PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Pasien dan keluarga yang datang ke ruang gawat darurat (UGD) umumnya dalam kondisi panik dan membutuhkan pertolongan segera, bukan sekadar mencari keramahan. Namun, cara tenaga medis memperlakukan pasien tetap menjadi tolok ukur penting dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan di daerah.
Persoalan yang kerap menjadi sorotan masyarakat ini dikupas tuntas dalam episode terbaru podcast JAWARA (Jagongan Wakil Rakyat) JatimSatuNews yang bertajuk “Darurat Senyum di Ruang Gawat Darurat Kabupaten Pasuruan”. Acara yang berlangsung di Kafe Dalwa, Bangil, pada Jumat (11/9/2026) ini berlangsung hangat dan penuh gagasan.
Dipandu oleh host Anis Hidayatie, bincang santai namun berbobot ini menghadirkan tiga anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, yakni Andri Wahyudi, Nikmatul Jamilah atau yang akrab disapa Ning Mila, serta H. Akhmad Soleh.
Baca juga: Jawara Komisi 3 DPRD Kabupaten Pasuruan, PJU Bukan Hanya Tentang Lampu Menyala
Dalam pemaparannya, Ning Mila menegaskan bahwa kualitas pelayanan di UGD memang tidak bisa hanya diukur dari senyuman atau keramahan semata. Menurutnya, keselamatan pasien dan kecepatan penanganan berdasarkan tingkat kegawatan atau triase adalah prioritas yang mutlak.
Meski demikian, Ning Mila juga mengingatkan bahwa manakala kondisi di lapangan memungkinkan, tenaga kesehatan tetap dituntut untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasien dan pendampingnya. Hal ini krusial agar masyarakat memahami prosedur medis dan tidak merasa diabaikan saat harus menunggu giliran.
“Kalau memungkinkan, jelaskan bahwa ada pasien yang kondisinya lebih gawat sehingga sedang diprioritaskan,” ujar Ning Mila menanggapi fenomena sistem triase yang kerap disalahpahami masyarakat sebagai bentuk pelayanan yang tidak adil.
Senada dengan hal tersebut, Andri Wahyudi menyoroti betapa pentingnya kepastian informasi bagi keluarga pasien yang sedang dilanda kepanikan. Ia menyebutkan bahwa informasi yang sederhana namun jelas mengenai tindakan yang sedang dilakukan sangat ampuh untuk menekan kecemasan.
“Komunikasi bukan pekerjaan tambahan. Komunikasi adalah bagian dari pelayanan kesehatan,” tegas Andri Wahyudi.
Lebih lanjut, Andri juga mengingatkan semua pihak agar keluhan masyarakat terkait pelayanan tidak serta-merta dijadikan alasan untuk langsung menyalahkan petugas medis di lapangan. Ia mendorong agar setiap persoalan diperiksa secara objektif, mulai dari kesesuaian SOP, efektivitas pola komunikasi, rasio beban kerja, hingga kesiapan fasilitas rumah sakit.
Andri menyadari betul bahwa para tenaga kesehatan kerap bekerja di bawah tekanan tinggi karena jumlah pasien yang datang seringkali melampaui kapasitas ideal. “Pasien harus dihormati, tenaga kesehatan juga harus dihargai. Keduanya tidak boleh dipertentangkan,” katanya menambahkan.
Sementara itu, H. Akhmad Soleh menekankan pentingnya evaluasi berkala terhadap mutu pelayanan kesehatan di Kabupaten Pasuruan. Ia menyatakan bahwa fungsi pengawasan yang dijalankan oleh DPRD sama sekali bukan untuk mencari-cari kesalahan petugas medis, melainkan sebagai komitmen untuk terus memperbaiki wajah pelayanan publik.
Dalam kesempatan tersebut, H. Akhmad Soleh juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam beraspirasi. Ia meminta warga yang mengalami kendala pelayanan untuk memanfaatkan saluran pengaduan resmi yang tersedia dengan membeberkan kronologi dan fakta kejadian secara utuh.
Menurutnya, kritik adalah pilar yang penting, namun harus selalu berpijak pada fakta agar bisa menjadi bahan evaluasi yang membangun.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini bermuara pada satu kesimpulan besar: persoalan UGD bukanlah sekadar masalah senyum. Membangun sistem pelayanan yang responsif, didukung komunikasi empatik dan mekanisme aduan yang jalan, jauh lebih esensial.
Pada akhirnya, pelayanan kesehatan yang paripurna adalah pelayanan yang mampu memberikan tindakan medis tepat waktu sekaligus memberikan kepastian dan rasa dihargai bagi pasien.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.