Langsung ke konten
Rabu, 2 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

Relawan UM Turun Tangan, Pulihkan Fisik dan Trauma Korban Gempa NTT

Merespons situasi tersebut, Tim Relawan Bencana Universitas Negeri Malang (UM) langsung bergerak cepat memberikan layanan tanggap darurat komprehensif bagi

Seorang anggota Tim Relawan Bencana Universitas Negeri Malang (UM) tampak berinteraksi hangat sembari membagikan kertas lipat kepada anak-anak dan warga terdampak gempa dalam sesi Play Therapy di Desa Watunggong, Manggarai Timur.

Seorang anggota Tim Relawan Bencana Universitas Negeri Malang (UM) tampak berinteraksi hangat sembari membagikan kertas lipat kepada anak-anak dan warga terdampak gempa dalam sesi Play Therapy di Desa Watunggong, Manggarai Timur. (Foto: Humas UM)

NUSA TENGGARA TIMUR | JATIMSATUNEWS.COM: Gempa bumi yang mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong kepedulian dari berbagai pihak. Merespons situasi tersebut, Tim Relawan Bencana Universitas Negeri Malang (UM) langsung bergerak cepat memberikan layanan tanggap darurat komprehensif bagi masyarakat terdampak di Desa Watunggong, Kabupaten Manggarai Timur, pada Minggu (30/8).

Guna memaksimalkan jangkauan bantuan, tim relawan membagi personelnya ke dalam dua kelompok kerja yang bergerak secara serentak. “Kami membagi fokus penanganan agar lebih efektif. Tim pertama kami terjunkan khusus untuk pelayanan medis di Posko Kesehatan Desa Satar Nawang, sementara tim kedua berfokus pada Dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial (DKMPS) di Posko Utama Watunggong, kawasan gereja, dan sekitarnya,” ungkap salah satu perwakilan Tim Relawan UM.

Berdasarkan keterangan dari tim medis lapangan, pelayanan kesehatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00 WITA tersebut berhasil menjangkau ratusan penerima manfaat. Mereka menjelaskan bahwa penanganan meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, hingga distribusi obat-obatan. Dari total 186 pasien yang ditangani, rentang usia didominasi oleh 101 orang dewasa dan 52 lansia, sementara sisanya adalah anak-anak dan balita.

Baca juga: Perjuangan Relawan UM Tembus Jalur Longsor Demi Korban Bencana di Manggarai Timur

Baca juga: UM Kirim Relawan ke NTT Pasca Gempa

“Dari hasil pemeriksaan di lapangan, keluhan terbanyak yang kami temukan adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan 54 kasus. Selain itu, kami juga banyak menangani pasien dengan keluhan lambung, hipertensi, nyeri pinggang, hingga luka ringan dan alergi,” jelas anggota tim medis tersebut terkait kondisi kesehatan para pengungsi.

Lebih lanjut, pihak relawan menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak boleh hanya berpusat pada luka fisik. Oleh karena itu, asesmen psikologis turut digencarkan bagi warga. Tim psikososial menyebutkan telah memberikan Psychological First Aid (PFA), konseling suportif, hingga teknik pernapasan untuk meredakan kepanikan warga.

Iklan

“Hasil skrining kami terhadap 112 peserta dewasa menunjukkan bahwa 96 orang mengalami kecemasan ringan, dan 15 orang lainnya menunjukkan reaksi stres tingkat sedang. Ini menjadi fokus kami untuk terus melakukan pendampingan,” papar relawan di bidang psikososial.

Perhatian khusus juga disalurkan kepada kelompok anak-anak dan remaja yang rentan terhadap trauma. Relawan menuturkan bahwa sedikitnya 104 anak dilibatkan dalam intervensi pemulihan melalui Art Therapy dan Play Therapy. Lewat aktivitas visual dan melipat kertas origami, tim berupaya mengembalikan keceriaan dan rasa aman anak-anak tersebut setelah dihantam bencana.

Menjelang sore hari, aksi kemanusiaan berlanjut pada pembangunan fasilitas fisik sementara. Tim relawan menyatakan turut bahu-membahu mendirikan tenda darurat di Puskesmas Watunggong yang rusak akibat gempa, serta di sejumlah pekarangan warga yang rumahnya dinilai sudah tidak aman untuk ditempati.

Pihak UM menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan masyarakat. Langkah tersebut juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada pilar kehidupan sehat dan sejahtera, serta pembangunan ketahanan permukiman yang berkelanjutan dalam menghadapi bencana.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.