KEDIRI | JATIMSATUNEWS.COM: Perilaku usil yang kerap dianggap sepele, seperti olok-olok atau saling dorong di sekolah, sering kali menjadi bibit perundungan (bullying). Merespons hal tersebut, Kelompok 150 KKN Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar edukasi anti-perundungan di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Sumberbendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Kegiatan yang berlangsung pada awal Agustus ini digagas setelah mahasiswa melakukan observasi lapangan dan menemukan maraknya bibit perundungan verbal maupun fisik di kalangan siswa.
Kenalkan Batas Candaan dan Perundungan
Rafael Gading Margono, salah satu mahasiswa KKN UMM, mengungkapkan bahwa target edukasi ini adalah siswa kelas 4, 5, dan 6. Mahasiswa memberikan pemahaman komprehensif mengenai empat jenis perundungan:
- Fisik (seperti menjambak dan mendorong).
- Verbal (olok-olokan).
- Sosial
- Cyberbullying (perundungan siber).
“Di SD, marak terjadi perundungan, paling sering berupa olok-olokan verbal. Setelah diberi materi, mereka mulai paham batas candaan dan berani menegur temannya yang usil dengan berkata, ‘Hayo, gaboleh jail’,” ujar Rafael.
Baca juga: Cyberbullying Masuk dalam 4 Aksi Perundungan yang Dilarang SMAN 1 Lawang Malang
Terapi Butterfly Hug dan Sentuhan Emosional
Sebagai bentuk pemulihan dan refleksi emosi, mahasiswa KKN UMM mempraktikkan metode Butterfly Hug. Teknik menyilangkan tangan di dada sembari menepuk perlahan ini diajarkan agar siswa merasa seperti memeluk diri sendiri dan lebih mudah merefleksikan emosi.
Sesi ini juga diisi dengan kegiatan saling berpelukan dan bertukar kalimat positif antarsiswa untuk menumbuhkan empati. Momen ini berlangsung sangat emosional dan menyentuh hati.
Bahkan, salah satu siswa turut membagikan pengalaman harunya setelah mengikuti sesi tersebut. “Aku enggak pernah dipeluk sehangat ini di rumah, tapi di sini dapat,” ungkapnya polos.
Melalui edukasi ini, tim KKN UMM berharap para siswa tidak sekadar paham teori, tetapi juga mampu membangun lingkungan sekolah yang suportif, saling menghargai, dan bebas dari perundungan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.