Langsung ke konten
Sabtu, 10 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Pendidikan

Fakultas Syariah UIN Malang Gelar Workshop Muslim Kaya dan Bahagia, 20 Mahasiswa Ditawari Peluang Bisnis

20 mahasiswa Fakultas Syariah UIN Malang ditawari peluang bisnis dalam workshop Muslim Kaya dan Bahagia, Sabtu (10/10).

Fakultas Syariah UIN Malang menggelar workshop Muslim Kaya dan Bahagia, Sabtu (10/10), 20 mahasiswa ditawari peluang bisnis./dok.UIN Malang

Fakultas Syariah UIN Malang menggelar workshop Muslim Kaya dan Bahagia, Sabtu (10/10), 20 mahasiswa ditawari peluang bisnis./dok.UIN Malang

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Workshop Kekuatan Mindset: Menjadi Muslim Kaya dan Bahagia di Gedung D lantai 2, Ruang D203–D204, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Unit Pengabdian dan Kewirausahaan Fakultas Syariah ini diikuti ratusan mahasiswa.

Selain memberikan motivasi kewirausahaan, workshop tersebut juga membuka peluang bagi 20 mahasiswa untuk belajar dan menjalankan bisnis secara langsung dengan pendampingan praktisi.

Baca juga: Terjebak Skripsi dan TikTok: Ketika Mahasiswa Mulai Cemas Menatap Masa Depan

Fakultas Syariah UIN Malang

Workshop Muslim Kaya dan Bahagia

Workshop ini menghadirkan dua narasumber, yang pertama Dr. H. Raden Djoni Sudjatmoko, S.E., M.M., Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Malang sekaligus pemilik NK Cafe Malang.

Kemudian, Dr. Abdul Aziz, M.H.I., praktisi bisnis dan dosen Fakultas Syariah.

Kegiatan ini juga dipandu oleh dosen Fakultas Syariah, Jumriyah, S.S., M.Pd.I.

Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN Malang, Miftahul Huda (di podium) dalam Workshop Muslim Kaya dan Bahagia, Sabtu (10/10)./dok.UIN Malang
Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN Malang, Miftahul Huda (di podium) dalam Workshop Muslim Kaya dan Bahagia, Sabtu (10/10)./dok.UIN Malang

Wakil Dekan III Fakultas Syariah, Dr. H. Miftahul Huda, dalam sambutannya mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh inspirasi sekaligus mengembangkan pola pikir dan keterampilan yang mendukung kemandirian ekonomi.

Ia menegaskan bahwa menjadi kaya dan bahagia tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta. Tetapi juga ditentukan oleh pola pikir, kerja keras, integritas, rasa syukur, serta kemampuan mengelola rezeki secara bertanggung jawab.

Lanjutnya, Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya.

Sebaliknya, kekayaan dapat menjadi sarana untuk memperluas kebaikan dan memberikan manfaat kepada sesama, selama diperoleh melalui cara yang halal dan dikelola secara bertanggung jawab.

Karena itu, Miftahul Huda berharap mahasiswa mampu membangun pola pikir positif, berani menangkap peluang, terus meningkatkan kompetensi, dan memiliki semangat untuk mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Iklan

Ia juga menekankan agar workshop tersebut tidak berhenti pada pemberian motivasi, tetapi mampu mendorong perubahan nyata dalam pola pikir, sikap, dan tindakan mahasiswa.

Kekayaan sebagai Jalan Memperluas Manfaat

Dalam pemaparannya, Dr. Abdul Aziz menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi dan menjadikan kekayaan sebagai sarana untuk memperluas manfaat sosial.

Ia mengangkat konsep sedekah jariyah sebagai salah satu bentuk kontribusi berkelanjutan yang dapat dilakukan seseorang melalui sumber daya yang dimilikinya.

Abdul Aziz juga mengulas praktik bisnis Rasulullah Muhammad SAW dan peran Khadijah dalam mendukung perjalanan usaha Nabi.

Selain itu, ia mencontohkan wakaf Umar bin Khattab atas tanah di Khaibar sebagai gambaran pemanfaatan kekayaan untuk kepentingan umat.

Menurutnya, mahasiswa perlu membangun pola pikir mandiri dan tidak terus-menerus bergantung pada orang lain.

Kemandirian dapat dimulai dengan memanfaatkan sumber daya yang telah dimiliki, termasuk waktu, pengetahuan, dan kemampuan, sembari terus belajar serta mengembangkan potensi diri.

Ikhtiar, Perencanaan, dan Keberanian Memulai Bisnis

Sementara itu, Dr. H. Djoni Sudjatmoko mengajak mahasiswa memahami pentingnya ikhtiar, doa, dan perencanaan yang matang dalam meraih kesejahteraan.

Ia menekankan bahwa setiap orang perlu memiliki visi dan misi yang jelas sebelum menjalankan program atau memulai usaha.

Dalam membangun bisnis, mahasiswa perlu menetapkan sasaran yang terukur, melakukan perhitungan secara terperinci, serta menyusun strategi pemasaran yang tepat.

Menurutnya, pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut penting agar peluang usaha dapat dimanfaatkan secara optimal dan bisnis memiliki prospek keuntungan yang jelas.

Djoni juga menguraikan filosofi berenang, berkuda, dan memanah sebagai prinsip dalam membangun kemandirian.

Berenang dimaknai sebagai dorongan untuk terus bergerak dan tidak mudah menyerah.

Berkuda menggambarkan pentingnya kemampuan mengendalikan diri, kecerdasan emosional, serta membangun tim yang solid.

Adapun memanah menekankan pentingnya fokus terhadap sasaran yang ingin dicapai.

Ia menegaskan bahwa kemandirian ekonomi perlu dibangun sejak mahasiswa masih menempuh pendidikan.

Mahasiswa, menurutnya, harus berani belajar menghasilkan pendapatan sendiri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan finansial kepada orang tua.

Iklan

“Mahasiswa harus mulai mandiri dan tidak meminta uang lagi kepada orang tua,” ujar Djoni.

“Saya dulu sejak SMA sudah mandiri, bahkan sudah punya usaha tambal ban. Saya tidak malu kepada siapa pun karena saya ingin belajar mandiri. Saya juga pernah jadi dosen di Perguruan Tinggi Kota Malang,” ungkap Abah Joni—sapaannya—lagi.

Tawarkan Peluang Bisnis kepada 20 Mahasiswa

Tidak hanya menyampaikan motivasi, Djoni juga menawarkan kesempatan kepada 20 mahasiswa peserta workshop untuk belajar dan terjun langsung ke dunia bisnis di tempat usahanya.

Ia menyatakan kesediaannya untuk mendampingi mahasiswa yang ingin memulai usaha, termasuk dengan mengambil peran sebagai offtaker dan penjamin.

“Saya menawarkan kepada 20 mahasiswa di ruangan ini untuk berbisnis di tempat saya. Nanti saya yang menjadi offtaker dan penjaminnya. Nanti bisa hubungi saya kalau sudah siap,” ujarnya.

Tawaran tersebut menjadi bentuk dukungan konkret bagi mahasiswa agar tidak hanya mempelajari teori kewirausahaan. Tetapi juga memperoleh pengalaman praktis dalam menjalankan bisnis.

Bagi mahasiswa yang belum memiliki pengalaman atau merasa belum siap merintis usaha sendiri, Djoni mendorong mereka untuk terlebih dahulu belajar melalui program magang.

Dalam penyampaian materi, Djoni juga membangun interaksi dengan peserta melalui sesi tanya jawab.

Mahasiswa yang berhasil menjawab pertanyaannya memperoleh hadiah berupa buku karyanya yang berjudul Ekonomi Pancasila. Sebuah Gerakan Peradaban Menata Indonesia.

Manfaat Workshop

Mahasiswa Punya 4 Hal

Melalui workshop ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami pentingnya pola pikir seorang muslim dalam meraih kesuksesan ekonomi. Tetapi, juga terdorong untuk meningkatkan kompetensi, berani mengambil peluang, dan mulai membangun kemandirian sejak dini.

Dengan empat hal itu, keberhasilan finansial diharapkan dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam serta komitmen untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.(MFT)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.