JOMBANG | JATIMSATUNEWS.COM: Muhasabah dan Halaqoh (Muhalaqoh) Internasional diselenggarakan Gerakan Nasional Ayo Mondok (Gernas Ayo Mondok) di Gelora Abi As’ad UNIPDU Rejoso Jombang, Kamis (27/8/2026).
Diikuti sekitar 550 peserta tersebut menghadirkan para pengasuh pondok pesantren dan pemerhati pendidikan pesantren dari berbagai wilayah Indonesia. Forum ini sekaligus menjadi bagian dari kemeriahan dan tabarukan terhadap momentum Muktamar NU ke-35 yang digelar di Jombang.
Ketua Panitia Muhasabah dan Halaqoh Internasional, Ning Luluk Farida Muchtar, mengatakan kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar sebagai forum silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman tentang kehidupan, pendidikan, dan kiprah warga Nahdlatul Ulama di berbagai negara.
«“Kami ingin memanfaatkan momentum Muktamar NU ke-35 ini untuk mempertemukan para pengasuh dan pemerhati pesantren dengan para tokoh NU yang memiliki pengalaman berkiprah di berbagai negara. Dari sini kita berharap ada wawasan baru yang bisa dibawa pulang dan dikembangkan di pesantren,” ujar Ning Luluk.»
Menurutnya, pengalaman para tokoh NU yang berada di luar negeri sangat penting untuk dibagikan kepada para pengelola pesantren. Terlebih, dunia pendidikan terus berkembang dan santri memiliki peluang yang semakin terbuka untuk melanjutkan studi ke berbagai negara.
“Santri jangan hanya memiliki wawasan tentang lingkungan sekitarnya. Kita ingin mereka juga mengetahui bahwa ada banyak peluang pendidikan di luar negeri, termasuk beasiswa. Karena itu, informasi dan pengalaman dari para tokoh yang sudah lebih dahulu berkiprah di luar negeri sangat penting,” katanya.
Ning Luluk menambahkan, Muhasabah Internasional juga menjadi bagian dari ikhtiar untuk membangun jejaring pendidikan pesantren yang lebih luas.
“Pesantren memiliki potensi yang sangat besar. Kita ingin lulusan pesantren tidak hanya kuat dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga memiliki wawasan global, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu bersaing di tingkat internasional,” tegasnya.
Hadirkan Tokoh NU dari Berbagai Negara
Muhasabah dan Halaqoh Internasional dikemas dalam tiga rangkaian kegiatan, yakni pembukaan, talkshow, dan liwetan.
Pada sesi pembukaan, sambutan disampaikan oleh Ketua Panitia Ning Luluk Farida Muchtar, kemudian tuan rumah Drs. KH. Zaimuddin Wijaya As’ad, SU, dan Ketua Umum Gernas Ayo Mondok KH. Luqman Harist Dimyati.
Puncak kegiatan berlangsung melalui talkshow yang dipandu Ning Evi Ghozaly dan Ning Dr. Hj. Luluk Farida Muchtar.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh NU yang memiliki pengalaman berkiprah di berbagai negara.
Di antaranya Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, M.A., L.M.L., Ph.D., akademisi, cendekiawan dan ulama asal Indonesia yang menjabat sebagai guru besar di Universitas Melbourne.
Hadir pula Abdul Syakir, Ketua Tanfidziyah PCINU United Kingdom; KH. Mukhlason Jalaluddin, Lc., M.M., Rais Syuriah PCINU Mesir; dan Achmad Gazali, Ketua PCINU Jepang.
Sementara dari dunia teknologi informasi hadir Ainun Najib, pakar teknologi informasi yang berkiprah di Singapura.
Dari Maroko, hadir Subhan Ghozaly, Lc., Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko. Turut menjadi narasumber H. M. Zahrul Azhar, S.IP., M.Kes., Sekjen Gernas Ayo Mondok, serta Dr. H. Syaiful Mustofa, M.Pd., M.A., Owner YAKAREEM CENTER, lembaga bimbingan belajar beasiswa kuliah dalam dan luar negeri.
Kehadiran para tokoh tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai pengalaman pendidikan, organisasi, kehidupan diaspora, teknologi, hingga peluang studi di luar negeri.
Ning Luluk menilai pengalaman tersebut penting untuk membuka cakrawala para pengasuh pesantren.
«“Kita ingin membuka cakrawala. Bahwa dunia ini luas dan kesempatan bagi santri juga luas. Mereka bisa belajar di mana saja, termasuk di luar negeri, sepanjang memiliki kemampuan dan mendapatkan informasi serta pendampingan yang tepat,” ungkapnya.»
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat melahirkan jejaring dan tindak lanjut nyata bagi pengembangan pendidikan pesantren.
“Harapannya, setelah kegiatan ini ada tindak lanjut. Informasi mengenai beasiswa, pengalaman belajar di luar negeri, dan jejaring internasional bisa diteruskan kepada para santri sehingga semakin banyak anak pesantren yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri,” tuturnya.
Ditutup Liwetan Ala Pesantren Tempo Dulu
Setelah rangkaian talkshow, Muhasabah & Halaqoh Internasional ditutup dengan suasana penuh keakraban melalui liwetan ala pondok pesantren tempo dulu.
Nasi liwet disajikan di atas daun pisang, lengkap dengan sambal, sayur, dan aneka lauk-pauk. Satu hamparan daun pisang disantap bersama oleh sekitar 10 orang.
Suasana tersebut menghadirkan kembali tradisi kebersamaan yang lekat dengan kehidupan pesantren.
“Justru di tengah pembicaraan kita tentang dunia internasional, kita tutup dengan liwetan. Ini mengingatkan kita bahwa sejauh apa pun santri pergi dan setinggi apa pun pendidikan yang ditempuh, jangan sampai lupa dengan akar dan tradisi pesantren,” kata Ning Luluk.
Menurutnya, tradisi liwetan memiliki makna penting karena mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, dan persaudaraan.
“Liwetan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Kita makan bersama, duduk bersama, tidak ada sekat. Nilai-nilai seperti inilah yang harus tetap kita bawa, termasuk ketika santri nantinya belajar dan berkiprah di berbagai negara,” pungkasnya.
Muhasabah dan Halaqoh Internasional Gernas Ayo Mondok akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara tradisi pesantren dan wawasan global. Dari Jombang, para peserta diajak melihat bahwa santri dapat menatap dunia, mengejar pendidikan setinggi mungkin, dan berkiprah secara internasional, tanpa harus kehilangan identitas dan nilai-nilai pesantren. Ans



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.