Langsung ke konten
Minggu, 30 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

Buku ke-11 Wina Bojonegoro “Lima Jam Selepas Pukul Lima”, Rayakan 38 Tahun Berkarya

Buku ke-11 Wina Bojonegoro Lima Jam Selepas Pukul Lima diluncurkan di Pasuruan

Wina Bojonegoro meluncurkan buku ke-11 bertajuk “Lima Jam Selepas Pukul Lima” dalam rangkaian Instalasi Sastra 2026 di Yayasan Omah Padma Nusantara, Pasuruan.

PASURUAN, JATIMSATUNEWS.COM – Buku ke-11 Wina Bojonegoro bertajuk “Lima Jam Selepas Pukul Lima” resmi diluncurkan dalam rangkaian Instalasi Sastra 2026 di Pasuruan. Peluncuran tersebut menjadi penanda perjalanan panjang Wina Bojonegoro yang telah berkarya secara konsisten selama 38 tahun.

Acara digelar pada Sabtu, (29/08/26), di rumah sekaligus markas Yayasan Omah Padma Nusantara, Dusun Semambung, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Tidak hanya menjadi momentum peluncuran buku, kegiatan tersebut juga menghadirkan perpaduan antara sastra, seni rupa, diskusi, pembacaan cerpen, hingga pertunjukan puisi.

Buku terbaru Wina ini memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi buku antologi cerpen dwibahasa pertamanya. Sebanyak sembilan cerpen dalam buku tersebut disajikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Buku ke-11 Wina Bojonegoro Hadir dalam Instalasi Sastra 2026

Peluncuran Buku ke-11 Wina Bojonegoro dikemas dalam sebuah kegiatan bertajuk Instalasi Sastra 2026. Rumah Wina yang dikenal luas dan asri disulap menjadi ruang apresiasi berbagai karya seni.

Sejumlah seniman dari beberapa daerah turut terlibat dalam pameran instalasi seni tersebut.

Para perupa yang berpartisipasi berasal dari Sidoarjo, Pasuruan, Tuban, hingga Nganjuk. Sejumlah nama yang tercatat dalam pameran tersebut antara lain Abimanyu, Anang Petong, Febri Ardiansyah, Gufron Derik, Syska La Veggie, Toyol Dolanan Nuklir, Yoes Wibowo, serta Zaki Amr.

Pameran seni tersebut dikuratori oleh Yudha Prihantanto.

Kolaborasi antara kegiatan sastra dan seni rupa ini digagas oleh Yoes Wibowo, suami Wina Bojonegoro yang juga dikenal sebagai seorang pelukis.

Beragam karya instalasi ditempatkan di berbagai sudut rumah dan lingkungan sekitar. Pengunjung dapat menikmati karya seni di taman, bawah pepohonan, teras perpustakaan, hingga sejumlah ruang lainnya.

Paduan antara karya seni rupa dan kegiatan sastra menjadikan peluncuran buku tersebut tidak sekadar sebagai agenda penerbitan, tetapi juga sebuah ruang perjumpaan bagi seniman, sastrawan, pembaca, serta masyarakat.

Bedah Buku “Lima Jam Selepas Pukul Lima”

Selain pameran seni, acara utama Buku ke-11 Wina Bojonegoro juga diisi dengan diskusi dan bedah buku.

Kegiatan tersebut berlangsung di ruang pendopo Yayasan Omah Padma Nusantara.

Diskusi membahas buku “Lima Jam Selepas Pukul Lima” dengan menghadirkan Psikolog Diyah Sulistyorini, M.Psi., serta sastrawan Bonari Nabonenar.

Keduanya memberikan pandangan mengenai karakter karya-karya cerpen yang terdapat dalam buku terbaru Wina Bojonegoro tersebut.

Menurut Bonari Nabonenar, cerpen-cerpen karya Wina memiliki kekuatan pada bagian akhir cerita.

Ia menilai ending dalam sejumlah cerpen Wina mampu menghadirkan kejutan sekaligus meninggalkan ruang perenungan bagi pembaca.

Sementara itu, Diyah Sulistyorini melihat karya-karya Wina banyak mengangkat persoalan perempuan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, persoalan tersebut disampaikan dengan pendekatan psikologis yang kuat.

“Saya selalu termenung lama jika selesai membaca karya cerpen Wina,” ujar Diyah Sulistyorini, yang juga merupakan dosen Universitas Brawijaya Malang.

Acara yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB tersebut berlangsung hingga malam hari.

Buku ke-11 Wina Bojonegoro Berisi Cerpen Indonesia dan Jawa

Salah satu hal yang membedakan buku terbaru Wina dari karya-karya sebelumnya adalah penggunaan dua bahasa.

Buku ke-11 Wina Bojonegoro berisi sembilan karya cerpen yang disajikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Buku tersebut dikemas dengan format yang cukup tebal serta tampilan yang mewah.

Wina mengungkapkan bahwa proses persiapan kumpulan cerpen tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

Proses penulisan dilakukan di tengah kesibukannya yang padat sebagai pengusaha biro perjalanan, penerbit, sekaligus penggerak kegiatan literasi.

Penggunaan bahasa Jawa menjadi langkah baru dalam perjalanan kepenulisan Wina Bojonegoro.

Sebelumnya, karya-karya Wina lebih banyak ditulis menggunakan bahasa Indonesia.

Namun, untuk buku terbarunya, perempuan kelahiran Bojonegoro tersebut memilih untuk menghadirkan bahasa Jawa sebagai bagian penting dari karyanya.

Upaya Mengangkat Dialek dan Sastra Jawa

Wina memiliki alasan khusus di balik penggunaan bahasa Jawa dalam karya terbarunya.

Sebagai perempuan kelahiran Bojonegoro, ia ingin mengangkat idiom dan dialek khas daerah asalnya.

Selain itu, penggunaan bahasa Jawa dalam Buku ke-11 Wina Bojonegoro juga menjadi bagian dari upaya melestarikan serta mengembangkan sastra Jawa, terutama di kalangan generasi muda.

Ke depan, Wina juga telah menyiapkan sejumlah rencana dalam perjalanan kepenulisannya.

Ia berencana menulis novel dengan perpaduan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Tidak hanya itu, Wina juga tengah mempersiapkan proyek sastra lain bersama Bonari Nabonenar.

Keduanya berencana menyusun sebuah buku antologi geguritan atau puisi berbahasa Jawa.

Langkah tersebut menunjukkan keseriusan Wina dalam mengeksplorasi bahasa daerah sebagai bagian dari perkembangan karya sastra kontemporer.

Performance Cerpen dan Orkes Puisi Meriahkan Acara

Rangkaian peluncuran Buku ke-11 Wina Bojonegoro juga menghadirkan sejumlah pertunjukan seni.

Komunitas Perempuan Penulis Padma atau Perlima turut tampil membawakan performance pembacaan cerpen.

Selain itu, Orkes Puisi Kidung LingLung dari Pondok Pesantren Ngalah Pasuruan juga ikut memeriahkan acara.

Kehadiran berbagai komunitas dan seniman tersebut semakin memperkuat konsep kolaborasi yang menjadi ciri khas Instalasi Sastra 2026.

Acara tersebut mempertemukan berbagai bentuk ekspresi seni, mulai dari sastra, seni rupa, musik, pembacaan cerpen, hingga puisi.

Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Wina dan Yoes Wibowo pun kembali berfungsi sebagai ruang terbuka bagi kegiatan kebudayaan.

Wina Bojonegoro, 38 Tahun Konsisten Berkarya

Endang Winarti, yang lebih dikenal dengan nama Wina Bojonegoro, telah menjalani perjalanan panjang di dunia kepenulisan.

Selama 38 tahun berkarya, ia telah menghasilkan 11 buku.

Konsistensinya dalam menulis menjadi salah satu hal yang menonjol dalam perjalanan kariernya.

Di tengah kesibukannya sebagai pemilik biro perjalanan Padma Tour, Wina tetap aktif menghasilkan karya sastra.

Ia juga mengelola Padma Publishing serta aktif menggerakkan berbagai kegiatan literasi di lingkungan tempat tinggalnya.

Sejak 2017, rumahnya di Dusun Semambung, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, dikembangkan menjadi ruang kegiatan budaya.

Rumah tersebut juga menjadi galeri bagi karya-karya seni suaminya, Yoes Wibowo.

Selain itu, Wina mendirikan Rumah Baca Padma yang diperuntukkan bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Ia juga membentuk komunitas Perempuan Penulis Padma atau Perlima.

Komunitas tersebut telah menghasilkan dan menerbitkan sejumlah karya buku.

Dedikasi Wina Bojonegoro untuk Literasi dan Kebudayaan

Perjalanan panjang Wina Bojonegoro dalam dunia sastra dan literasi juga mendapat apresiasi melalui sejumlah penghargaan.

Pada 2024, Wina menerima Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Sebelumnya, ia juga menerima Berita Jatim Award pada 2021.

Penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang penulis yang terus menjaga konsistensinya dalam berkarya.

Peluncuran Buku ke-11 Wina Bojonegoro, “Lima Jam Selepas Pukul Lima”, sekaligus menjadi penanda bahwa perjalanan kreatif Wina masih terus berlanjut.

Setelah 38 tahun berkarya dan menghasilkan 11 buku, Wina tidak hanya terus menulis, tetapi juga membangun ruang bagi tumbuhnya literasi, sastra, dan kebudayaan di lingkungan sekitarnya.

Melalui penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dalam karya terbarunya, Wina juga mencoba membuka ruang baru bagi pembaca untuk menikmati sastra sekaligus mengenal kekayaan bahasa daerah.

Peluncuran buku yang dipadukan dengan Instalasi Sastra 2026 tersebut menjadi gambaran bahwa sastra dapat hadir berdampingan dengan berbagai bentuk kesenian lainnya.

Dari rumah di Dusun Semambung, Desa Capang, Pasuruan, perjalanan 38 tahun Wina Bojonegoro dalam dunia literasi kini memasuki babak baru melalui buku ke-11 yang ia persembahkan bagi pembaca.

(Raf)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.