Langsung ke konten
Sabtu, 5 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Artikel

Mengayuh Mimpi dari Kampung ke Negeri Jerman

FEATURE | JATIMSATUNEWS.COM – Di sebuah kampung pinggiran kota, seorang anak laki-laki hidup dalam
kesederhanaan. Setiap pagi ia melihat ayahnya mengayuh sepeda tua dengan dua
karung garam di belakang, berkeliling dari pasar ke pasar. Tangan ayahnya kasar
karena garam, tetapi senyumnya tidak pernah hilang. Dari situlah ia belajar
bahwa hidup boleh keras, tetapi langkah tidak boleh berhenti. Ia tumbuh dengan
keyakinan bahwa meski keluarganya sederhana, mimpinya tetap boleh besar.

Selepas SMA, ia membuat keputusan yang jarang dipilih orang
lain di kampungnya. Ia memilih jurusan Pendidikan Bahasa
Jerman di Universitas Negeri Surabaya. Banyak yang terkejut,
bahkan ada yang menganggap pilihannya itu aneh dan tidak realistis. “Untuk apa belajar
bahasa yang tidak semua orang pakai?” begitu
komentar yang sering
ia dengar. Namun ia tetap melangkah. Baginya, bahasa adalah pintu menuju
tempat yang lebih luas, kesempatan untuk keluar dari lingkaran keterbatasan
yang sudah lama membayangi keluarganya. Ia tahu jalannya akan panjang, tetapi
ia juga tahu ia tidak sendirian, karena setiap langkahnya seakan membawa
harapan ayahnya yang memikul garam setiap hari.

Hari-hari kuliahnya dijalani dengan penuh kesederhanaan. Ia
berangkat sejak pagi, membawa bekal yang disiapkan dari rumah. Sebelumnya, ia sempat mencoba tinggal di kos, berharap dapat fokus belajar tanpa harus
pulang-pergi setiap hari. Namun pengalaman selama ngekos tidak berjalan seperti harapannya. Ia mendapat perlakuan merendahkan dari beberapa orang di 
sekitarnya. Ada yang mengejek cara berpakaiannya, ada yang menyindir
bahwa ayahnya “hanya pedagang garam keliling.” Kata-kata itu tajam, jauh lebih tajam daripada kristal garam yang pernah
melukai tangannya waktu kecil dulu. Pada akhirnya ia memilih
meninggalkan kos dan kembali pulang-pergi tiap hari dengan uang saku yang hanya cukup untuk ongkos
transportasi umum. Jika lelah, ia menahannya. Jika sedih, ia simpan sendiri.
Namun ia tidak pernah membiarkan ejekan itu mematikan
langkahnya.

Usahanya perlahan berbuah. Setelah lulus dari Universitas
Negeri Surabaya, ia mendapat kesempatan tinggal selama satu tahun di Jerman
sebagai Au-Pair. Di sana ia belajar
tentang budaya, bahasa, cara bekerja, dan cara memandang
dunia. Pengalaman itu menjadi titik balik yang membuka cakrawala baru dalam
hidupnya. Sepulang dari Jerman, ia mulai bekerja di Wisma Jerman pada tahun
2014 sebagai pengajar bahasa Jerman. Cara mengajarnya yang sabar, tidak
menghakimi, dan hangat membuat banyak siswanya merasa nyaman. Perlahan tapi
pasti, ia menjadi salah satu pengajar yang dihormati di sana. Tak lama kemudian, ia juga dipercaya menjadi guru bahasa Jerman di salah satu SMA ternama di
Surabaya.

Namun perjalanan itu tidak hanya soal pendidikan dan
profesi. Ia juga belajar merawat keseimbangan
hidup. Di waktu luang, ia senang berolahraga untuk menjaga tubuh dan pikirannya tetap kuat. Ketika pulang
ke rumah, ia menikmati waktu bersama keluarga, berbincang sederhana,
dan tertawa ringan. Ada satu buku yang selalu ia sebut saat diminta rekomendasi
yakni berjudul “Negeri 5 Menara”,
buku yang tokohnya
juga berangkat dari keterbatasan
namun memilih untuk tidak membatasi mimpi. Ia merasa dirinya menemukan
dirinya sendiri di dalam cerita itu.

Beberapa tahun berikutnya, ia kembali bolak-balik
Indonesia–Jerman untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan kemampuan. Hidupnya
seperti membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara kampung
yang mengajarinya arti kesederhanaan dan negeri yang memperluas
pandangannya tentang kemungkinan. Kini, ia tengah memperjuangkan langkah
berikutnya: menjadi pegawai negeri
sipil di Jerman.
Ia tahu jalannya
tidak mudah, tetapi
ia juga tahu bahwa ia telah berjalan sejauh ini bukan untuk
berhenti.

Perjalanannya belum selesai. Namun satu hal yang pasti, di setiap pencapaiannya, ada ayah yang masih berkeliling membawa garam, dan ada anak yang tumbuh dari
keteguhan itu. Dulu, ia memegang garam untuk membantu ayahnya. Sekarang ia memegang ilmu, bahasa, dan masa depan yang
ia bentuk sendiri. Setiap langkahnya adalah bukti bahwa mimpi tidak mengenal
latar belakang, tetapi keberanian untuk melangkah dari titik awal yang
sederhana.

Debi Dwi Rohmatul Aini
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Komentar Pembaca

Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.