MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, menegaskan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa baru tidak boleh berhenti di kegiatan seremonial semata. PBAK, katanya, harus menjadi pintu pertama pembentukan karakter mahasiswa, sekaligus sarana mengenalkan mereka pada persoalan nyata umat manusia dan masa depan bumi, salah satunya lewat kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Setiap tahun, ribuan mahasiswa baru memasuki gerbang perguruan tinggi. Mereka membawa cita-cita, latar belakang keluarga, pengalaman sekolah, sampai pertanyaan tentang masa depan. Bagi mereka, kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar. Kampus adalah ruang untuk menemukan identitas, membangun jejaring, mengembangkan kompetensi, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia yang terus berubah.
Prof. Ilfi menjelaskan, selama ini PBAK sering dipahami sebatas masa pengenalan lingkungan kampus: fakultas, program studi, organisasi kemahasiswaan, dosen, fasilitas, aturan akademik, sampai berbagai layanan mahasiswa. Semua itu penting. Tapi menurutnya, tantangan generasi mahasiswa sekarang jauh lebih rumit. Mereka akan hidup di dunia yang bergulat dengan perubahan iklim, ketimpangan sosial, kemiskinan, krisis pangan, transformasi digital, kecerdasan buatan, konflik kemanusiaan, disrupsi pekerjaan, hingga perubahan pola kehidupan masyarakat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menanamkan kesadaran kepada mahasiswa baru bahwa pendidikan tinggi bukan cuma investasi pribadi, tapi juga investasi sosial. PBAK, kata dia, semestinya mulai menanamkan pertanyaan mendasar: untuk apa ilmu yang dipelajari, untuk siapa ilmu itu digunakan, dan persoalan apa yang bisa diselesaikan dengan ilmu tersebut.
SDGs, lanjutnya, menyediakan kerangka global yang bisa mempertemukan idealisme pendidikan tinggi dengan persoalan kehidupan nyata. Dari 17 tujuan SDGs, mulai dari pengentasan kemiskinan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih, energi bersih, pekerjaan layak, pengurangan kesenjangan, sampai perdamaian dan kemitraan, semuanya menurut dia sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa sehari-hari.
Sebagai rektor perguruan tinggi Islam, Prof. Ilfi juga mengaitkan SDGs dengan nilai-nilai keislaman. Islam, katanya, mengajarkan manusia punya tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh, bukan hanya pengguna sumber daya alam, melainkan juga penjaga kehidupan. Prinsip keadilan (al-‘adl), kemaslahatan (maslahah), kasih sayang (rahmah), keseimbangan (mizan), dan tanggung jawab sosial, menurutnya, punya titik temu kuat dengan agenda pembangunan berkelanjutan itu.
Karena itu, ia menegaskan PBAK berbasis SDGs di perguruan tinggi Islam bukan sekadar menambahkan materi SDGs ke susunan acara. Lebih dari itu, PBAK perlu membangun cara pandang bahwa menjadi mahasiswa berarti menjadi bagian dari solusi atas persoalan kemanusiaan. Ia mencontohkan, mahasiswa kedokteran dan keperawatan semestinya tidak hanya belajar merawat pasien, tapi juga memahami isu kesehatan masyarakat. Mahasiswa ekonomi tidak hanya belajar mencari untung, tapi juga membangun ekonomi yang inklusif. Mahasiswa teknik tidak hanya menciptakan teknologi, tapi juga memikirkan dampaknya pada lingkungan. Mahasiswa pendidikan pun tidak hanya disiapkan jadi calon guru, melainkan calon pembangun manusia.
Prof. Ilfi menambahkan, PBAK semestinya tidak dirancang sebagai kegiatan satu arah. Mahasiswa baru, menurutnya, jangan cuma duduk mendengarkan ceramah berjam-jam. Mereka perlu diajak mengalami, mengamati, berdiskusi, dan menghasilkan sesuatu.

