Langsung ke konten
Senin, 31 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Malang

KKN MAs UMM Sulap Limbah Kayu dan Sampah Organik Jadi Produk Bernilai, dari Biokar hingga Maggot

Di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs) 2026, limbah kayu dan sampah organik justru diolah menjadi inovasi yang memiliki

Imelda Friska Amelia mahasiswa UMLA sedang menjelaskan pada wartawanSisa kayu dan bubuk kayu kemudian dikembangkan menjadi biokar

Imelda Friska Amelia mahasiswa UMLA sedang menjelaskan pada wartawanSisa kayu dan bubuk kayu kemudian dikembangkan menjadi biokar (Foto: Dok pri Anis Hidayatie)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Persoalan limbah di masyarakat tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs) 2026, limbah kayu dan sampah organik justru diolah menjadi inovasi yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Inovasi tersebut dikembangkan kelompok mahasiswa lintas perguruan tinggi di Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kota Batu. Program ini menjadi bagian dari rangkaian KKN MAs yang dikelola Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Di Dusun Jeding, mahasiswa melihat adanya potensi lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satunya adalah banyaknya limbah dari aktivitas para pengrajin kayu. Sisa kayu dan bubuk kayu kemudian dikembangkan menjadi biokar yang diarahkan untuk mendukung kebutuhan sektor pertanian.

Baca juga: KKN MAS UMM 2026 di Pujon Hasilkan Inovasi Desa, dari Puding Wortel hingga Pupuk Organik

Baca juga: Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Sosialisasi Pengurusan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga bagi Pelaku Usaha Lokal

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Imelda Friska Amelia, mengatakan inovasi tersebut lahir dari pengamatan terhadap kondisi masyarakat setempat.

«“Kebetulan di Desa Junrejo salah satu unggulannya adalah pengrajin kayu. Jadi limbah kayu itu masih banyak,” ujar Imelda.»

Limbah kayu yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan tersebut diolah melalui proses tertentu hingga menjadi biokar. Produk itu kemudian diarahkan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya petani dan pekebun.

Selain biokar, mahasiswa juga mengembangkan komposter sebagai bagian dari upaya pengelolaan lingkungan dan mendukung pemanfaatan bahan organik.

Sampah Organik Diolah Jadi Pakan Maggot

Inovasi berikutnya menyasar persoalan sampah organik. Mahasiswa memperkenalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu metode untuk mengurangi sampah organik yang selama ini hanya dibuang.

Maggot merupakan larva lalat BSF yang memiliki kemampuan mengonsumsi bahan organik. Melalui program tersebut, sampah organik dimanfaatkan sebagai sumber makanan bagi maggot sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

«“Jadi maggot itu adalah larva dari lalat BSF, untuk pengolahan sampah organik,” jelas Imelda.»

Program budidaya maggot tersebut tidak hanya dilakukan melalui praktik, tetapi juga disertai sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat. Mahasiswa turut menjalin kerja sama dengan sejumlah peternak dan tempat pengelolaan sampah (TPS).

Menariknya, hasil dari budidaya maggot juga dapat dimanfaatkan kembali. Residu atau sisa media budidaya berpotensi digunakan sebagai pupuk, sementara maggot dapat dikembangkan sebagai sumber protein untuk kebutuhan pakan ternak.

Mahasiswa bahkan telah memasuki tahap produksi dan melakukan uji coba pemanfaatan hasil budidaya tersebut pada tanaman.

Berdasarkan pengamatan selama program berlangsung, tanaman yang diberikan hasil pengolahan tersebut menunjukkan pertumbuhan. Temuan awal ini menjadi salah satu dasar bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan inovasi agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Tak Hanya Lingkungan, Mahasiswa Sentuh Isu Stunting

Program KKN MAs di Dusun Jeding tidak berhenti pada pengelolaan limbah. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu juga mengembangkan program yang berkaitan dengan kesehatan masyarakatm

Salah satunya melalui pengolahan daun kelor menjadi puding kelor. Produk pangan tersebut dikembangkan sebagai salah satu upaya mendukung penanganan stunting di Desa Junrejo, khususnya Dusun Jeding.

«“Ini kita bikin puding kelor. Kami gagas karena untuk mengatasi salah satunya adalah stunting di Desa Junrejo, Dusun Jeding,” tutur Imelda.»

Selain persoalan stunting, mahasiswa juga memberikan perhatian terhadap kesehatan kelompok lanjut usia. Kegiatan di Posyandu Dusun Jeding diarahkan untuk memberikan edukasi terkait sejumlah persoalan kesehatan, di antaranya osteoporosis dan diabetes.

Keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu menjadi salah satu kekuatan program tersebut. Dalam satu kelompok, terdapat mahasiswa dengan latar belakang keperawatan, hukum, teknik informatika, ekonomi dan bisnis, hingga pendidikan.

Kolaborasi lintas bidang itu memungkinkan program KKN tidak hanya berorientasi pada satu persoalan, tetapi dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Libatkan 4.780 Mahasiswa dari 49 PTMA

Program inovasi di Dusun Jeding merupakan bagian dari rangkaian KKN MAs 2026 yang melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Kepala Divisi Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., menyebut sekitar 4.780 mahasiswa dari 49 PTMA terlibat dalam kegiatan tersebut.

Mahasiswa ditempatkan dalam kelompok lintas perguruan tinggi. Pola tersebut memungkinkan mahasiswa dari berbagai kampus dan disiplin keilmuan berkolaborasi untuk mencari solusi terhadap persoalan yang ditemukan di wilayah pengabdian.

Arina menegaskan bahwa KKN MAs tidak sekadar menjadi kegiatan rutin mahasiswa di tengah masyarakat. Program tersebut diarahkan agar menghasilkan karya yang benar-benar memberikan dampak.

«“Mahasiswa berdampak sesuai dengan tagline dari KKN MAs dan juga tagline dari kampus UMM, Mandiri, Inovasi, Berdampak,” kata Arina.»

120 Produk Inovasi Dipamerkan

Berbagai hasil KKN kemudian ditampilkan melalui Expo Gelar Produk yang menghadirkan sekitar 120 stand inovasi.

Produk yang dipamerkan merupakan hasil pengabdian mahasiswa selama satu bulan. Namun, program tersebut tidak dibuat secara instan. Sebelum diterapkan di lapangan, berbagai program telah dirancang dan dikembangkan bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sejak sekitar enam bulan sebelumnya.

Inovasi yang dihasilkan pun beragam. Selain produk pengolahan limbah dan pangan, mahasiswa mengembangkan teknologi tepat guna, Internet of Things (IoT) untuk pertanian, pengembangan UMKM, kampung wisata, budidaya ikan hingga teknologi pengolahan air.

Bahkan, salah satu teknologi pengolahan air yang dikembangkan mahasiswa di wilayah Malang Selatan telah diarahkan menuju proses pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Bagi UMM, expo tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanan inovasi mahasiswa. Produk yang dinilai memiliki potensi akan terus mendapatkan pendampingan sehingga dapat dikembangkan dan, jika memungkinkan, masuk ke tahap hilirisasi serta kerja sama dengan dunia industri.

Arina berharap berbagai gagasan yang lahir dari KKN tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan lokasi pengabdian.

«“Harapannya ini memang betul-betul ide ini tidak berhenti sampai sini karena menjadi dampak nyata,” ujarnya.»

Program di Dusun Jeding menjadi gambaran bagaimana KKN dapat menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Limbah kayu yang sebelumnya terbuang diolah menjadi biokar, sampah organik dimanfaatkan melalui budidaya maggot, sementara daun kelor dikembangkan menjadi produk pangan yang mendukung program kesehatan.

Pada akhirnya, keberhasilan KKN bukan semata-mata diukur dari banyaknya program yang berhasil dilaksanakan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana inovasi tersebut mampu diteruskan, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus. Ans

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.