MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang menggelar Musyawarah Kerja (Musker) III dan Rapat Pleno PCNU Kabupaten Malang Tahun 2026. Forum tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan program, rekomendasi, dan langkah strategis untuk memperkuat khidmah Nahdlatul Ulama kepada umat dan masyarakat.
Musker III yang digelar di Al-Munawwariyah tersebut diikuti jajaran pengurus dan unsur organisasi NU. Rangkaian kegiatan diawali seremoni pembukaan pukul 09.00–10.30 WIB, kemudian dilanjutkan Sidang Pleno I dengan agenda pembahasan tata tertib Musker.
Tuan rumah KH. Muhammad Fahim Maftuh pengasuh Pesantren Al Munawariyah Bululawang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Musker III di Al-Munawwariyah.
Baca juga: Dihadiri Ning Fitri, Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan Resmikan Gedung MWCNU Tosari

Menurutnya, Al-Munawwariyah sejak awal telah mendedikasikan sumber daya manusianya untuk Nahdlatul Ulama. Karena itu, penyelenggaraan Musker III di lingkungan Al-Munawwariyah menjadi salah satu bentuk pengabdian lembaga tersebut kepada NU.
“Al-Munawwariyah sangat bahagia bisa menerima kehadiran para peserta Musker. Sejak semula Al-Munawwariyah sudah mendedikasikan seluruh kekayaan SDM untuk Nahdlatul Ulama. Oleh sebab itu, kegiatan Musker III di Al-Munawwariyah merupakan bukti bakti Al-Munawwariyah kepada Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan sejarah kontribusi para santri kepada PCNU. Sejak masa muassis, menurutnya, para santri telah memberikan sumbangsih kepada organisasi, meskipun dalam empat tahun terakhir kontribusi tersebut dialihkan melalui Majelis Wakil Cabang (MWC) NU.
Masa Penghidupan Kembali Organisasi

KH. Khamim Kholili, Ketua Tanfidziah dalam sambutan menyebut periode kepengurusan saat ini sebagai masa penghidupan kembali organisasi. Ia menilai NU di Kabupaten Malang mulai bergerak melalui kolaborasi berbagai unsur.
“Selama periode ini adalah masa penghidupan kembali. Kelihatannya sudah mulai bergerak secara berkolaborasi,” ujarnya.
Musker III, lanjutnya, juga menjadi ruang untuk membahas sejumlah draft yang nantinya akan menjadi bahan dalam Konferensi PCNU Kabupaten Malang yang direncanakan berlangsung pada November mendatang.
Ia menekankan pentingnya menjalankan amanat hasil Muktamar NU di Jombang, khususnya mengenai penguatan organisasi berbasis data dan indikator yang jelas.
“Hasil Muktamar yang paling penting adalah semua berbasis data dan memiliki indikator,” tegasnya.
Gus Firjon Tekankan NU Harus Berbasis Kepentingan Organisasi
Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Timur Gus Firjon dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh hasil Musker III harus berpijak pada kepentingan Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, termasuk rekomendasi yang ditujukan kepada pihak eksternal harus tetap memiliki nuansa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Ia menyoroti keberadaan ASWAJA Centre di Jawa Timur yang saat ini bersifat ad hoc. Menurutnya, lembaga tersebut memiliki posisi penting di tengah berkembangnya berbagai organisasi yang juga menggunakan identitas Aswaja.
“ASWAJA Centre menjadi penting karena belakangan sudah mulai banyak berkembang organisasi yang mengatasnamakan ASWAJA. Itu sebabnya ASWAJA Centre perlu untuk memastikan ASWAJA al-Nahdliyyah yang membedakan dari ASWAJA yang lain,” jelasnya.
Dengan adanya rujukan tersebut, ia berharap seluruh perangkat NU, badan otonom maupun lembaga tidak berjalan dengan interpretasi masing-masing.
“NU, BANOM tinggal melanjutkan apa yang sudah diputuskan melalui ASWAJA Centre,” katanya.
Memasuki Abad Kedua, Kualitas NU Harus Ditingkatkan
Gus Firjon juga mengingatkan bahwa memasuki abad kedua NU, peningkatan kualitas harus dilakukan, baik pada tingkat personal maupun jam’iyah.
Secara personal, setiap kader dan warga NU diharapkan terus melakukan perbaikan diri, terutama dalam hal kedalaman spiritual dan keikhlasan dalam mengabdi kepada jam’iyah.
Sementara secara kelembagaan, NU harus terus melakukan pembenahan agar cita-cita para muassis dapat diwujudkan.
Ia kemudian menggunakan perumpamaan antara NU dan balon untuk menggambarkan pentingnya menjaga posisi dan arah organisasi.
“NU adalah patok, parpol, akademisi, pengusaha adalah balon yang terus berusaha agar terus membumbung tinggi. NU sebagai patok tidak boleh mengikuti arah balon. Sebab, jika patok ikut balon, tentu saja semuanya akan kehilangan arah secara bersama-sama,” tuturnya.
Gus Firjon menegaskan bahwa PWNU Jawa Timur tidak bersikap antipati terhadap politik. Namun, ia menekankan pentingnya NU kembali pada garis dasar organisasi atau Qanun Asasi.
“Saya sudah pernah terjun ke dunia politik, tapi saat ini saya kembali menjadi NU sehingga saya tahu bahwa NU harus benar-benar kembali pada Qanun Asasi,” katanya.
Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa NU akan tetap terjaga selama seluruh pengurus dan kader terus berpegang pada nilai-nilai yang diwariskan para muassis.
“Saya yakin bahwa NU diawasi oleh para muassis sehingga NU akan terjaga. Kita yang mengabdi dalam NU semoga mendapatkan barokah dan manfaat,” ujarnya.
Penguatan Ranting dan Kemandirian NU
Salah satu pesan penting yang disampaikan Gus Firjon adalah perlunya memperkuat struktur NU hingga tingkat ranting.
Menurutnya, ranting merupakan wajah NU yang paling dekat dengan masyarakat sehingga penguatannya tidak bisa lagi ditunda.
“Penguatan ranting sangat penting karena ranting adalah wajah NU terbawah. Oleh karena itu, penguatan ranting NU adalah keniscayaan dan tidak bisa ditunda lagi,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar lembaga dan badan otonom yang ada di tingkat ranting segera dimanfaatkan untuk mendukung pendataan organisasi yang valid.
Pendataan tersebut dinilai penting agar pengambilan kebijakan dan pelaksanaan program NU benar-benar berdasarkan kondisi riil di lapangan.
Selain penguatan struktur, kemandirian NU juga menjadi perhatian. Gus Firjon menyebut kemandirian, baik secara materiil maupun dalam menentukan kebijakan organisasi, merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
“Kemandirian NU sangat penting, baik secara materiil maupun kebijakan. Ini sesuatu yang tidak bisa ditawarkan lagi,” katanya.
NU Semakin Luas Mengabdi kepada Umat
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa kiprah NU saat ini telah berkembang jauh dibandingkan masa lalu.
Jika dahulu kegiatan NU lebih banyak dikenal melalui kegiatan tahlil dan tahlil akbar, kini peran NU semakin luas dalam membimbing masyarakat, baik secara lahir maupun batin.
Perkembangan tersebut tidak lepas dari semakin beragamnya latar belakang warga NU. Generasi NU tidak hanya berasal dari kalangan pesantren, tetapi juga melibatkan akademisi, politisi, pengusaha, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
NU dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk terus mengambil peran dalam pembangunan dan penguatan masyarakat.
Hadir Bupati Malang Sanusi menyampaikan di Kabupaten Malang, nilai-nilai keagamaan juga terus didorong melalui berbagai program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Salah satunya adalah pembiasaan membaca Al-Qur’an dan berdoa di sekolah. Di Kabupaten Malang, mulai jenjang TK hingga SMP, peserta didik dibiasakan membaca Al-Qur’an dan berdoa sebelum memasuki pembelajaran.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi keagamaan sekaligus membangun karakter generasi muda.
Suling dan Kolaborasi Pengentasan Kemiskinan
Selain pendidikan keagamaan, Bupati Malang H Sanusi menyampaikan bahwa Kabupaten Malang juga menjalankan program Shalat Subuh Keliling atau Suling yang telah berlangsung sejak awal periode hingga saat ini.
Program tersebut menjadi salah satu ruang silaturahmi dan penguatan spiritual masyarakat.
Dalam bidang sosial, terdapat pula harapan agar Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Malang dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam membantu penyelesaian persoalan kemiskinan.
Kolaborasi antara Baznas dan LAZISNU juga dinilai dapat terus dikembangkan. Sejumlah praktik kolaborasi, termasuk yang telah berjalan di Gedangan dan wilayah lainnya, diharapkan dapat menjadi contoh untuk memperluas manfaat kepada masyarakat.
Tiga Komisi Bahas Agenda Strategis

Setelah pembukaan, peserta Musker mengikuti Sidang Pleno I pada pukul 10.30–11.30 WIB di Ruang Utama. Pada waktu yang sama, Rapat Pleno PCNU Kabupaten Malang Tahun 2026 dilaksanakan di Ruang Kelas C.
Usai jeda ishoma pukul 11.30–12.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan sidang komisi pukul 12.30–14.30 WIB.
Sidang dibagi menjadi tiga komisi, yakni Komisi Organisasi, Komisi Rekomendasi, dan Komisi Program.
Komisi Organisasi yang berlangsung di Ruang Kelas A membahas berbagai aspek kelembagaan, tata kelola, serta penguatan struktur organisasi.
Sementara Komisi Rekomendasi di Ruang Kelas B membahas rekomendasi strategis yang berkaitan dengan persoalan keumatan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.
Adapun Komisi Program yang berlangsung di Ruang Utama membahas berbagai program kerja yang akan menjadi pijakan pelaksanaan kegiatan PCNU Kabupaten Malang ke depan.
Hasil pembahasan dari ketiga komisi selanjutnya dibawa ke Sidang Pleno II pada pukul 14.30–15.30 WIB untuk dibahas dan dirumuskan menjadi hasil Musker.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui seremoni penutupan pada pukul 15.30–16.00 WIB.
Musker III PCNU Kabupaten Malang Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum administratif organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi, memperbaiki tata kelola berbasis data, memperkuat ranting, menjaga kemandirian organisasi, serta memastikan program NU semakin dekat dengan kebutuhan warga Nahdliyin dan masyarakat.
Hasil Musker juga akan menjadi salah satu bahan penting dalam menyiapkan agenda Konferensi PCNU Kabupaten Malang yang direncanakan berlangsung pada November 2026.
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang menggelar Musyawarah Kerja (Musker) III dan Rapat Pleno PCNU Kabupaten Malang Tahun 2026. Forum tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan program, rekomendasi, dan langkah strategis untuk memperkuat khidmah Nahdlatul Ulama kepada umat dan masyarakat.
Musker III yang digelar di Al-Munawwariyah tersebut diikuti jajaran pengurus dan unsur organisasi NU. Rangkaian kegiatan diawali seremoni pembukaan pukul 09.00–10.30 WIB, kemudian dilanjutkan Sidang Pleno I dengan agenda pembahasan tata tertib Musker.
Tuan rumah KH. Muhammad Fahim Maftuh pengasuh Pesantren Al Munawariyah Bululawang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Musker III di Al-Munawwariyah.
Menurutnya, Al-Munawwariyah sejak awal telah mendedikasikan sumber daya manusianya untuk Nahdlatul Ulama. Karena itu, penyelenggaraan Musker III di lingkungan Al-Munawwariyah menjadi salah satu bentuk pengabdian lembaga tersebut kepada NU.
“Al-Munawwariyah sangat bahagia bisa menerima kehadiran para peserta Musker. Sejak semula Al-Munawwariyah sudah mendedikasikan seluruh kekayaan SDM untuk Nahdlatul Ulama. Oleh sebab itu, kegiatan Musker III di Al-Munawwariyah merupakan bukti bakti Al-Munawwariyah kepada Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan sejarah kontribusi para santri kepada PCNU. Sejak masa muassis, menurutnya, para santri telah memberikan sumbangsih kepada organisasi, meskipun dalam empat tahun terakhir kontribusi tersebut dialihkan melalui Majelis Wakil Cabang (MWC) NU.
Masa Penghidupan Kembali Organisasi
KH. Khamim Kholili, Ketua Tanfidziah dalam sambutan menyebut periode kepengurusan saat ini sebagai masa penghidupan kembali organisasi. Ia menilai NU di Kabupaten Malang mulai bergerak melalui kolaborasi berbagai unsur.
“Selama periode ini adalah masa penghidupan kembali. Kelihatannya sudah mulai bergerak secara berkolaborasi,” ujarnya.
Musker III, lanjutnya, juga menjadi ruang untuk membahas sejumlah draft yang nantinya akan menjadi bahan dalam Konferensi PCNU Kabupaten Malang yang direncanakan berlangsung pada November mendatang.
Ia menekankan pentingnya menjalankan amanat hasil Muktamar NU di Jombang, khususnya mengenai penguatan organisasi berbasis data dan indikator yang jelas.
“Hasil Muktamar yang paling penting adalah semua berbasis data dan memiliki indikator,” tegasnya.
Gus Firjon Tekankan NU Harus Berbasis Kepentingan Organisasi
Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Timur Gus Firjon dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh hasil Musker III harus berpijak pada kepentingan Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, termasuk rekomendasi yang ditujukan kepada pihak eksternal harus tetap memiliki nuansa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Ia menyoroti keberadaan ASWAJA Centre di Jawa Timur yang saat ini bersifat ad hoc. Menurutnya, lembaga tersebut memiliki posisi penting di tengah berkembangnya berbagai organisasi yang juga menggunakan identitas Aswaja.
“ASWAJA Centre menjadi penting karena belakangan sudah mulai banyak berkembang organisasi yang mengatasnamakan ASWAJA. Itu sebabnya ASWAJA Centre perlu untuk memastikan ASWAJA al-Nahdliyyah yang membedakan dari ASWAJA yang lain,” jelasnya.
Dengan adanya rujukan tersebut, ia berharap seluruh perangkat NU, badan otonom maupun lembaga tidak berjalan dengan interpretasi masing-masing.
“NU, BANOM tinggal melanjutkan apa yang sudah diputuskan melalui ASWAJA Centre,” katanya.
Memasuki Abad Kedua, Kualitas NU Harus Ditingkatkan
Gus Firjon juga mengingatkan bahwa memasuki abad kedua NU, peningkatan kualitas harus dilakukan, baik pada tingkat personal maupun jam’iyah.
Secara personal, setiap kader dan warga NU diharapkan terus melakukan perbaikan diri, terutama dalam hal kedalaman spiritual dan keikhlasan dalam mengabdi kepada jam’iyah.
Sementara secara kelembagaan, NU harus terus melakukan pembenahan agar cita-cita para muassis dapat diwujudkan.
Ia kemudian menggunakan perumpamaan antara NU dan balon untuk menggambarkan pentingnya menjaga posisi dan arah organisasi.
“NU adalah patok, parpol, akademisi, pengusaha adalah balon yang terus berusaha agar terus membumbung tinggi. NU sebagai patok tidak boleh mengikuti arah balon. Sebab, jika patok ikut balon, tentu saja semuanya akan kehilangan arah secara bersama-sama,” tuturnya.
Gus Firjon menegaskan bahwa PWNU Jawa Timur tidak bersikap antipati terhadap politik. Namun, ia menekankan pentingnya NU kembali pada garis dasar organisasi atau Qanun Asasi.
“Saya sudah pernah terjun ke dunia politik, tapi saat ini saya kembali menjadi NU sehingga saya tahu bahwa NU harus benar-benar kembali pada Qanun Asasi,” katanya.
Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa NU akan tetap terjaga selama seluruh pengurus dan kader terus berpegang pada nilai-nilai yang diwariskan para muassis.
“Saya yakin bahwa NU diawasi oleh para muassis sehingga NU akan terjaga. Kita yang mengabdi dalam NU semoga mendapatkan barokah dan manfaat,” ujarnya.
Penguatan Ranting dan Kemandirian NU
Salah satu pesan penting yang disampaikan Gus Firjon adalah perlunya memperkuat struktur NU hingga tingkat ranting.
Menurutnya, ranting merupakan wajah NU yang paling dekat dengan masyarakat sehingga penguatannya tidak bisa lagi ditunda.
“Penguatan ranting sangat penting karena ranting adalah wajah NU terbawah. Oleh karena itu, penguatan ranting NU adalah keniscayaan dan tidak bisa ditunda lagi,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar lembaga dan badan otonom yang ada di tingkat ranting segera dimanfaatkan untuk mendukung pendataan organisasi yang valid.
Pendataan tersebut dinilai penting agar pengambilan kebijakan dan pelaksanaan program NU benar-benar berdasarkan kondisi riil di lapangan.
Selain penguatan struktur, kemandirian NU juga menjadi perhatian. Gus Firjon menyebut kemandirian, baik secara materiil maupun dalam menentukan kebijakan organisasi, merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
“Kemandirian NU sangat penting, baik secara materiil maupun kebijakan. Ini sesuatu yang tidak bisa ditawarkan lagi,” katanya.
NU Semakin Luas Mengabdi kepada Umat
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa kiprah NU saat ini telah berkembang jauh dibandingkan masa lalu.
Jika dahulu kegiatan NU lebih banyak dikenal melalui kegiatan tahlil dan tahlil akbar, kini peran NU semakin luas dalam membimbing masyarakat, baik secara lahir maupun batin.
Perkembangan tersebut tidak lepas dari semakin beragamnya latar belakang warga NU. Generasi NU tidak hanya berasal dari kalangan pesantren, tetapi juga melibatkan akademisi, politisi, pengusaha, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
NU dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk terus mengambil peran dalam pembangunan dan penguatan masyarakat.
Hadir Bupati Malang Sanusi menyampaikan di Kabupaten Malang, nilai-nilai keagamaan juga terus didorong melalui berbagai program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Salah satunya adalah pembiasaan membaca Al-Qur’an dan berdoa di sekolah. Di Kabupaten Malang, mulai jenjang TK hingga SMP, peserta didik dibiasakan membaca Al-Qur’an dan berdoa sebelum memasuki pembelajaran.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi keagamaan sekaligus membangun karakter generasi muda.
Suling dan Kolaborasi Pengentasan Kemiskinan
Selain pendidikan keagamaan, Bupati Malang H Sanusi menyampaikan bahwa Kabupaten Malang juga menjalankan program Shalat Subuh Keliling atau Suling yang telah berlangsung sejak awal periode hingga saat ini.
Program tersebut menjadi salah satu ruang silaturahmi dan penguatan spiritual masyarakat.
Dalam bidang sosial, terdapat pula harapan agar Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Malang dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam membantu penyelesaian persoalan kemiskinan.
Kolaborasi antara Baznas dan LAZISNU juga dinilai dapat terus dikembangkan. Sejumlah praktik kolaborasi, termasuk yang telah berjalan di Gedangan dan wilayah lainnya, diharapkan dapat menjadi contoh untuk memperluas manfaat kepada masyarakat.
Tiga Komisi Bahas Agenda Strategis
Setelah pembukaan, peserta Musker mengikuti Sidang Pleno I pada pukul 10.30–11.30 WIB di Ruang Utama. Pada waktu yang sama, Rapat Pleno PCNU Kabupaten Malang Tahun 2026 dilaksanakan di Ruang Kelas C.
Usai jeda ishoma pukul 11.30–12.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan sidang komisi pukul 12.30–14.30 WIB.
Sidang dibagi menjadi tiga komisi, yakni Komisi Organisasi, Komisi Rekomendasi, dan Komisi Program.
Komisi Organisasi yang berlangsung di Ruang Kelas A membahas berbagai aspek kelembagaan, tata kelola, serta penguatan struktur organisasi.
Sementara Komisi Rekomendasi di Ruang Kelas B membahas rekomendasi strategis yang berkaitan dengan persoalan keumatan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.
Adapun Komisi Program yang berlangsung di Ruang Utama membahas berbagai program kerja yang akan menjadi pijakan pelaksanaan kegiatan PCNU Kabupaten Malang ke depan.
Hasil pembahasan dari ketiga komisi selanjutnya dibawa ke Sidang Pleno II pada pukul 14.30–15.30 WIB untuk dibahas dan dirumuskan menjadi hasil Musker.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui seremoni penutupan pada pukul 15.30–16.00 WIB.
Musker III PCNU Kabupaten Malang Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum administratif organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi, memperbaiki tata kelola berbasis data, memperkuat ranting, menjaga kemandirian organisasi, serta memastikan program NU semakin dekat dengan kebutuhan warga Nahdliyin dan masyarakat.
Hasil Musker juga akan menjadi salah satu bahan penting dalam menyiapkan agenda Konferensi PCNU Kabupaten Malang yang direncanakan berlangsung pada November 2026.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.