Langsung ke konten
Senin, 12 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Dari Limbah Sawit ke Lapisan Anti-Air: Inovasi Nano-Lignin untuk Masa Depan Ramah Lingkungan

Dokumentasi Mahasiswa dengan Pembimbing Lapangan di BRIN KST B.J. Habibie, Serpong.

Dokumentasi Mahasiswa dengan Pembimbing Lapangan di BRIN KST B.J. Habibie, Serpong. (Foto: Istimewa)

TANGERANG SELATAN | JATIMSATUNEWS.COM: Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Indonesia adalah salah satu negara yang menguasai lebih dari 80 persen produksi minyak sawit global, menjadikan Indonesia salah satu produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Namun di balik besarnya industri ini, pengelolaan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dihasilkan dari proses produksi masih menjadi persoalan yang belum optimal ditangani. Dari persoalan inilah lahir sebuah inovasi yang dikembangkan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan.

Inovasi tersebut dikerjakan oleh Azizah Salsabila Hapsari Sutrisno Putri (NPM 24037010025), mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, selama program magang di Gedung 442 Laboratorium Fisika Lanjut Pusat Riset Fotonika pada 18 Agustus 2026 hingga 11 Januari 2027. Penelitian ini dibimbing oleh Pardi Sampe Tola, Ph.D.,  selaku pembimbing lapangan dan Dr. Allif Rosyidy Hilmi, S.Si., M.Si., Dosen Fisika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, selaku dosen pembimbing.

Penelitian ini memanfaatkan lignin yang dimodifikasi menggunakan asam palmitat sehingga menjadi nano-lignin dengan sifat baru yang lebih bermanfaat. Material ini kemudian dipadukan dengan nanopartikel dalam matriks untuk menghasilkan lapisan pelindung (coating) dengan empat keunggulan sekaligus: superhidrofobik, transparan, mampu membersihkan diri sendiri (self-cleaning), dan melindungi dari radiasi ultraviolet (UV). Sederhananya, bayangkan kaca jendela, panel surya, atau material bangunan yang air hujannya langsung meluncur membawa serta debu dan kotoran, sekaligus tetap jernih dan terlindungi dari paparan sinar matahari. Selama magang, mempelajari berbagai tahapan penelitian material secara langsung, mulai dari preparasi lignin dari TKKS, modifikasi kimia dengan asam palmitat, pembuatan nanokomposit, hingga karakterisasi material. Selain keterampilan teknis, ia juga belajar tentang disiplin kerja laboratorium, keselamatan penggunaan bahan kimia, serta cara menyusun data penelitian secara sistematis.

Baca juga: Dari Limbah Sawit Menjadi Lapisan Antiair dan Self-Cleaning, Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur Dukung SDGs melalui Magang Riset di BRIN

Baca juga: Ketua Tim Advokasi DPP Rampas Setia 08 Berdaulat Desak ATR/BPN, KLHK & KPK Usut Tuntas Perusahaan Sawit Nakal di Sumatera Barat

Dokumentasi saat menimbang asam palmitat (palmitic acid) sebagai bahan modifikasi yang akan dicampurkan ke dalam nano-lignin di laboratorium BRIN KST B.J. Habibie, Serpong.

Pendekatan ini mendukung sejumlah target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur):pengembangan material dan teknologi baru berbasis riset nanoteknologi.
  • SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab):pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai guna.

Bagi mahasiswa, magang ini memberi pengalaman riset di lingkungan laboratorium berstandar nasional serta kesempatan berlatih menggunakan peralatan dan metode yang belum tentu tersedia di kampus. Bagi BRIN, keterlibatan mahasiswa membantu mengeksplorasi pemanfaatan biomassa sawit sebagai bahan fungsional, sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia riset dan perguruan tinggi.

Iklan

“Kami berharap dari penelitian ini dapat dikembangkan teknologi alternatif dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang bisa diimplementasikan secara nyata.,” ujar Pak Tola, Peneliti Pusat Riset Fotonika.

Meski masih dalam tahap penelitian, inovasi ini menunjukkan bahwa solusi atas persoalan lingkungan tidak selalu datang dari teknologi yang rumit dan mahal. Terkadang, jawabannya ada pada limbah yang selama ini luput dari perhatian.

Atas terlaksananya kegiatan ini, Azizah Salsabila Hapsari Sutrisno Putri, Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menyampaikan terima kasih kepada BRIN, khususnya Pusat Riset Fotonika, serta kepada Bapak Pardi Sampe Tola, Ph.D. dan Bapak Dr. Allif Rosyidy Hilmi, S.Si., M.Si. atas bimbingan dan kesempatan yang diberikan. “Magang di BRIN menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya. Saya belajar banyak hal baru, mulai dari cara kerja di laboratorium riset yang sesungguhnya sampai bagaimana proses sebuah penelitian dijalankan dari awal sampai akhir. Semoga ilmu yang saya dapat di sini bisa terus saya kembangkan, dan penelitian ini bisa memberi manfaat yang lebih besar ke depannya.,” pungkasnya.

Penulis: Azizah Salsabila Hapsari Sutrisno Putri

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.