MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., mengingatkan mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) agar tidak menjadikan pendidikan tinggi sekadar jalan untuk meraih nilai, gelar, maupun kelulusan.
Menurutnya, proses mencari ilmu di perguruan tinggi harus memiliki orientasi yang lebih dalam, yakni memperoleh ilmu yang membawa keberkahan, membentuk akhlak, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat memberikan penguatan kepada mahasiswa baru Unisma, Jumat, 2 Oktober 2026, di Kampus Unisma, Jalan Mayjen Haryono, Kota Malang.
Nasaruddin menekankan pentingnya menata niat sejak awal seseorang memasuki dunia perguruan tinggi. Dalam tradisi keilmuan Islam, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai metodologi dan pengetahuan akademik, tetapi juga memahami untuk apa ilmu tersebut dicari.
“Yang kita cari bukan saja ilmunya dosen, tapi ilmunya Allah. Metodologi untuk mendapatkan ilmunya dosen untuk lulus jadi guru, lain jika yang kita cari ilmunya Allah untuk mendapatkan keberkahan,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, mahasiswa memang mendapatkan pengetahuan melalui dosen, guru, teori, buku, penelitian, maupun berbagai proses akademik. Namun, ilmu tersebut hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan intelektual.
Ilmu, kata dia, harus memberikan dampak terhadap kehidupan, baik dalam bentuk hikmah, akhlak, kesadaran spiritual maupun kebermanfaatan bagi masyarakat.
Belajar dari Misi Rasulullah
Dalam memberikan penguatan kepada mahasiswa, Nasaruddin juga mengaitkan pentingnya ilmu dengan QS Al-Baqarah ayat 151. Ayat tersebut menggambarkan misi Rasulullah SAW, antara lain membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan manusia, mengajarkan Al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.
Ia kemudian menjelaskan penggunaan fi’il mudhari’ dalam bahasa Arab yang dapat menunjukkan aktivitas yang berlangsung pada masa sekarang maupun masa mendatang.
“Fi’il mudhari’ itu kata kerja untuk menggambarkan peristiwa sekarang dan akan datang. Tenses-nya present tense kalau dalam bahasa Inggris,” jelasnya.
Menurut Nasaruddin, penggunaan bentuk bahasa tersebut memberikan dimensi penting dalam memahami misi Rasulullah Muhammad SAW. Risalah Nabi tidak hanya berkaitan dengan satu masa, tetapi memiliki relevansi yang terus berlangsung dalam kehidupan manusia.
Dalam konteks pendidikan, ia menilai proses mencari ilmu juga harus menjadi proses pembentukan manusia secara utuh.
Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga diharapkan memiliki hikmah, akhlak, kesadaran spiritual, serta kemampuan mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan.
Nasaruddin juga menyinggung kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia yang menerima wahyu Allah SWT.
“Dia manusia biasa, tapi tidak seperti manusia biasa,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa dalam perspektif Islam, ilmu tidak dapat dilepaskan dari hubungan manusia dengan Allah SWT sebagai sumber ilmu.
Rektor Unisma: Tatalah Niat Sejak Awal
Pesan Menteri Agama tersebut mendapat penekanan dari Rektor Unisma Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D.
Junaidi mengatakan, nasihat Nasaruddin sangat relevan dengan karakter Unisma sebagai perguruan tinggi yang didirikan oleh para ulama dan memiliki akar kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, sejak awal Unisma tidak hanya diarahkan menjadi tempat memperoleh ilmu dan gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga nilai, tradisi, keteladanan dan keberkahan.
“Unisma itu sebagai institusi yang didirikan oleh para ulama. Jadi bukan sekadar untuk mencari ilmu, tetapi ada keberkahan di sana. Oleh karena itu beliau menyarankan, tatalah niat,” ujar Junaidi.
Ia menilai mahasiswa perlu memahami bahwa proses belajar di Unisma tidak hanya berlangsung melalui interaksi dengan dosen di ruang kelas.
Para mahasiswa juga dapat belajar dari sejarah, perjuangan, pemikiran dan semangat para pendiri Unisma.
“Sebagai institusi Nahdlatul Ulama, beliau menyarankan juga bahwa dalam belajar, guru tidak hanya dosen yang hadir, tetapi guru bisa juga para pendiri Unisma. Belajar dari semangat beliau, ilmu beliau, termasuk tadi menyebutkan Profesor Kiai Tolhah Hasan,” kata Junaidi.
Karena itu, menurut Junaidi, penguatan nilai dan penataan niat penting diberikan sejak mahasiswa memulai perjalanan akademiknya.
Ia berharap mahasiswa baru Unisma, baik jenjang S1, S2, S3 maupun mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dapat menjalani pendidikan dengan niat yang benar sehingga keberhasilan akademik berjalan seiring dengan pembentukan karakter.
“Insyaallah dengan penguatan tadi mahasiswa pasca Unisma, S1, S2, dan juga mahasiswa rekognisi pembelajaran lampau sudah tertata niatnya. Insyaallah kami akan mengantarkan mahasiswa-mahasiswa baru untuk bisa sukses,” tuturnya.
Unisma Siapkan Tiga Program Studi Baru

Dalam kesempatan tersebut, Junaidi juga mengungkapkan perkembangan akademik Unisma yang saat ini tengah memproses tiga program studi baru.
Ketiganya yakni Program Studi Doktor Ilmu Pemerintahan, Doktor Pendidikan Bahasa Inggris, dan Magister Akuntansi.
“Ada tiga program lagi yang disubmit. Program studi yang sedang berproses itu ada Program Studi Doktor Ilmu Pemerintahan, kemudian Doktor Pendidikan Bahasa Inggris, dan juga Magister Akuntansi yang sedang berproses,” ungkapnya.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya Unisma memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kapasitas akademik di berbagai bidang keilmuan.
Sementara itu, kegiatan penguatan mahasiswa baru tersebut diikuti sekitar 810 mahasiswa.
Sebagian mahasiswa RPL mengikuti kegiatan secara daring karena merupakan mahasiswa yang telah bekerja. Sedangkan mahasiswa S2 dan S3 mengikuti kegiatan secara langsung di kampus.
“Total itu 810, cuma memang terutama yang RPL mengikuti secara online. Mahasiswa S2, S3 yang hadir secara fisik, karena mahasiswa yang RPL itu adalah mahasiswa yang sudah bekerja,” jelas Junaidi.
Junaidi menambahkan, agenda yang semula direncanakan berlangsung pada Sabtu dimajukan menjadi Jumat agar dapat menyesuaikan dengan agenda Menteri Agama yang berkesempatan hadir memberikan penguatan secara langsung kepada mahasiswa.
Bagi Unisma, kehadiran Menteri Agama tersebut menjadi momentum untuk kembali meneguhkan orientasi pendidikan tinggi yang tidak hanya mengejar capaian akademik.
Pesan Nasaruddin Umar menempatkan ilmu dalam dimensi yang lebih luas: ilmu yang dicari dengan niat yang benar, dipahami dengan hikmah, diwujudkan dalam akhlak, kemudian diamalkan agar memberikan manfaat bagi kehidupan.
Dengan demikian, perjalanan mahasiswa di perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti ketika memperoleh ijazah dan gelar, tetapi berlanjut menjadi amal dan kebermanfaatan di tengah masyarakat.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.