MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program kerja pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengembangan pertanian dan peternakan berkelanjutan melalui pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan silase pakan ternak. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat desa melalui penguatan kapasitas petani dan peternak di Dusun Mulyoasri, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.
Program pemberdayaan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan Kelompok Tani (Poktan) dan seluruh warga Dusun Mulyoasri secara langsung. Mahasiswa KKN tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga berupaya menggali potensi dan kebutuhan masyarakat agar program yang diberikan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil observasi dan identifikasi bersama perangkat desa, ditemukan dua persoalan mendasar yang dihadapi warga, yaitu limbah pertanian yang menumpuk tidak terkelola dan kelangkaan pakan ternak di musim kemarau.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memberikan pendampingan dan edukasi terkait pengolahan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi, mulai dari pengumpulan bahan baku, proses fermentasi, hingga teknik aplikasi yang tepat. Pada program pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), warga diajarkan memanfaatkan limbah sayuran dan buah busuk yang difermentasi menggunakan EM4 Pertanian dan tetes tebu dalam galon bekas selama 7 hingga 14 hari. Hasilnya adalah pupuk cair bernutrisi tinggi yang dapat menggantikan pupuk kimia, sehingga biaya produksi pertanian dapat ditekan.
Sementara itu, program pembuatan silase menjadi solusi atas kelangkaan pakan ternak di musim kemarau. Dengan teknik fermentasi anaerob dalam drum plastik, peternak diajarkan mengawetkan pakan berkualitas menggunakan bahan baku lokal seperti batang pisang, dedak padi, dan tetes tebu. Silase yang dihasilkan dapat bertahan hingga berbulan-bulan, sehingga peternak tidak perlu khawatir kehabisan pakan saat musim kemarau tiba.
Kepala Desa Mulyoasri, Muhamad Santoso, mengungkapkan bahwa selama ini petani di wilayahnya sangat mengeluhkan harga pupuk yang terus naik setiap tahun. Padahal di sekitar mereka, limbah sayuran dan sisa pertanian melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. “Saya berharap dengan adanya pelatihan ini, warga bisa memanfaatkan potensi yang sudah ada untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesuburan tanah secara alami,” ujar Kepala Desa Mulyoasri saat ditemui di kantor desa, Rabu (12/8/2026).
Kepala Desa Mulyoasri juga turut menyambut baik program silase ini. Menurutnya, selama musim kemarau tiba, warga selalu kesulitan mencari pakan ternak karena rumput dan hijauan segar sulit didapat. “Biasanya kami harus jauh-jauh mencari rumput ke luar desa, itu pun belum tentu cukup. Dengan adanya pelatihan silase ini, saya berharap warga bisa menyimpan stok pakan dari sekarang sehingga saat kemarau tiba, ternak tetap bisa makan dengan baik,” tuturnya.

Pelatihan yang dijadwalkan pada 12, 14, 18, dan 21 Agustus 2026 untuk pembuatan POC dan 21 Agustus 2026 untuk pembuatan silase ini diikuti oleh seluruh elemen warga Dusun Mulyoasri. Kelompok Tani setempat tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga ujung tombak keberlanjutan program setelah mahasiswa KKN kembali ke kampus. Ketua Poktan Dusun Mulyoasri menyampaikan apresiasi mendalam. “Kami sering mendapat bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah, tapi jarang yang mengajarkan cara mengolah limbah sendiri. Ini beda. Ini memberdayakan,” ujarnya.
Pemberdayaan petani dan peternak menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung perekonomian masyarakat desa. Potensi perkebunan kopi dan cengkeh seluas 509 hektare serta populasi ternak kambing yang mencapai ribuan ekor menjadikan Dusun Mulyoasri sebagai kawasan agraris yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Dengan adanya program ini, diharapkan terjadi sinergi antara sektor pertanian dan peternakan yang saling menguntungkan.
Antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan juga menjadi dorongan bagi mahasiswa untuk terus memberikan pendampingan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Interaksi secara langsung dengan petani dan peternak membuat mahasiswa dapat memahami berbagai tantangan yang dihadapi, sekaligus menemukan peluang pengembangan yang dapat dilakukan. Ibu-ibu rumah tangga pun tidak mau ketinggalan, mereka ingin memanfaatkan sisa sayuran dapur untuk dibuat pupuk cair yang bisa digunakan di pekarangan rumah.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UMM 147 berharap warga Dusun Mulyoasri semakin mampu mengelola limbah pertanian dan peternakan secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta memiliki ketahanan pakan ternak sepanjang tahun. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui penerapan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan.
Keberhasilan program ini diukur dari keterlibatan aktif masyarakat, manfaat yang dirasakan kelompok sasaran, dan potensi keberlanjutan setelah KKN berakhir. Dengan memproduksi pupuk cair sendiri, petani dapat menghemat biaya pembelian pupuk kimia yang mencapai ratusan ribu rupiah per musim tanam. Sementara itu, silase memungkinkan peternak menjaga stabilitas produksi susu dan daging sepanjang tahun. Limbah sayuran yang dulu dibuang kini difermentasi menjadi pupuk cair yang menyuburkan kebun, sementara sisa panen dapat difermentasi menjadi silase sebagai pakan ternak berkualitas. Tidak ada yang terbuang. Semua mengalir dalam satu siklus produktif yang saling menguntungkan antara peternak dan petani.
Kegiatan pemberdayaan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem pertanian terpadu yang lebih kuat di Dusun Mulyoasri, sehingga potensi ekonomi lokal dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan sumber daya alam yang melimpah, dukungan penuh dari warga dan Poktan, serta pendampingan dari perguruan tinggi, Dusun Mulyoasri bergerak menuju kemandirian pangan dan energi desa. Dari limbah yang nyaris terlupakan, mereka mulai membangun masa depan yang lebih hijau, lebih pintar, dan lebih sejahtera


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.