SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Dalam rangka meningkatkan kompetensi akademik dan keterampilan profesional di bidang fisika medis, Jessyra Balqis mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, melaksanakan kegiatan Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan (BPAFK) Surabaya.
Kegiatan magang ini dilaksanakan di bawah bimbingan dosen pembimbing Fajar Timur, S.Si., M.Si., dengan Kandi Ayu Tiswati S.Si sebagai kepala instalasi KAUR (kalibrasi alat ukur radiasi) dan pembimbing lapangan Dita Aprilia Hariani, S.Si., M.Si. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman secara langsung dalam penerapan ilmu fisika, khususnya fisika medis, pada proses kalibrasi alat ukur radiasi yang berperan penting dalam menjamin ketepatan hasil pengukuran dan keselamatan penggunaan radiasi di fasilitas pelayanan kesehatan. Selama pelaksanaan magang, berbagai kegiatan dilakukan di Laboratorium Kalibrasi Alat Ukur Radiasi BPAFK Surabaya, mulai dari pengenalan standar kalibrasi, pengoperasian peralatan laboratorium, hingga pelaksanaan kalibrasi berbagai instrumen pengukur radiasi sesuai dengan prosedur dan standar yang berlaku. Pengalaman ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi mahasiswa dalam mengintegrasikan teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan praktik di dunia kerja, khususnya pada bidang proteksi radiasi dan fisika medis.
Melalui program magang di Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan (BPAFK), mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur memperoleh pengalaman langsung dalam proses kalibrasi alat ukur radiasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Instalasi Kalibrasi Alat Ukur Radiasi yang bertugas menjamin keakuratan alat ukur radiasi yang digunakan di rumah sakit, industri, maupun instansi lain yang memanfaatkan sumber radiasi pengion. Bagi mahasiswa Fisika, kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari konsep fisika modern serta dalam bidang Fisika Medis, kalibrasi dosimeter menjadi bagian penting dalam sistem proteksi radiasi untuk memastikan dosis yang diterima pekerja radiasi dapat dipantau secara akurat.
Kalibrasi dosimeter memanfaatkan sumber radiasi Cesium-137 (Cs-137) yang memancarkan radiasi gamma dan memiliki waktu paruh sekitar 30 tahun, sehingga banyak digunakan sebagai sumber standar kalibrasi. Dosimeter aktif (sering disebut Electronic Personal Dosimeter) bekerja secara digital menggunakan sensor elektronik dan sirkuit terintegrasi untuk mendeteksi radiasi secara langsung (real-time) dengan memiliki 2 jenis yaitu dosimeter analog dan dosimeter digital dengan cara kerja radiasi penggion masuk dan mengenai sensor utama alat. Energi radiasi yang menabrak sensor akan memicu pelepasan muatan listrik (elektron) di dalam sensor semikonduktor. Sehingga hasil perhitungan dosis kumulatif (total paparan ) langsung muncul pada layar.

Tahapan kalibrasi diawali dengan pemeriksaan kondisi alat, termasuk memastikan baterai masih berfungsi dengan baik. Apabila diperlukan, baterai diganti atau diisi ulang. Selanjutnya nilai dosis pada layar dosimeter dinolkan (zero adjustment) agar pengukuran dimulai dari kondisi awal.
Phantom kemudian ditempatkan tepat di depan sumber radiasi sebagai simulasi tubuh manusia. Posisi phantom disesuaikan menggunakan laser vertikal dan horizontal agar pusat phantom berada tepat pada sumbu berkas radiasi. Setelah posisi dosimeter tepat, dilakukan penyinaran menggunakan sumber Cs-137 pada jarak 200 cm dengan absorber timbal 1/10 dan dosis acuan 50 µSv. Nilai tersebut dipilih pada kisaran seperempat hingga setengah dari rentang ukur alat agar respon dosimeter tetap berada pada daerah linier.
Proses penyinaran dilakukan sebanyak lima kali. Hasil pembacaan yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan dosis acuan untuk menentukan faktor kalibrasi. Alat dinyatakan memenuhi syarat apabila faktor kalibrasi berada pada rentang nilai yang dapat diterima secara standar internasional/nasional umumnya berkisar antara 1 ± 20% atau 0,80 sampai dengan 120
Selain dosimeter digital, dilakukan kalibrasi dosimeter saku analog yang menggunakan sistem jarum penunjuk. Sebelum penyinaran, posisi jarum diatur ke angka nol menggunakan dosimeter charger. Berbeda dengan dosimeter digital, kalibrasi dosimeter analog tidak menggunakan phantom maupun absorber karena satuan yang digunakan adalah milliroentgen (mR) sebagai besaran paparan di udara. Dengan range dosis yang bisa di terima oleh dosimeter analog sekitar 0-200 mR Penyinaran dilakukan menggunakan sumber Cs-137 pada jarak 200 cm dengan dosis acuan 100 mR selama sekitar 8 menit 15 detik. Pengukuran diulang sebanyak lima kali untuk memperoleh faktor kalibrasi alat yang telah di kalibrasi dengan rentang nilai yang dapat diterima secara standar internasional/nasional umumnya berkisar antara 1 ± 20% atau 0,80 sampai dengan 1,20
Dosimeter analog untuk mengkalibrasi menggunakan dosimeter charger dengan dosis yang terdapat pada layar di tunjukan melalui jarum sehingga masih manual sedangkan pada dosimeter digital cara kalibrasi hanya menekan tombol yang ada pada alat dengan dosis yang terdapat pada layar sudah angka decimal sehingga lebih mudah di baca
Kalibrasi dosimeter bagian penting dalam sistem jaminan mutu alat ukur radiasi. Keakuratan dosimeter sangat menentukan ketepatan pemantauan dosis yang diterima pekerja radiasi sehingga mendukung penerapan prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) dalam proteksi radiasi. Melalui kegiatan magang ini, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menghubungkan teori yang dipelajari pada mata kuliah Fisika Radiasi, Fisika Nuklir, dan Fisika Medis dengan praktik profesional di laboratorium


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.