Langsung ke konten
Jumat, 25 September 2026
Headline Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Nasional

Akademisi Indonesia dan Australia Bahas Masa Depan Islam Indonesia di Canberra

Masa depan Islam Indonesia menjadi perhatian akademisi dari berbagai negara dalam International Colloquium: The Futures of Indonesian Islam yang digelar di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, Kamis (17/9/2026).

Dua dosen UIN Malang, Dr. Jamilah dan Dr. Devi Pramitha, memaparkan riset mengenai kesetaraan gender dalam pernikahan Muslim di Jawa Timur pada forum bergengsi International Colloquium on the Future of Indonesian Islam yang berlangsung di Australian National University (ANU), Canberra, Australia.

Dua dosen UIN Malang, Dr. Jamilah dan Dr. Devi Pramitha, memaparkan riset mengenai kesetaraan gender dalam pernikahan Muslim di Jawa Timur pada forum bergengsi International Colloquium on the Future of Indonesian Islam yang berlangsung di Australian National University (ANU), Canberra, Australia. (Foto: Humas UIN Malang)

CANBERRA | JATIMSATUNEWS.COM: Masa depan Islam Indonesia menjadi perhatian akademisi dari berbagai negara dalam International Colloquium: The Futures of Indonesian Islam yang digelar di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, Kamis (17/9/2026). Forum yang menjadi bagian dari Indonesia Update 2026 Side Event tersebut mempertemukan akademisi dan peneliti dari Indonesia, Australia, serta kawasan Asia Tenggara untuk membahas berbagai perkembangan Islam Indonesia dari perspektif sosial, budaya, pendidikan, gender, otoritas keagamaan, hingga ekonomi.

Kolokium ini digagas dan diselenggarakan oleh Eva F. Nisa dari Australian National University (ANU) dan Farid F. Saenong dari Islamic and Global Challenges (IGC), Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Rangkaian kegiatan dibuka dengan opening remarks oleh Matt Tomlinson dari ANU, dilanjutkan dengan keynote oleh James Fox. Agenda kemudian berlanjut dalam sejumlah sesi yang menghadirkan pembicara dari berbagai universitas dan lembaga riset internasional. Pada sesi pertama, diskusi mengangkat sejumlah isu penting, antara lain fenomena berkembangnya kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dinamika otoritas Islam di Bima, serta aktivitas pendakwah Muslim Indonesia di kawasan regional. Sementara sesi kedua membahas masyarakat Muslim Indonesia, sosiologi Islam, diplomasi keagamaan, serta praktik moderasi beragama pada pendidikan anak usia dini.

Salah satu kontribusi akademik dari Indonesia datang dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada Session 3, Jamilah dan Devi Pramitha mempresentasikan penelitian berjudul “The Patriarchal Bargain Revisited: Why Muslim Women in East Java Prefer Gender Inequality in Marriage.” Kajian tersebut membawa pengalaman perempuan Muslim di Jawa Timur ke dalam percakapan akademik internasional, khususnya terkait relasi gender dan perkawinan. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari keragaman perspektif yang ditampilkan dalam kolokium, ketika isu mengenai perempuan, keluarga, agama, dan perubahan sosial dibicarakan dalam satu ruang akademik.

Session 3 juga menghadirkan sejumlah peneliti lain dengan tema yang beragam. Nur Syafiqah Mohd Taufek dari ISEAS-Yusof Ishak Institute membahas ekspresi baru Islam urban di Indonesia, Riza Priandhita dari ANU mengkaji pengalaman perempuan menstruasi dalam kegiatan Islam, sedangkan Abdullah Faqih dari University of Sydney membahas kemunculan figur ayah Muslim baru dalam konteks digital Islam, kesalehan, dan maskulinitas kontemporer. Keragaman tema tersebut memperlihatkan bahwa kajian mengenai Islam Indonesia terus bergerak melampaui pembahasan mengenai doktrin dan institusi keagamaan. Fenomena sosial sehari-hari, pengalaman perempuan, perubahan keluarga, media digital, hingga dinamika budaya menjadi bagian penting dalam memahami masyarakat Muslim Indonesia kontemporer.

Pembahasan kemudian berlanjut pada Session 4 yang mempertemukan kajian mengenai agama, budaya, dan ekonomi. George Quinn dari ANU membahas teologi populer dalam tradisi ziarah lokal di kawasan budaya Jawa, sementara Dewi Resminingayu mengangkat dimensi sosial dan ekonomi baraka dalam tradisi Petik Laut. Sementara itu, Sitta Rosdaniah dari Islamic Economic Society (MES) dan State-Owned Enterprises Regulatory Agency membahas peran MES dalam pengembangan ekonomi Islam Indonesia. Gabrielle Ward dari ANU mengangkat hubungan antara aktivitas perdagangan, kalkulasi, disiplin, dan etika Islam di Indonesia.

Iklan

Farid F. Saenong sendiri turut memberikan kontribusi akademik dalam Session 2 melalui presentasi bertajuk “Decentering Islamic Studies: UIII and Religious Diplomacy.” Presentasi tersebut menjadi salah satu bagian dari pembahasan mengenai perkembangan studi Islam dan diplomasi keagamaan. Sementara Eva F. Nisa, selain berperan sebagai salah satu convener, juga menutup rangkaian kegiatan melalui sesi closing pada akhir acara. Kolokium yang berlangsung secara luring di LT.104 Coombs Extension, ANU, dan juga tersedia secara daring melalui Zoom tersebut menjadi ruang pertemuan bagi berbagai tradisi keilmuan dalam membaca perubahan Islam Indonesia.

Bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, partisipasi Jamilah dan Devi Pramitha dalam forum tersebut sekaligus memperluas ruang pertukaran akademik internasional. Penelitian mengenai perempuan Muslim di Jawa Timur yang mereka presentasikan bertemu dengan berbagai kajian lain mengenai Islam Indonesia yang dikembangkan oleh akademisi dari Australia, Indonesia, Singapura, dan institusi internasional lainnya. Melalui forum tersebut, pembahasan mengenai masa depan Islam Indonesia tidak ditempatkan sebagai persoalan tunggal. Ia hadir sebagai isu multidimensional yang bersinggungan dengan gender, pendidikan, budaya, otoritas keagamaan, digitalisasi, diplomasi, tradisi lokal, hingga ekonomi.

International Colloquium: The Futures of Indonesian Islam pada akhirnya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif tersebut dalam satu percakapan akademik internasional tentang arah perkembangan Islam Indonesia di masa mendatang.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.