tetapi juga memahami alasan di balik setiap keputusan dalam perencanaan radioterapi. Seorang fisikawan medis perlu mampu melihat hubungan antara karakteristik klinis pasien, distribusi dosis, dan keselamatan jaringan sehat. Pengalaman di rumah sakit diharapkan dapat membantu mahasiswa melihat bahwa ilmu fisika yang dipelajari di perkuliahan memiliki penerapan nyata dan tanggung jawab yang besar dalam pelayanan pasien.”

Musyary Yahya juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh tim Radioterapi Rumah Sakit Adi Husada Cancer Center Surabaya atas kesempatan, bimbingan, dan pengalaman berharga yang diberikan selama pelaksanaan Pembelajaran Luar Kampus. Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada dosen pembimbing serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Penulis : Musyary Yahya, Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.