BANGKALAN | JATIMSATUNEWS.COM: Pencegahan stunting tidak selalu dimulai dari piring makan anak. Di Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, tim dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mencoba menarik persoalan tersebut lebih ke hulu: kondisi mental ibu yang berperan penting dalam proses pengasuhan dan pemberian makan anak.
Pendekatan itu dikembangkan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk Psikoedukasi Mothers’ Mental Nutrition Program Berbasis Kearifan Lokal. Program tersebut menyasar ibu balita dan kader Posyandu dengan menggabungkan edukasi nutrisi anak, kesehatan mental ibu, serta praktik pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) yang lebih responsif.
Kegiatan berlangsung di Pustu Desa Gili Timur dan diikuti Ketua Posyandu, bidan desa, kader Posyandu, ibu balita, serta tim dosen UTM. Dosen Psikologi UTM, Lailatul Muarofah Hanim, yang menjadi narasumber, menjelaskan bahwa persoalan pemberian makan anak tidak dapat dilepaskan dari kondisi psikologis pengasuh.
“Data kami di lapangan menunjukkan banyak ibu mengalami kelelahan mental dan emosional. Kondisi ini kami sebut lapar mental. Ibu yang mengalami maternal distress cenderung menerapkan feeding behaviour yang tidak responsif, seperti memaksa anak makan, tidak sabar, dan memberi makan sambil marah. Akhirnya anak GTM, menolak makan, dan asupan gizinya tidak optimal,” ujarnya.

Dari persoalan tersebut, tim UTM memperkenalkan pendekatan yang tidak hanya membicarakan apa yang dimakan anak, tetapi juga bagaimana kondisi ibu ketika mendampingi anak makan.
Yang membedakan program ini adalah penggunaan kearifan lokal Madura sebagai bagian dari pendekatan psikoedukasi. Materi tidak disampaikan semata dengan istilah psikologi atau kesehatan, tetapi dikaitkan dengan nilai budaya setempat, termasuk tradisi rampak naong dan penguatan peran bhappah-bhabbhuh-ghuru-rato sebagai bagian dari jejaring dukungan sosial.
“Kami ajarkan teknik sederhana yang bisa dilakukan ibu di rumah, yaitu relaksasi napas dalam yang dipadukan dengan dzikir, self-talk positif, dan membangun kelompok dukungan sesama ibu Posyandu. Kalau mental ibu ternutrisi, maka perilaku pemberian makannya juga akan lebih sabar, responsif, dan penuh kasih,” tambah Hanim.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari kader Posyandu. Ketua Posyandu Desa Gili Timur, Yayuk, menilai perspektif kesehatan mental memberikan dimensi baru dalam edukasi stunting yang selama ini lebih banyak berfokus pada kondisi fisik anak.
“Baru kali ini ada penyuluhan yang menanyakan, ‘Bun, ibunya sudah bahagia belum?’ Kader jadi lebih paham, ternyata untuk mencegah stunting, kami juga harus jadi pendengar yang baik bagi para ibu,” ungkapnya.
Bidan Desa Gili Timur juga menyatakan kesiapan untuk mengintegrasikan perhatian terhadap kondisi psikologis ibu dalam kegiatan Posyandu. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat melengkapi pemantauan tumbuh kembang balita yang selama ini dilakukan.
“Ini sangat membantu tugas kami di lapangan. Ke depan, setiap penimbangan balita, kami juga akan cek kondisi psikologis ibunya. Karena ibu yang sehat mentalnya, akan melahirkan generasi yang sehat fisiknya,” jelasnya.
Bagi tim UTM, Desa Gili Timur menjadi ruang untuk mengembangkan model pencegahan stunting yang lebih kontekstual. Tantangan sosial dan geografis di wilayah tersebut mendorong intervensi yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga memperkuat lingkungan pengasuhan.
Melalui Mothers’ Mental Nutrition Program, UTM mencoba memperluas cara pandang terhadap pencegahan stunting: anak memang membutuhkan makanan bergizi, tetapi proses pemberian makan juga membutuhkan pengasuh yang memiliki dukungan, pengetahuan, dan kondisi psikologis yang memadai.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.