BATU | JATIMSATUNEWS.COM: Potensi besar jeruk sebagai komoditas unggulan Kota Batu terus didorong agar mampu menghasilkan produk olahan bernilai jual tinggi. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Universitas Brawijaya (UB) bersinergi dengan PLUT KUMKM Kota Batu menggelar pelatihan pengembangan produk buah kering beku menggunakan teknologi modern freeze dryer bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Pelatihan ini merupakan wujud nyata dari Program Dosen Berkarya (DOKAR) 2026 Skema A. Mengusung tajuk inovasi pengembangan produk olahan umbi, buah, dan sayur, program ini digawangi oleh Mas’ud Effendi, STP., MP. sebagai ketua pelaksana, bersama Prof. Dr. Siti Asmaul Mustaniroh, STP, MP, IPM dari Fakultas Teknologi Pertanian UB. Mereka menggandeng PLUT KUMKM Kota Batu yang menaungi Program 365 UP, yakni pendampingan intensif bagi 40 pelaku usaha terpilih, sehingga menempatkan UMKM sebagai mitra aktif dalam berinovasi, bukan sekadar penerima bantuan teknologi.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini memadukan paparan teknis, demonstrasi, hingga praktik langsung pengoperasian mesin freeze dryer. Ketua Pelaksana, Mas’ud Effendi menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini tidak hanya terhenti pada pengenalan alat, melainkan menanamkan pola pikir inovatif bagi para pelaku usaha.
“Fokus kami bukan sekadar mengenalkan mesin, tetapi membangun mindset inovasi pada UMKM. Jeruk yang selama ini dijual segar dengan umur simpan pendek, bisa kita ubah menjadi jeruk kering beku yang ringan, tahan lama, dan nilai jualnya bisa tiga sampai empat kali lipat. Kuncinya ada di penguasaan proses dan konsistensi mutu,” ungkap Mas’ud di sela-sela kegiatan.
Lebih jauh, Mas’ud menjelaskan mekanisme kerja teknologi freeze drying yang sangat mengandalkan suhu rendah. Ia memaparkan bahwa kandungan air di dalam bahan baku akan dibekukan terlebih dahulu, sebelum akhirnya dihilangkan lewat proses sublimasi pada kondisi vakum, yakni fase mengubah es langsung menjadi uap tanpa harus mencair.
“Keunggulan freeze drying adalah mampu mempertahankan bentuk, warna, aroma, dan nutrisi produk dibandingkan pengeringan termal biasa yang menggunakan panas tinggi. Jadi jeruk kering beku ini rasanya tetap seperti jeruk asli, hanya teksturnya menjadi renyah dan ringan,” imbuhnya memperjelas.
Para peserta terlihat sangat antusias mempraktikkan setiap tahapan produksi, mulai dari proses sortasi, pencucian, hingga pengirisan jeruk dengan ketebalan yang seragam yakni 4-6 mm. Tahapan krusial seperti pre-freeze di suhu minus 30 derajat Celcius selama 10 jam hingga proses pengeringan yang memakan waktu total sekitar 27 jam turut dipantau secara saksama.
Menyadari pentingnya kualitas produk komersial yang konsisten, Mas’ud mengingatkan agar para pelaku UMKM sangat disiplin dalam mencatat setiap tahapan produksinya.
“Kami ajarkan pentingnya disiplin pencatatan batch. Setiap kali produksi, catat ketebalan irisan, berat bahan, suhu, tekanan vakum, dan hasilnya. Dari situ UMKM bisa menemukan formula terbaiknya sendiri. Teknologi tanpa standardisasi tidak akan menghasilkan bisnis yang berkelanjutan,” tegasnya.
Tidak berhenti pada tahapan transfer teknologi, program DOKAR UB ini juga diproyeksikan untuk mematangkan kesiapan bisnis para peserta. Setelah pelatihan usai, UMKM akan mendapatkan pendampingan lanjutan dalam menyusun Business Feasibility Plan, yang mencakup analisis pasar, rencana operasional, hingga proyeksi keuangan.
Kolaborasi strategis ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan sejalan dengan prinsip SDG 8, 9, dan 12, sekaligus menekan angka pembuangan limbah pangan (food waste) dengan menyulap buah segar lokal menjadi produk modern berdaya saing tinggi.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.