MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Masa depan pertanian Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, dinamika geopolitik, volatilitas pasar hingga perkembangan teknologi menjadi faktor yang turut menentukan ketahanan pangan.
Persoalan tersebut menjadi bahasan utama dalam kuliah umum Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) bertajuk “Pertanian di Era Ketidakpastian: Climate Change, Geopolitics and Food Security” yang digelar di Ruang Pertemuan GS. 1.1, Jumat (18/9/2026).
Kuliah umum tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Jafar Hafsah, I.P.U., APEC Eng., ASEAN Eng., guru besar bidang agribisnis pangan yang memiliki pengalaman panjang di sektor pertanian.
Baca juga: Dosen Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Ikuti Bimtek Perlindungan Varietas Tanaman 2026
Kegiatan dibuka oleh Dekan FBiPK Universitas Brawijaya, Prof. M. Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, Purnomo menyampaikan bahwa kuliah umum menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus bertukar pengetahuan mengenai perkembangan sektor pertanian.
«“Kuliah umum seperti ini menjadi ruang untuk belajar dan saling bertukar pengetahuan tentang pertanian. Namun, ilmu jangan hanya diperoleh dari ruang kuliah. Mahasiswa juga harus aktif dalam organisasi karena banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa didapatkan dari sana,” kata Purnomo.»
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik. Pengalaman di luar ruang kelas, termasuk organisasi, juga diperlukan untuk membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, serta kepekaan terhadap berbagai persoalan di masyarakat.
Pertanian Menghadapi Era Ketidakpastian
Dalam pemaparannya, Prof. Jafar Hafsah menjelaskan bahwa sektor pertanian kini berhadapan dengan bentuk ketidakpastian yang semakin beragam.
Perubahan iklim dapat memengaruhi pola musim dan produktivitas pertanian. Sementara itu, dinamika geopolitik dapat berdampak pada rantai pasok pangan, pupuk dan energi. Di sisi lain, volatilitas pasar turut memengaruhi harga komoditas maupun biaya produksi.
Menurut materi yang disampaikan, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pangan yang diproduksi. Aspek ketersediaan, keterjangkauan, akses masyarakat terhadap pangan, serta stabilitas pasokan juga menjadi bagian penting dari ketahanan pangan.
Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi secara serius. Pola musim yang semakin sulit diprediksi dapat meningkatkan risiko bagi petani.
Kekeringan berpotensi mengganggu produksi, sedangkan curah hujan ekstrem dapat memicu banjir dan kerusakan lahan pertanian. Dalam kondisi tersebut, petani kecil menjadi salah satu kelompok yang rentan karena memiliki keterbatasan dalam menghadapi berbagai risiko produksi.
Tantangan tersebut semakin kompleks ketika beririsan dengan dinamika geopolitik global. Konflik di berbagai kawasan dapat mengganggu rantai pasok pangan, pupuk maupun energi. Kebijakan pembatasan ekspor dari negara produsen juga berpotensi memengaruhi harga dan ketersediaan input pertanian di negara yang memiliki ketergantungan terhadap impor.
Karena itu, pembangunan pertanian dinilai perlu bergerak dari pendekatan yang hanya merespons krisis menuju sistem yang mampu mengantisipasi berbagai risiko sejak awal.
Generasi Muda Pertanian Harus Tangguh
Tidak hanya membahas persoalan sistem pangan, Prof. Jafar juga memberikan perhatian terhadap kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda yang akan menjadi bagian dari masa depan pertanian Indonesia.
Menurutnya, petani milenial dan generasi muda pertanian tidak cukup hanya memiliki prestasi akademik maupun kemampuan intelektual. Mereka juga membutuhkan etika, pengalaman sosial, kemampuan bekerja sama serta ketangguhan dalam menghadapi persoalan nyata.
«“Petani milenial jangan hanya menjadi juara dalam akademik dan intelektual, tetapi juga harus memiliki etika. Jangan hanya membaca buku karena ilmu ada di mana-mana. Ikuti organisasi, perluas pengalaman, dan jangan lupa berolahraga agar menjadi generasi yang benar-benar tangguh,” ujar Prof. Jafar.»
Pesan tersebut menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan pengalaman sosial.
Mahasiswa pertanian, menurut materi kuliah umum tersebut, perlu memahami bahwa persoalan pertanian tidak berhenti pada persoalan teknis produksi. Mereka nantinya akan berhadapan dengan masyarakat, kebijakan, perubahan teknologi, dinamika ekonomi hingga persoalan global.
Teknologi dan Digital Agriculture
Perkembangan teknologi juga menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai masa depan pertanian.
Prof. Jafar menyoroti pemanfaatan digital agriculture, termasuk penggunaan sensor, drone, alat dan mesin pertanian, data serta kecerdasan buatan.
Teknologi tersebut dapat membantu sektor pertanian meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap keputusan yang hanya berdasarkan perkiraan. Dengan dukungan data dan teknologi prediktif, keputusan terkait produksi dapat dilakukan secara lebih terukur.
Transformasi digital juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat lebih jauh dalam sektor pertanian. Pertanian masa depan tidak hanya membutuhkan tenaga kerja di lahan, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengelola teknologi, data, rantai pasok dan pengembangan bisnis pertanian.
Hilirisasi Jadi Strategi Tingkatkan Nilai Tambah
Selain teknologi dan sumber daya manusia, hilirisasi pertanian menjadi salah satu isu penting yang dibahas.
Indonesia dinilai perlu memperkuat pengolahan komoditas pertanian di dalam negeri agar produk tidak berhenti sebagai bahan mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah.
Hilirisasi ditempatkan sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan bersama diversifikasi pangan, cadangan pangan, penguatan petani, teknologi pertanian, digitalisasi dan ekonomi sirkular.
Pengolahan produk pertanian di dalam negeri diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri pengolahan, membuka kesempatan kerja serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha dan petani.
Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan pertanian tidak bisa dilepaskan dari pembangunan industri dan ekonomi.
“Ketidakpastian Itu Takdir, Nilai Tambah Itu Pilihan”
Pada bagian akhir pemaparannya, Prof. Jafar menekankan pentingnya keterpaduan antara agronomi, teknologi dan kebijakan dalam menghadapi ketidakpastian.
Ketidakpastian mungkin tidak sepenuhnya dapat dihilangkan. Namun, berbagai risiko dapat dikelola melalui perencanaan, inovasi, penguatan sumber daya manusia dan kebijakan yang tepat.
Pesan tersebut dirangkum dalam kalimat penutup materi kuliah umum:
«“Ketidakpastian itu takdir. Nilai tambah itu pilihan. Hilirisasi adalah jalan.”»
Kuliah umum FBiPK UB ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat pertanian dari perspektif yang lebih luas. Pertanian masa depan tidak lagi sekadar berbicara mengenai produksi di lahan, tetapi juga berkaitan erat dengan perubahan iklim, teknologi, digitalisasi, ekonomi, geopolitik, kualitas sumber daya manusia dan kebijakan pangan.
Dengan pemahaman yang lebih komprehensif, generasi muda pertanian diharapkan mampu mengambil peran dalam membangun sistem pangan Indonesia yang lebih tangguh dan adaptif di tengah perubahan global.
Kuliah Umum FBiPK UB Bahas Masa Depan Pertanian di Tengah Perubahan Iklim dan Geopolitik


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.