KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Zeby Agustian, Muktamar Nahdlatul Ulama bukan hanya momentum untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi, tetapi juga kesempatan untuk meneguhkan kembali semangat persaudaraan, kebersamaan, dan khidmah kepada umat.
Dalam setiap muktamar, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Perbedaan pilihan dan gagasan adalah hal yang wajar dalam kehidupan sebuah organisasi besar. Namun, di atas seluruh perbedaan itu terdapat nilai yang jauh lebih penting untuk dijaga yaitu persaudaraan dan kerukunan sesuai amanah para guru dan para kiai.
Muktamar hendaknya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan dengan sikap saling menghormati.
Baca juga: Dinamika Muktamar NU ke-35: Pemilihan Ketua Umum PBNU Resmi Beralih ke Sistem AHWA
Perbedaan tidak semestinya menjadi jarak, tetapi menjadi kekayaan yang dapat memperkuat organisasi.
NU memiliki sejarah panjang sebagai rumah besar bagi masyarakat. Karena itu, NU perlu terus hadir sebagai kekuatan yang mampu merangkul berbagai lapisan, mendengarkan beragam pandangan, dan mengutamakan kemaslahatan umat serta bangsa.Nahdlatul ulama adalah milik semua.
Semasa saya di jawa timur para guru selalu mengutip Pesan Hadratussyekh KH Hasyim Asy, “Barangsiapa yang mau mengurus NU, akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku, akan kudoakan husnul khatimah beserta anak-cucunya.” Zeby agustian
Makna tersebut mengandung pesan bahwa setiap warga NU memiliki ruang untuk berkontribusi, menyampaikan gagasan, dan mengambil bagian dalam perjalanan organisasi.
Tidak ada perbedaan pilihan yang semestinya menghilangkan rasa persaudaraan.Kepemimpinan yang lahir dari muktamar pun diharapkan mampu menjadi kepemimpinan yang merangkul.
Amanah bukan sekadar tentang memimpin organisasi, tetapi tentang menjaga kepercayaan, memperkuat persatuan, dan memastikan NU tetap menjadi tempat bertemunya berbagai perbedaan dalam semangat khidmah.
Muktamar yang baik bukan hanya diukur dari proses pemilihan dan keputusan yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan seluruh elemen di dalamnya menjaga suasana yang sejuk, tertib, dan penuh penghormatan.
Sebab NU memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar daripada sekadar kepentingan internal organisasi. Keteladanan NU dalam mengelola perbedaan akan menjadi bagian dari kontribusinya dalam merawat kehidupan sosial dan kebangsaan.
Karena itu, mari menjadikan muktamar sebagai momentum untuk memperkuat tali persaudaraan.
Berbeda dalam pilihan, tetap satu dalam persaudaraan. Beragam dalam gagasan, tetap bersama dalam khidmah.
Pada akhirnya, “bukan siapa yang paling unggul yang menjadi ukuran utama, melainkan seberapa besar kita mampu menjaga NU tetap kuat, teduh, dan bermanfaat bagi umat”.Zeby


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.