MALANG | JATIMSATUNEW.COM: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pendanaan Internal FISIP Universitas Brawijaya bertajuk “Penguatan Literasi Kesehatan Mental dan Stigma Berbasis Gender pada Mahasiswa di Sekitar Universitas Brawijaya, Kota Malang”.
Bertempat di Cafe Bunker Gedong Ijen, Malang, kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari mahasiswa Universitas Brawijaya, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain, serta masyarakat umum. Kehadiran peserta dengan latar belakang yang beragam menciptakan ruang diskusi yang inklusif untuk membahas isu kesehatan mental yang semakin relevan di kalangan remaja dan mahasiswa.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Henny Rosalinda, Ph.D., Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya sekaligus Ketua Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya membangun pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan mental sebagai bagian dari kualitas hidup generasi muda, sekaligus menghapus stigma yang masih melekat dalam masyarakat, terutama yang dipengaruhi oleh konstruksi gender. Topik yang diangkat juga sejalan dengan kepakaran beliau di bidang studi gender dan berbagai kegiatan penelitian maupun pengabdian masyarakat yang berfokus pada isu perempuan dan kesetaraan gender.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dewi Utari, Owner Cafe Bunker Gedong Ijen sekaligus Founder Arunika, yang menyambut baik kolaborasi antara perguruan tinggi dan ruang komunitas dalam menghadirkan diskusi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, ruang publik seperti kafe dapat menjadi tempat yang aman bagi anak muda untuk belajar, berdiskusi, dan saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Materi pertama disampaikan oleh dr. Yuniar Sunarko, SpKJ(K), M.MRS, psikiater dari RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang yang telah lama berkecimpung dalam pelayanan kesehatan jiwa serta pengembangan kesehatan mental berbasis komunitas. Dalam paparannya, dr. Yuniar mengajak peserta untuk memahami bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Mengawali sesi, dr. Yuniar mengajak seluruh peserta untuk lebih mengenali diri sendiri (self-awareness). Menurut beliau, kemampuan memahami kondisi emosi, pikiran, dan perilaku diri merupakan langkah awal dalam menjaga kesehatan mental. Melalui pendekatan yang komunikatif, peserta diajak melakukan refleksi mengenai bagaimana mereka menghadapi tekanan sehari-hari serta mengenali perubahan yang terjadi pada diri mereka ketika berada dalam kondisi stres.
Beliau menjelaskan bahwa masa remaja dan masa menjadi mahasiswa merupakan periode transisi yang penuh dengan tantangan. Berbagai tuntutan akademik, penyesuaian terhadap lingkungan baru, tekanan untuk berprestasi, persoalan relasi sosial, hingga kekhawatiran terhadap masa depan sering kali menjadi sumber stres yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental.
Dalam paparannya, dr. Yuniar menekankan bahwa mengalami stres, sedih, cemas, maupun kelelahan emosional bukanlah tanda kelemahan. Reaksi tersebut merupakan respons yang dapat dialami oleh siapa saja ketika menghadapi tekanan hidup. Namun, ketika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus, mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan fungsi akademik maupun sosial, maka seseorang tidak perlu ragu untuk mencari pertolongan kepada tenaga profesional.
Beliau juga mengingatkan pentingnya membangun lingkungan yang saling mendukung. Dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan kampus memiliki peran besar dalam proses pemulihan seseorang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, peserta didorong untuk tidak mudah menghakimi, melainkan belajar menjadi pendengar yang baik serta berani mengarahkan teman yang membutuhkan kepada layanan profesional apabila diperlukan.
Sepanjang sesi berlangsung, peserta terlihat sangat antusias. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai cara membedakan stres akademik yang masih normal dengan kondisi yang memerlukan penanganan profesional, bagaimana menghadapi tekanan selama perkuliahan, hingga langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah padatnya aktivitas sebagai mahasiswa.
Materi berikutnya disampaikan oleh Henny Rosalinda, Ph.D., Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya sekaligus pakar studi gender. Melalui materi bertajuk “Boleh Rapuh, Berhak Ditolong”, beliau menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak lahir dalam ruang hampa. Berbagai tekanan yang dialami seseorang dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, keluarga, lingkungan akademik, serta norma gender yang berkembang di masyarakat.
Beliau mengajak peserta memahami perbedaan antara jenis kelamin (sex) dan gender. Jika jenis kelamin berkaitan dengan aspek biologis, maka gender merupakan konstruksi sosial mengenai peran, harapan, dan norma yang dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan. Norma-norma tersebut kemudian membentuk cara masyarakat memandang ekspresi emosi seseorang.
Melalui berbagai contoh, Dr Henny menjelaskan bahwa laki-laki sering kali dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu kuat, tidak menangis, dan menyelesaikan masalah sendiri. Sebaliknya, perempuan kerap memperoleh label seperti “terlalu sensitif”, “dramatis”, atau “baper” ketika mengekspresikan emosinya. Padahal, kedua kondisi tersebut sama-sama dapat menghambat seseorang untuk memperoleh bantuan yang mereka butuhkan.
Selain itu, peserta juga diajak memahami bahwa stigma terhadap kesehatan mental dapat muncul pada tiga tingkatan, yaitu stigma publik, stigma terhadap diri sendiri, dan stigma struktural. Oleh karena itu, perubahan cara pandang masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan aman bagi individu yang sedang mengalami persoalan kesehatan mental.
Pada sesi penutup, dr. Yuniar Sunarko kembali mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama. Beliau mengajak seluruh peserta untuk mulai lebih peduli terhadap kondisi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar, berani mencari bantuan ketika diperlukan, serta tidak memberikan stigma kepada individu yang sedang berjuang menghadapi masalah kesehatan mental.
Beliau menegaskan bahwa mencari bantuan kepada psikolog maupun psikiater bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud keberanian untuk menjaga kualitas hidup. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang memahami kesehatan mental secara benar, diharapkan akan tercipta lingkungan kampus dan masyarakat yang lebih suportif, terbuka, serta mampu menjadi tempat yang aman bagi siapa pun untuk bercerita dan mendapatkan pertolongan.
Pesan tersebut melengkapi penutupan dari Henny Rosalinda, Ph.D., yang mengajak seluruh peserta untuk mulai menggunakan bahasa yang tidak menghakimi, berani mendengarkan, serta menjadi teman yang aman bagi siapa pun yang sedang mengalami kesulitan. Sebagaimana pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan ini, “Boleh rapuh, boleh berbicara, dan setiap orang berhak ditolong.”

