
Lombok Barat
MATARAM| JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Brawijaya (UB) bersama Universitas Mataram (UNRAM) mendorong gula semut aren Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, naik kelas. Melalui penguatan standar mutu, teknologi pengemasan, dan branding produk.
Pendampingan melalui Program Doktor Mengabdi UB ini diarahkan untuk menghasilkan gula semut yang lebih konsisten, bernilai tambah, dan memiliki daya saing pasar.Gula semut aren Batu Mekar memiliki cita rasa khas dan potensi ekonomi yang menjanjikan.
Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan pada konsistensi mutu, pengendalian kualitas bahan baku, serta kemasan dan identitas produk yang belum optimal. Karena itu, pendampingan dilakukan secara terintegrasi dari nira hingga produk siap pasar.
Pada aspek mutu, pelaku usaha memperoleh bimbingan teknis standardisasi serta pelatihan penggunaan pH meter untuk mengontrol tingkat keasaman nira sebelum diolah.
Masyarakat juga dilatih mengevaluasi warna, aroma, tekstur, dan kadar air gula semut menggunakan metode sederhana, termasuk uji gumpal, sehingga pengendalian mutu dapat dilakukan secara mandiri dan rutin.Pendampingan tidak berhenti pada kualitas produk.
Tim UB–UNRAM memperkuat identitas gula semut melalui pengembangan logo, label, dan kemasan marketable. Kelompok tani juga mendapat pelatihan desain menggunakan Canva serta penggunaan hand sealer agar mampu menghasilkan kemasan yang lebih menarik, rapi, higienis, dan kedap udara.
Produk kemudian dikembangkan dalam kemasan standing pouch 200 gram dan sachet 10 gram untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih beragam. Kemasan baru tidak hanya memperbaiki tampilan, tetapi menjadi bagian dari strategi membangun kepercayaan konsumen dan membuka akses ke toko oleh-oleh, pasar modern, hingga pemasaran digital.
Ketua pelaksana Prof. Dr. Siti Asmaul Mustaniroh yang melibatkan tim dosen dan mahasiswa UB–UNRAM, serta didukung Pemerintah Desa Batu Mekar dan Kelompok Tani Mule Jati. menegaskan bahwa peningkatan daya saing produk lokal harus dilakukan secara menyeluruh.
“Produk yang mampu naik kelas tidak cukup hanya memiliki rasa yang baik. Mutu harus konsisten, kemasan harus meyakinkan, dan produk harus memiliki identitas yang kuat agar semakin dipercaya konsumen dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Melalui pendampingan ini, Kelompok Tani Mule Jati tidak hanya memperoleh inovasi produk, tetapi juga keterampilan untuk mengendalikan mutu, mendesain label, dan melakukan pengemasan secara mandiri. Modul dan panduan teknis yang disusun tim menjadi instrumen untuk menjaga keberlanjutan program setelah pendampingan berakhir.
Kolaborasi UB, UNRAM, pemerintah desa, dan masyarakat menunjukkan bahwa hilirisasi ilmu pengetahuan dapat memberikan dampak nyata ketika teknologi produksi dipadukan dengan standardisasi, branding, dan strategi pasar. Dengan pendekatan tersebut, gula semut aren Batu Mekar diharapkan berkembang menjadi produk unggulan desa yang berkualitas, beridentitas, bernilai tambah, dan berdaya saing secara berkelanjutan.
Program ini sekaligus mendukung SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 tentang industri dan inovasi, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Ans


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.