MALANG | JATIMSATUNEWS.COM : Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukodadi Wagir terus melakukan upaya evaluasi dan perbaikan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi gizi seimbang, penggunaan aplikasi pengisian organoleptik Badan Gizi Nasional (BGN) RI, serta alokasi anggaran yang digelar di Kantor Kecamatan Wagir, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama SPPG Sukodadi dan SPPG Sidorahayu Wagir dengan melibatkan sebanyak 46 perwakilan Person in Charge (PIC) penerima manfaat dari pihak sekolah dan kelompok 3B, yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Namun, dalam kegiatan tersebut SPPG Sukodadi Wagir menempatkan komunikasi dengan para penerima manfaat sebagai salah satu perhatian utama. Sosialisasi menjadi ruang untuk menjawab berbagai pertanyaan, masukan, kritik, dan keluhan yang muncul selama pelaksanaan Program MBG.
Salah satu persoalan yang banyak disampaikan penerima manfaat adalah terkait menu telur yang dinilai terlalu sering disajikan sehingga sebagian penerima manfaat mulai merasa bosan. Menanggapi hal tersebut, pihak SPPG memberikan penjelasan mengenai pertimbangan penyusunan menu berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Menu telur sendiri tetap menjadi salah satu sumber protein hewani dalam Program MBG. Sesuai edaran BGN RI, penggunaan telur dalam siklus menu diwajibkan minimal tiga kali dalam satu minggu.
Untuk memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai kebutuhan nutrisi dan penyusunan makanan, sesi sosialisasi gizi seimbang disampaikan oleh Sheily Inge selaku Ahli Gizi SPPG Sukodadi Wagir.
Materi tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada para PIC mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi melalui menu yang disusun sesuai standar, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi SPPG dalam menyesuaikan menu dengan kebiasaan konsumsi masyarakat setempat.
Selain membahas persoalan menu, SPPG Sukodadi juga memperkenalkan sistem baru dalam pelaksanaan uji organoleptik makanan. Sosialisasi penggunaan aplikasi pengisian organoleptik disampaikan langsung oleh Kepala SPPG Sukodadi Wagir, Mutiara Salsabila.
Dalam sistem tersebut, PIC dari sekolah dan kelompok 3B menyerahkan alamat email yang selanjutnya didaftarkan oleh Kepala SPPG. Setelah proses pendaftaran selesai, PIC dapat melakukan pengisian hasil uji organoleptik melalui email yang telah terdaftar.
Dengan sistem tersebut, proses pelaporan hasil pemeriksaan makanan tidak lagi dilakukan menggunakan formulir kertas, melainkan secara digital melalui website atau aplikasi yang disediakan BGN RI.
Para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik langsung penggunaan aplikasi tersebut. Melalui simulasi itu, PIC diperkenalkan dengan tahapan pengisian dan pelaporan hasil uji organoleptik secara digital.

Digitalisasi pengisian organoleptik diharapkan dapat memperkuat sistem monitoring kualitas makanan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Selain mengurangi penggunaan kertas, sistem tersebut memungkinkan proses pencatatan dan pelaporan dilakukan secara lebih praktis.
Dalam kegiatan yang sama, Dhika Pramudya selaku Akuntan SPPG Sukodadi turut memberikan pemaparan mengenai alokasi anggaran dalam pelaksanaan Program MBG.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Camat Wagir, Joanico Da Costa. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip K3S, yakni Komunikasi, Koordinasi, Kolaborasi, dan Sinkronisasi, dalam pelaksanaan program.
Menurutnya, berbagai keluhan yang muncul dalam pelaksanaan suatu program dapat terjadi akibat komunikasi dan koordinasi antarpihak yang belum berjalan secara optimal.
“Banyaknya keluhan terjadi karena K3S ini kurang dilakukan. Saya berharap pertemuan ini bukan menjadi awal dan akhir, tetapi komunikasi, koordinasi, kolaborasi, dan sinkronisasi harus terus dilakukan,” ujar Joanico.
Harapan serupa juga disampaikan salah seorang guru sekolah yang menjadi PIC penerima manfaat. Ia berharap pertemuan dan komunikasi antara pihak sekolah dengan SPPG dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini sering dilakukan, atau setidaknya staf SPPG dapat datang ke sekolah untuk lebih sering berkomunikasi agar Program MBG dapat berjalan secara optimal. Kritik dan saran yang kami sampaikan bukan berarti kami tidak mendukung program ini, tetapi justru karena kami mendukung program yang baik ini dan ingin turut berpartisipasi agar pelaksanaannya semakin baik,” ungkapnya.
Bagi SPPG Sukodadi Wagir, berbagai masukan dari sekolah dan penerima manfaat menjadi bagian penting dalam proses evaluasi pelaksanaan Program MBG. Setelah kegiatan tersebut, SPPG Sukodadi diharapkan dapat terus melakukan penyesuaian menu yang lebih sesuai dengan lidah dan kebiasaan konsumsi masyarakat Wagir tanpa mengabaikan standar gizi yang telah ditetapkan.
Penyesuaian tersebut diharapkan dapat meningkatkan tingkat konsumsi makanan oleh penerima manfaat sekaligus mengurangi food waste dari makanan yang tidak dikonsumsi.
Melalui penguatan komunikasi dengan para PIC, sosialisasi gizi seimbang, serta penerapan sistem pengisian organoleptik secara digital, SPPG Sukodadi Wagir berupaya membangun pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang lebih responsif terhadap masukan masyarakat, efisien dalam operasional, dan optimal dalam memberikan manfaat kepada penerima manfaat.

Pewarta: Nur Hamid Abdissalam


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.