MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Nilai pada lembar jawaban tidak selalu menggambarkan pemahaman siswa secara utuh. Berangkat dari persoalan tersebut, Azza Nur Lailah, mahasiswa Program Studi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengembangkan instrumen Four-Tier Diagnostic Test untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa kelas X pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV).
Inovasi tersebut dikembangkan melalui skripsi berjudul “Pengembangan Four-Tier Diagnostic Test untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas X pada Materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel” di bawah bimbingan Taufiq Satria Mukti, M.Pd. Produk hasil penelitian tersebut juga telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Berbeda dengan tes yang hanya mengukur benar atau salahnya jawaban, Four-Tier Diagnostic Test dirancang untuk membaca proses berpikir siswa secara lebih mendalam. Instrumen tersebut memuat empat komponen, yakni pilihan jawaban, tingkat keyakinan terhadap jawaban, pilihan alasan, serta tingkat keyakinan terhadap alasan.
Kombinasi empat komponen tersebut memungkinkan guru memperoleh informasi yang lebih lengkap dari setiap respons siswa. Jawaban yang salah, misalnya, dapat ditelusuri lebih lanjut berdasarkan alasan yang dipilih dan tingkat keyakinan siswa terhadap jawabannya.
Hal tersebut penting karena kesalahan jawaban tidak selalu menunjukkan kondisi pemahaman yang sama. Seorang siswa dapat belum memahami konsep, sementara siswa lain mungkin memiliki pemahaman yang keliru tetapi justru sangat yakin bahwa pemahamannya benar. Perbedaan tersebut membutuhkan penanganan pembelajaran yang berbeda.
Melalui instrumen yang dikembangkan Azza, kondisi pemahaman siswa dapat dipetakan dengan lebih terperinci, termasuk untuk membedakan siswa yang memahami konsep, belum memahami konsep, maupun mengalami miskonsepsi.
Materi SPLTV dipilih karena tidak hanya menuntut kemampuan menjalankan prosedur penyelesaian, tetapi juga pemahaman terhadap hubungan antarkonsep dan proses untuk memperoleh suatu hasil.
Dalam penerapannya, setiap respons siswa menjadi informasi diagnostik. Guru dapat melihat pilihan jawaban sekaligus alasan dan tingkat keyakinan yang menyertainya. Dengan demikian, hasil tes tidak berhenti pada perolehan skor, tetapi dapat digunakan untuk mengetahui bagian materi yang telah dikuasai, belum dipahami, atau justru dipahami secara keliru.
Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi guru dalam menentukan tindak lanjut pembelajaran. Siswa yang belum memahami konsep membutuhkan penguatan, sementara siswa yang mengalami miskonsepsi memerlukan strategi untuk memperbaiki pemahaman konseptual yang sudah terbentuk tetapi keliru.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena miskonsepsi yang tidak teridentifikasi berpotensi terbawa ke materi pembelajaran berikutnya. Deteksi yang lebih awal memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan perbaikan sebelum kesalahan konseptual berkembang menjadi hambatan yang lebih kompleks.
Penelitian Azza juga memperlihatkan bagaimana skripsi mahasiswa dapat diarahkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna bagi pendidikan. Penelitian tidak berhenti pada dokumen akademik, tetapi menghasilkan instrumen diagnostik yang dapat digunakan untuk membaca kondisi pemahaman konseptual siswa.
Pendaftaran HKI terhadap produk tersebut semakin memperkuat keluaran penelitian yang dihasilkan. Prosesnya mencakup identifikasi persoalan pembelajaran, perancangan instrumen, pengembangan produk, hingga menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Bagi calon guru matematika, pengalaman tersebut juga memperluas makna penelitian. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai materi matematika, tetapi juga mampu membaca persoalan pembelajaran dan merancang solusi berdasarkan kajian ilmiah.
Inovasi Azza sekaligus menunjukkan bahwa kebaruan dalam pendidikan tidak selalu harus berbentuk aplikasi atau teknologi digital. Pengembangan metode asesmen yang mampu membaca pemahaman siswa secara lebih tajam juga merupakan bentuk inovasi pembelajaran.
Berangkat dari pertanyaan sederhana—mengapa siswa memberikan jawaban tertentu?—penelitian tersebut menghasilkan instrumen yang mencoba membaca lebih jauh apa yang diketahui, belum dipahami, dan diyakini siswa.
Dari ruang penelitian mahasiswa, inovasi tersebut membawa persoalan asesmen kembali ke ruang kelas: bukan sekadar berapa nilai yang diperoleh siswa, tetapi bagaimana siswa membangun pemahamannya terhadap matematika.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.