Langsung ke konten
Sabtu, 12 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Desa Tukum Lumajang Menuju Zero Waste, UMM dan UNILU Latih Warga Olah Sampah Lewat Vermikultur

Sinergi apik terjalin antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Lumajang (UNILU) dalam menyulap Desa Tukum

Foto bersama tim dosen UMM, UNILU, beserta puluhan perwakilan warga dan perangkat Desa Tukum, Lumajang, mengepalkan tangan penuh semangat seusai Pelatihan Pengolahan Sampah Terintegrasi dan Vermikultur.

Foto bersama tim dosen UMM, UNILU, beserta puluhan perwakilan warga dan perangkat Desa Tukum, Lumajang, mengepalkan tangan penuh semangat seusai Pelatihan Pengolahan Sampah Terintegrasi dan Vermikultur. (Foto: Humas UMM)

LUMAJANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sinergi apik terjalin antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Lumajang (UNILU) dalam menyulap Desa Tukum, Kabupaten Lumajang, menjadi Desa Zero Waste berbasis Integrated Farming.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB), masyarakat diajak mengelola limbah organik rumah tangga menjadi pakan cacing dan pupuk organik yang bernilai ekonomi.

Pelatihan ini sukses digelar di Hall Aby Hotel pada 5 September 2026, dengan melibatkan lebih dari 40 peserta dari unsur Kelompok Masyarakat (Pokmas), serta dihadiri langsung oleh Kepala Desa dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Tukum.

Baca juga: Studi Lingkungan Sespimmen Polri Dikreg ke-67 di Polres Madiun, Bahas Penguatan UMKM dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Baca juga: Kolaborasi UB dan BRIN Dorong Pengembangan Material Fungsional Berkelanjutan Berbasis Biomassa

Program inovatif bertajuk “Pengembangan Desa Tukum sebagai Desa Zero Waste Berbasis Integrated Farming melalui Vermikultur Village” ini dikomandoi oleh Dr. Ir. Asmah Hidayati, MP., bersama tim ahli yang terdiri dari Dr. Drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes., Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM., dan Dr. Rusli Tonda.

Ketua Tim PDB, Dr. Ir. Asmah Hidayati, MP., menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membangun kemandirian masyarakat dalam merawat lingkungan sekaligus memaksimalkan potensi lokal untuk sektor pertanian dan peternakan.

Ia menyampaikan secara langsung bahwa melalui inisiatif ini, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang sampah organik sebagai limbah buangan semata, melainkan sebagai sumber daya baru yang sangat berguna untuk mendukung aktivitas pertanian.

Iklan

Menurutnya, konsep terintegrasi ini menciptakan ekosistem berkelanjutan yang menghubungkan pengelolaan limbah dengan operasional peternakan warga.

Hal senada diungkapkan oleh anggota tim, Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM., yang menitikberatkan pentingnya kedisiplinan warga sejak dari rumah. Ia menjelaskan kepada para peserta bahwa penerapan zero waste mutlak harus dimulai dari kebiasaan memilah sampah menjadi kategori organik, anorganik, dan residu. Iis menekankan bahwa sisa sayur dan buah di dapur dapat langsung disisihkan untuk diolah menjadi pakan cacing, sehingga volume sampah yang dibuang ke lingkungan dapat ditekan secara drastis.

Untuk memastikan praktik di lapangan berjalan lancar, warga diajarkan secara teknis menyiapkan bahan organik menggunakan mesin pencacah agar ukurannya mudah terurai oleh cacing. Bahan tersebut harus dikondisikan kelembapan dan tingkat kematangannya sebelum masuk ke media budidaya.

Tidak berhenti di urusan limbah cacing yang menghasilkan pupuk kascing, masyarakat juga dibekali ilmu manajemen kandang ayam Kuntara dan teknologi pembuatan pakan unggas demi menyempurnakan siklus integrated farming mereka.

Didanai penuh oleh Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026, program Vermikultur Village ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Langkah strategis ini dirancang untuk mencetak rantai ekonomi baru, sekaligus menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Desa Tukum yang senantiasa bersih, produktif, mandiri, dan berkelanjutan di masa depan.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.