MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Tim dosen dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) sukses meramu inovasi mutakhir untuk memulihkan lahan pertanian yang terkontaminasi logam berat timbal (Pb).
Teknologi bioremediasi berbasis bakteri lokal ini secara resmi telah mengantongi perlindungan Paten Sederhana bernomor IDS000013531 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI.Inovasi dengan tajuk “Metode Isolasi Bakteri untuk Membersihkan Logam Berat Timbal pada Lahan Pertanian Intensif” ini digagas oleh tiga inventor andal, yaitu Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P., Prof. Dr. Ir. Yulia Nur Aini, M.S., dan Beauty Laras Setia P., S.Tr.P., M.P. Hak paten tersebut secara resmi diberikan pada 18 Mei 2026 di bawah Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi UB, serta berlaku selama sepuluh tahun ke depan.Pendekatan ini berfokus pada pemanfaatan dua bakteri resisten timbal, yakni Bacillus altitudinis dan Bacillus wiedmannii. Kedua agen hayati yang diisolasi dari lahan pertanian intensif tersebut diklaim mampu mendetoksifikasi Pb. Dalam dokumen patennya, inovasi ini bahkan telah diuji coba pengaplikasiannya pada tanaman kubis putih untuk mengevaluasi pengaruh perlakuan bakteri terhadap pertumbuhan biomassa.
Dr. Reni Ustiatik mengungkapkan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan atas tingginya residu pupuk dan pestisida anorganik, serta kebutuhan metode penanganan cemaran yang tidak memicu kerusakan lingkungan baru. Menurutnya, pemanfaatan bakteri lokal sangat efektif karena mikroorganisme tersebut telah beradaptasi secara alamiah dengan lingkungannya.
“Kami ingin menghadirkan pendekatan pemulihan tanah yang tidak hanya efektif terhadap cemaran logam berat, tetapi juga lebih ramah terhadap lingkungan,” tegas Reni. Ia pun menyoroti sifat timbal yang sangat persisten di dalam tanah, di mana unsur tersebut tidak dapat terurai secara alami dan sangat berbahaya apabila diserap oleh tanaman hingga masuk ke dalam rantai pangan manusia.
Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Yulia Nur Aini, M.S. Ia menilai bahwa kesehatan tanah merupakan fondasi mutlak bagi sistem pertanian yang berkelanjutan. Ia memperingatkan bahwa persoalan kontaminasi lahan tidak hanya akan berhenti pada rusaknya kualitas tanah, melainkan merembet ancamannya pada keberlanjutan produksi pangan.
“Tanah yang sehat merupakan modal dasar produksi pertanian,” ungkap Yulia. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana temuan laboratorium tersebut dapat divalidasi pada ragam kondisi lahan dan diwujudkan menjadi teknologi terapan yang aplikatif bagi para petani.
Meski capaian kekayaan intelektual ini sangat membanggakan, Reni menegaskan bahwa riset mereka tidak akan berhenti di atas kertas sertifikat paten. Pihaknya berencana menyempurnakan formulasi agen hayati ini agar lebih praktis digunakan di lapangan.
“Paten bukan akhir dari proses inovasi. Justru setelah ini tantangannya adalah membawa hasil riset lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” pungkas Reni. Ia berharap teknologi ini lekas berkontribusi secara nyata dalam menjaga ketahanan pangan dan mewujudkan visi pertanian Indonesia yang jauh lebih berkelanjutan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.