Langsung ke konten
Jumat, 14 Agustus 2026
Headline Ketua Perbasi Sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini Persiapkan Atlet Hadapi Popda 2026, Target Juara
Nasional

Putra Jepara Raih Wisudawan Terbaik UNESA Pada Wisuda Ke-121 Tahun 2026

Wisudawan Terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Habib Nihla Thohari.

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Bagi Habib Nihla Thohari, pendidikan bukan sekadar jalan untuk mendapatkan gelar. Pendidikan menjadi cara untuk membawa mimpi yang tumbuh dari keluarga sederhana di Jepara, Jawa Tengah, melangkah lebih jauh. Perjalanan itu kini mengantarkannya menjadi Wisudawan Terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan IPK 3,91 berpredikat pujian.

Habib tumbuh dalam keluarga yang selalu menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting. Kedua orang tuanya, Busairi dan Noor Wahidatun, sehari-hari bekerja sebagai penenun sekaligus guru Madrasah Diniyah di kampung halamannya. Di tengah kesederhanaan, keduanya selalu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan menjadi salah satu jalan bagi anak-anaknya untuk memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik.

Perjuangan kedua orang tuanya menjadi salah satu alasan Habib berusaha memanfaatkan kesempatan kuliah dengan sebaik mungkin. Kesempatan itu semakin terbuka ketika ia memperoleh KIP Kuliah untuk menempuh pendidikan S-1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di UNESA. Baginya, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan biaya pendidikan, tetapi juga amanah untuk terus belajar dan membuktikan bahwa keadaan ekonomi keluarga tidak harus membatasi cita-cita seseorang.

Perjalanan di bangku kuliah pun tidak langsung berjalan mulus. Pada awal perkuliahan, Habib mengaku sempat minder dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Organisasi kemudian menjadi salah satu ruang yang membentuk dirinya. Ia dipercaya menjadi Ketua PMII Rayon Sosial periode 2025–2026 serta Ketua Forum Mahasiswa Jepara UNESA periode 2025–2026. Pengalaman tersebut membuatnya belajar memimpin, membangun komunikasi, menyelesaikan perbedaan, sekaligus berani mengambil berbagai kesempatan. Baginya, aktif berorganisasi tidak harus menjadi alasan untuk meninggalkan akademik. Justru keduanya menjadi ruang belajar yang saling melengkapi. Dari ruang kelas ia belajar membangun pengetahuan dan cara berpikir, sedangkan dari organisasi ia belajar menerapkan gagasan, memimpin, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap orang lain. Prinsip itulah yang berusaha ia pegang selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Keberanian mencoba juga membawanya pada sejumlah pencapaian. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan dalam kompetisi, Habib berhasil meraih Juara I Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) tingkat FISIPOL sekaligus Best Speaker, lolos pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha dan LPPM, menjadi semifinalis kompetisi debat nasional tingkat Otorita Ibu Kota Nusantara, hingga meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat internasional bersama tim. Ia juga dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi tingkat Program Studi PPKn pada tahun 2024.

Di bidang akademik, Habib menaruh perhatian pada persoalan pendidikan melalui penelitian mengenai penguatan karakter cinta damai dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila sebagai upaya pencegahan bullying. Penelitian tersebut kemudian dikembangkan menjadi artikel ilmiah dan berhasil dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 3.

Berbagai pencapaian itu tidak membuat Habib melupakan perjalanan yang membawanya sampai pada titik tersebut. Baginya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan merupakan hasil dari banyak hal yang berjalan bersama: doa dan perjuangan orang tua, kesempatan memperoleh pendidikan, lingkungan yang membentuknya, keberanian mencoba, serta kegagalan-kegagalan yang membuatnya terus belajar memperbaiki diri. Seluruh proses itu akhirnya mengantarkannya menjadi Wisudawan Terbaik FISIPOL UNESA. Namun, Habib memandang pencapaian tersebut bukan semata tentang IPK ataupun deretan penghargaan, melainkan tentang perjalanan seorang mahasiswa yang pernah merasa minder dan berkali-kali gagal, tetapi memilih untuk terus bertumbuh.

“Saya belajar bahwa latar belakang tidak seharusnya menentukan seberapa jauh kita berani bermimpi. Saya hanya berusaha menggunakan setiap kesempatan yang diberikan, terus belajar dari kegagalan, dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap proses,” ungkapnya.

Baginya, perjalanan pendidikan belum selesai ketika gelar diperoleh. Justru dari sanalah tanggung jawab baru dimulai: membawa ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh agar suatu hari dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.