Langsung ke konten
Kamis, 27 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Umar Ma’ruf: Muktamar Harus Meneguhkan Solusi, Bukan Sekadar Suksesi

Jelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), perhatian publik dan media massa sebagian besar masih tertuju pada

Kader Muda Nahdlatul Ulama, Umar Ma'ruf.

Kader Muda Nahdlatul Ulama, Umar Ma'ruf.

JOMBANG | JATIMSATUNEWS.COM: Jelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), perhatian publik dan media massa sebagian besar masih tertuju pada dinamika bursa calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Aksi saling klaim dukungan, manuver pengondisian suara, hingga isu keterlibatan kekuatan eksternal mewarnai riuhnya konstelasi menuju pucuk pimpinan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.

Maraknya praktik yang dinilai menjauh dari tradisi akhlakul karimah dan kultur tawadhu khas Nahdliyin tersebut menuai sorotan tajam. Fenomena perburuan posisi pimpinan ini dipandang menggeser nilai-nilai dasar jam’iyah yang seharusnya mengedepankan musyawarah dan pemikiran bagi kemaslahatan umat.

Menanggapi fenomena tersebut, Kader Muda Nahdlatul Ulama, Umar Ma’ruf, menyampaikan kritik serta dorongan moral secara terbuka. Ia menilai Muktamar NU belakangan ini kerap terjebak dalam horse-race coverage—sebuah kondisi di mana liputan dan perhatian publik habis tersedot hanya untuk melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah.

“Kalau kita lihat hari ini, Muktamar NU itu kayak terjebak dalam apa istilahnya horse-race coverage ya. Liputan media, atensi publik, semuanya habis tersedot cuma buat ngeliatin siapa menang, siapa kalah, atau siapa dukung siapa. Sayang banget, gitu. Padahal marwah forum tertinggi jam’iyah ini kan bukan di situ,” kata Umar Ma’ruf saat diwawancarai.

Ia pun mendorong agar warga Nahdliyin khususnya para muktamirin untuk menyatukan energi serta mengalihkan fokus pada agenda yang jauh lebih mendesak, baik di ranah penataan internal organisasi maupun persoalan kebangsaan dan kerakyatan.

“Harusnya energi kita warga nu, terutama muktamirin peserta ya, difokusin bareng-bareng buat beberes masalah internal jam’iyah, gimana caranya tata kelola organisasi ini makin solid dan transparan. Terus, langsung rumusin langkah nyata buat problem riil warga di akar rumput, mulai dari ekonomi, ekologi, kesehatan, pendidikan sampai isu kebangsaan. Nah, di itu ujian sebenernya,” ujar Umar Ma’ruf.

Ia menegaskan kembali bahwa kemaslahatan jam’iyah harus menjadi prioritas di atas kepentingan politik praktis maupun perebutan takhta. Kehadiran solusi konkret untuk jam’iyah dan perbaikan hidup jama’ah (warga nahdliyin) adalah hal paling utama yang wajib dilahirkan dari forum sebesar muktamar.

Umar menaruh harapan besar agar para muktamirin mampu menjaga kemurnian muktamar dan mengembalikan orientasi utamanya. Pemilihan pimpinan sejatinya hanyalah proses alamiah untuk menjalankan roda kepengurusan, namun gagasan strategis serta solusi nyata bagi jam’iyah dan jamaah harus tetap menjadi hal utama.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.