Langsung ke konten
Sabtu, 19 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

Program Surabaya Hari Ini 06: My Mother Menutup Tahun

 Program Surabaya Hari Ini #06: My Mother
Menutup Tahun

Flayer acara program Surabaya pada hari ini

Sebelas
perempuan hebat dari berbagai disiplin akan merayakan Hari Ibu sekaligus
menutup tahun pada acara Surabaya Hari Ini #06 yang digelar Forum Pegiat
Kesenian Surabaya (FPKS) pada 09 Desember 2025, di Galeri Dewan Kesenian
Surabaya, Kompleks Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo No 15 Surabaya.

Dengan
mengusung tema My Mother, materi acara dibagi dua. Pertama, berlangsung pada
pukul 16.00, menghadirkan Sarasehan atau Jagongan “Omon-omon Kesenian
Surabaya” dengan pemantik Henri Nurcahyo dan Heti Palestina Yunani.
Jagongan ini juga menjadi semacam penutup tahun sambil membaca ulang apa yang
terjadi pada kehidupan kesenian di kota Surabaya ini.

Kita
tahu bahwa kehidupan kesenian di Kota Surabaya hari ini bergerak seperti denyut
kota yang tak pernah benar-benar tidur ; keras, dinamis, tapi penuh daya tahan.
Di tengah deru industri, hiruk-pikuk perdagangan serta ritme kota pelabuhan
yang cenderung pragmatis, kesenian justru menemukan ruangnya sendiri:
ruang-ruang kecil yang tumbuh dari inisiatif warga, komunitas, dan para pekerja
seni yang tak menyerah pada keterbatasan.

Seni
di Surabaya tumbuh bukan dari limpahan fasilitas, melainkan dari solidaritas.
Kota yang dikenal kaku dan efisien ini, diam-diam menyimpan keberanian untuk
mencari bentuk-bentuk artistik baru. Para senimannya kerap berkolaborasi dengan
isu-isu sosial: lingkungan, ruang kota, memori kampung, relasi antarwarga,
menjadikan kesenian bukan hanya hiburan, tetapi cermin kritik dan refleksi.

Sedangkan
pada pukul 19.00, seperti biasa akan menghadirkan seni pertunjukan. Tentu saja
kali ini bisa disebut lebih unik, karena seluruh penampil adalah perempuan yang
akan membacakan karya mereka tentang ibu mereka, baik dalam bentuk puisi,
surat, esai dan sejenisnya.

P

ara
penampil yang telah menyatakan kesiapannya antara lain, Wina Bojonegoro
(sastrawati dan pegiat sastra), Swandayani (penari), Heti Palestina Yunani
(jurnalis), Vanessa Helen Martinus (aktivis BMS), Pinky Saptandari (dosen Fisip
Unair), Lina Puryanti (dosen FIB Unair), Trinil Sri Brojo (dosen Bahasa Unesa),
Vika Wisnu (sastrawati), Wulansary (penulis dan pendiri Komunitas Sahabat
Bumi), Nayera Ibrahim (perwakilan Wisma Jerman, dan tamu dari El Salvador yang
kebetulan sedang belajar bahasa Perancis di IFI Surabaya, Susi Romero.

Panitia
juga sebenarnya mengundang Isteri Wakil Gubernur Jawa Timur, Ibu Arumi Bachsin
dan Isteri Walikota Surabaya, Ibu Rini Indriyani. Tapi hingga tulisan ini
dimuat, panitia belum mendapat konfirmasinya.

Iklan

Perayaan
Hari Ibu ini — bagi FPKS — penting, karena di setiap langkah hidup, ada satu
cahaya yang tak pernah padam: cahaya dari seorang ibu. Ia tak selalu bersinar
terang. Kadang redup, kadang nyaris tak terlihat, namun selalu ada, menuntun,
menghangatkan, bahkan ketika dunia terasa gelap.

Ibu
adalah bahasa pertama yang kita pahami sebelum kata-kata. Sentuhannya menjadi
doa yang hidup di sekujur badan. Suaranya menjadi lagu yang meninabobokan
kegelisahan. Dalam diamnya tersimpan kekuatan, dalam lelahnya terselip kasih
yang tak menuntut balas.

 

Ibu
tidak menulis sejarah di batu, tapi di napas anak-anaknya. Ia menanam kesabaran
dalam tanah sehari-hari : pada piring yang tak pernah kosong, pada doa yang tak
pernah putus, pada malam yang ia lalui sendirian bersama cemas dan cinta. Ibu
bukan hanya sosok; ia adalah asal, arah dan pulang. Dan selama napas masih ada,
kita sesungguhnya selalu hidup dalam doa seorang ibu.

Merayakan
Hari Ibu tidak cukup hanya dengan memberikan bunga. Ada banyak cara lain yang
lebih personal dan bermakna untuk menunjukkan rasa terima kasih dan cinta
kepada ibu seperti menulis semua kenangan tentang ibu.

Inilah
saatnya kita menunduk dalam hening dan mengingat: dari rahim seorang perempuan,
dunia ini berdenyut. Dari kasihnya, kita belajar menjadi manusia. 
Jadi,
mari kita saksikan bersama bagaimana para wanita hebat di bidangnya
masing-masing tampil membacakan kenangan yang ditulisnya untuk ibunya.

 

OLEH : Jil
Kalaran (

Koordinator FPKS)

 

Komentar Pembaca

Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.