ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM; Oleh Sutria Seska, Direktur Renstra Batuta Institute/Kepala Tim Ekspedisi Kebudayaan.
Merefleksikan lelah kaki melangkah menyusuri jalanan, seperti halnya keseruan petualangan Ibnu Batutah menapaki lorong-lorong benua.
Mulai dari Tangier, Maroko kemudian menyusuri peradaban Jazirah Arab, peradaban maritim pesisir timur Afrika, memahami kebanggaan peradaban Persia, jadi orang besar di India hingga kemudian terdampar di kepulauan Maladewa.
Batutah dalam petualangannya berbaur dengan kebijaksanaan Tiongkok, melintasi peradaban sabana Asia Tengah, menapaki sisa-sisa kebesaran peradaban Romawi hingga singgah sebentar di Cordoba, di Semenanjung Iberia, tempat cahaya Islam mulai meredup di tanah Eropa.
Banyak hal yang dilihat, didengar dan dirasakan. Dalam perjalanan, proses belajar dimulai. Wawasan terbentuk dan hasil akhirnya akan mengarahkan manusia akan mengupayakan perubahan untuk membentuk masyarakat yang dicita-citakan.
Ekspedisi Kebudayaan Batuta Institute belajar dari Vihara Puri Tri Agung

Keterangan Foto, Sutria Seska, Kepala Tim Ekspedisi (Sumber Foto : Doc. Pribadi)
Bertemakan, “Membentuk Wawasan, Menginspirasi Perubahan,” 30 Agustus 2026, tim ekspedisi Kebudayaan Batuta Institute bersama penelitinya menyelusuri satu demi satu sisi sosial yang menjadi bagian dari masyarakat Bangka Belitung. Salah satu sisi yang menarik untuk dikulik secara sosial adalah Vihara Puri Tri Agung.

Foto Padepokan Puri Tri Agung, Sumber Foto : (https://atourin.com)
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa gagasan awal pembangunan tempat Vihara Puri Tri Agung ini didorong oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung saat itu, Eko Maulana Ali, untuk mengembangkan kawasan pantai timur Bangka.
Biaya pembangunan Puri Tri Agung murni berasal dari donasi berbagai pihak dan masyarakat umum.
Puri Tri Agung dijadikan sebagai symbol harmoni. Tempat ini melambangkan persatuan tiga ajaran Tri Dharma, yaitu Konfusianisme (Confucius), Buddhisme (Sakyamuni), dan Taoisme (Lao Tzu).
Puri Tri Agung Berfungsi ganda sebagai tempat ibadah umat Buddha sekaligus destinasi wisata religi populer di Pulau Bangka.
Seperti dikutip dari exotic.bangka.go.id, Vihara Puri Tri Agung, destinasi wisata religi umat Budha yang menghadap langsung ke arah Laut China Selatan. Berlokasi di Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Puri Tri Agung berada di jalur Lintas Timur Bangka yang berjarak sekitar 20 km dari Kota Pangkal Pinang.
Destinasi wisata ini memiliki arsitektur yang sangat megah dan mewah, cocok bagi kalian yang suka berswafoto maupun yang bagi pasangan yang ingin melakukan prawedding. Bangunannya berbentuk seperti pagoda dengan tinggi kira-kira hampir 30 meter. Dengan keindahan anak tangga berwarna putih yang menuju ke arah bangunan vihara menambah kesan mewah arsitektur tersebut.Puri Tri Agung sendiri melambangkan ajaran Tri Darma yang terdiri dari aliran Konfutse (Confucius), Budhisme (Sakyamuni), dan Taoisme (Lao Tzu). Oleh karena itu tempat ini dinamakan Puri Tri Agung.
Selain itu juga terdapat patung Buddha Maitreya pada bagian depan vihara serta patung Dewi Kwan Im yang berdiri anggun di pojok kanan vihara.Berkunjung ke tempat ini bukan hanya dapat menikmati destinasi wisata religi namun juga anda dapat menikmati pemandangan alam yang terbentang disini. Anda dapat menikmati hamparan laut biru yang dihiasi batu granit di sepanjang pantainya. Serta bentang alam bukit di belakang vihara yang hijau dan menyejukkan.
Vihara Puri Tri Agung Menyampaikan Nilai Peradaban, Toleransi Bukan Sekadar “Membiarkan”, Tetapi Menghadirkan Ruang Bersama

Foto : Suasana dalam Vihara Puri Tri Agung (Sumber : Istimewa)
Beberapa nilai peradaban yang didapatkan dari Vihara Puri Tri Agung antara lain :
Pertama, nilai peradaban dalam bentuk toleransi
Hal yang paling menarik dari Puri Tri Agung adalah bahwa simbol yang dibawanya sendiri sudah berbicara mengenai harmoni. Konsep Tri Dharma yang memadukan Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan dan tradisi dapat ditempatkan dalam satu ruang tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.
Dari sudut pandang sosial, ini memberikan pesan bahwa toleransi tidak harus berarti menyamakan semua agama atau budaya. Toleransi justru muncul ketika masyarakat mampu menerima adanya perbedaan dan memberikan ruang bagi perbedaan tersebut untuk hidup berdampingan.
Karena itu, Puri Tri Agung dapat dipandang sebagai salah satu simbol bahwa keberagaman di Bangka dapat menjadi kekuatan sosial, bukan sumber pertentangan. Bentuk toleransi sesungguhnya adalah kelembutan untuk menerima dan siap berdampingan dengan kelompok dan paham lain, selama itu menciptakan keindahan, toleransi harus dipertahankan.
Toleransi yang paling kuat sebenarnya bukan hanya yang tertulis dalam slogan, melainkan yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang dapat datang, menikmati keindahan tempat tersebut, menghormati aktivitas keagamaan yang berlangsung, dan kembali tanpa konflik, maka di situlah toleransi memperoleh bentuk konkretnya.
Dengan demikian, Puri Tri Agung dapat dilihat sebagai contoh toleransi berbasis pengalaman sosial, bukan hanya toleransi berbasis wacana.
Kedua, tempat ibadah yang sekaligus menjadi ruang interaksi sosial
Ketika sebuah tempat ibadah juga berkembang menjadi destinasi wisata, terjadi perluasan fungsi sosial. Jadi tempat ibadah tidak semata sebagai tempat untuk beribadah, tempat ibadah pada awalnya dipergunakan sebagai titik awal dibangunnya sebuah peradaban. Kekuatan spiritual sosial dibangun untuk mendorong terjadinya perluasan wawasan dan menginisiasi perubahan sosial.
Orang yang datang tidak semuanya datang sebagai umat yang beribadah. Ada yang datang sebagai wisatawan, keluarga, pasangan untuk foto prawedding, fotografer, pelajar, maupun masyarakat yang sekadar ingin menikmati pemandangan.
Di sini terjadi sesuatu yang penting secara sosiologis, bahwa orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bertemu dalam satu ruang. Interaksi sosial ini akan dinikmati sebagai sajian pembuka untuk mengasah kemampuan manusia dalam memahami satu sama lain.
Pertemuan semacam ini berpotensi membangun pemahaman yang lebih baik. Seseorang yang sebelumnya hanya mengenal agama atau budaya tertentu melalui persepsi dan stereotip, dapat memperoleh pengalaman langsung bahwa tempat ibadah tersebut juga merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Ketiga, Nilai kebudayaan berupa identitas yang hidup berdampingan
Puri Tri Agung juga menarik jika dilihat dalam konteks kebudayaan Bangka.
Bangka merupakan wilayah yang memiliki sejarah perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, termasuk Melayu, Tionghoa, dan kelompok masyarakat lainnya. Karena itu, keberadaan bangunan dengan tradisi dan simbol budaya Tionghoa-Buddhis di tengah masyarakat Bangka dapat dibaca sebagai bagian dari mozaik kebudayaan lokal.
Artinya, kebudayaan tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri. Dalam masyarakat yang plural, kebudayaan justru berkembang melalui perjumpaan, interaksi, dan saling memengaruhi.
Keempat, pariwisata dapat menjadi jembatan sosial
Dari perspektif pengamat sosial, pariwisata mempunyai dua wajah. Di satu sisi, pariwisata dapat menjadi komersialisasi terhadap budaya dan agama. Tetapi di sisi lain, apabila dikelola secara baik, pariwisata dapat menjadi jembatan antarmasyarakat.
Puri Tri Agung mempunyai potensi pada sisi kedua tersebut.
Wisatawan yang datang bukan hanya membawa uang dan aktivitas ekonomi, tetapi juga membawa perjumpaan sosial. Mereka melihat langsung arsitektur, simbol keagamaan, tradisi, masyarakat sekitar, dan lingkungan alam Bangka.
Dengan demikian, wisata religi dapat menjadi sarana pendidikan multikultural secara informal.
Kelima, dampak terhadap masyarakat sekitar
Keberadaan destinasi seperti Puri Tri Agung juga dapat memberikan dampak sosial-ekonomi kepada masyarakat sekitar, misalnya melalui usaha kuliner dan produk UMKM menjadi tumbuh, perdagangan kecil bermunculan, jasa transportasi berkembang, jasa penginapan merasakan dampak banyaknya kunjungan.
Aspek-aspek tersebut melahirkan lapangan pekerjaan serta aktivitas ekonomi lainnya.
Namun dari perspektif sosial, perkembangan tersebut harus tetap memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kesucian tempat ibadah, kelestarian lingkungan, dan kenyamanan masyarakat sekitar.
Jangan sampai perkembangan pariwisata justru menghilangkan nilai spiritual yang menjadi fondasi tempat tersebut.
Keenam, simbol “Bhinneka Tunggal Ika” dalam bentuk lokal
Berdasarkan refleksi tim peneliti, dalam mengamati perkembangan sosial-budaya, maka Puri Tri Agung dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas sebagai representasi kecil dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Bukan karena semua orang yang datang harus memiliki keyakinan yang sama, tetapi justru karena perbedaan tersebut dapat hadir dalam satu ruang sosial tanpa harus melahirkan konflik.
Ini penting dalam kehidupan Indonesia hari ini. Toleransi tidak cukup hanya dengan mengatakan “Saya menghormati agama Anda.”
Toleransi yang lebih matang adalah “Kita berbeda, tetapi perbedaan itu tidak menghalangi kita untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan membangun ruang kehidupan bersama.”
Dari perspektif sosial-budaya, ada batas yang perlu diperhatikan ketika tempat ibadah menjadi destinasi wisata. Wisata jangan sampai mengalahkan fungsi religiusnya.
Pengunjung perlu memahami bahwa mereka sedang berada di tempat yang memiliki nilai spiritual bagi umat tertentu. Karena itu, etika berpakaian, perilaku, fotografi, kebisingan, serta penghormatan terhadap kegiatan keagamaan menjadi bagian penting dari toleransi itu sendiri.
Dengan kata lain, toleransi bukan hanya hak untuk berkunjung, tetapi juga kewajiban untuk menghormati ruang sakral orang lain.
Peradaban Puri Tri Agung Dalam Simpulan
Puri Tri Agung dapat dilihat lebih jauh daripada sekadar bangunan megah di tepi laut atau destinasi foto. Ia mempunyai nilai sosial sebagai ruang perjumpaan antara agama, budaya, masyarakat lokal, wisatawan, dan alam.
Keberadaan Tri Dharma yang menyatukan Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme memberikan pesan simbolik bahwa perbedaan tradisi dapat ditempatkan dalam satu bingkai harmoni. Sementara keterbukaannya sebagai destinasi wisata memungkinkan masyarakat yang berbeda latar belakang untuk saling mengenal.
Dalam perspektif sosial-budaya, nilai terbesar Puri Tri Agung bukan hanya pada kemegahan arsitekturnya, tetapi pada pesan yang dapat dibaca darinya: bahwa keberagaman akan menjadi kekuatan ketika masyarakat tidak menjadikan perbedaan sebagai tembok, melainkan sebagai jembatan untuk saling mengenal.
Dan justru di situlah sebuah tempat ibadah dapat memiliki nilai sosial yang jauh melampaui bangunannya sendiri (Redaksi).
#SalamHarmoniIndonesia
Baca Juga :
- Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026
- Aceh Diantara Perdamaian, Korupsi dan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81
- Eksekusi Tak Bergigi, Rekomendasi Penyelesaian Sengkarut “Fort de Kock”




Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.