MALANG | JATIMSATUNEWS.COM:
Pemerintah Kota Malang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Sinergitas Mitra Bakesbangpol di Hotel Aliante, Malang, Senin (26/10/2026).
Forum konsolidasi ini melibatkan empat pilar mitra strategis, yakni Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), serta Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Malang.
​Rakor strategis ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur Eddy Supriyanto, S.STP., M.PSDM, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol. Danang Setiyo Pambudi, S.H., S.I.K., dan Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Gonda Yumitro, Ph.D.
Baca juga:Â Fakultas Syariah UIN Maliki Malang Gelar Rakor Awal Semester, WR I Dorong Transformasi Pembelajaran
Baca juga:Â DPD Apersi Jatim Gelar Rakor dan Kunjungan Lapangan Bersama BP Tapera
Agenda menitikberatkan pada penguatan deteksi dini, penanganan gesekan sosial, serta pemeliharaan kondusivitas wilayah menuju visi Malang Mbois dan Berkelas.
​Dalam pemaparannya, Prof. Gonda Yumitro membedah peran mitra Bakesbangpol dalam menjaga Kota Malang yang kerap dipandang sebagai miniatur Indonesia.
Karakteristik kota dengan mobilitas tinggi—menampung puluhan perguruan tinggi dan jutaan wisatawan—menjadikan Malang rentan terhadap dinamika sosial, infiltrasi radikalisme, hingga konflik berbasis identitas semu.
​”Keberagaman tidak otomatis melahirkan konflik. Hal krusial yang perlu dicegah bersama adalah prasangka, ketidakadilan, serta mobilisasi permusuhan atas nama perbedaan,” tegas Prof. Gonda saat memaparkan materi.
​Ia menggarisbawahi perlunya membedakan gesekan murni kenakalan anak muda dari narasi terorisme agar tidak menimbulkan stigma negatif kelompok. Deteksi dini mesti berlandaskan bukti perilaku, penguatan ruang perjumpaan aktif antaretnis, serta pemanfaatan kontra-narasi di ruang digital.
​Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Bakesbangpol Jatim Eddy Supriyanto menguraikan faktor pemicu disintegrasi bangsa, mulai dari ketimpangan pembangunan, polarisasi identitas, hingga ancaman konflik ideologi.
Ketahanan wilayah dinilai sebagai pondasi penting guna membendung perpecahan melalui penguatan kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat, dan soliditas koordinasi lintas instansi.
​Sementara itu, jajaran Polresta Malang Kota menegaskan komitmen penegakan hukum dan keterlibatan aktif aparat keamanan dalam menjaga stabilitas kamtibmas. Penanganan potensi konflik sosial ditekankan pada respon cepat, klarifikasi informasi hoaks, serta penyelesaian masalah secara humanis dan persuasif melalui dialog bersama tokoh masyarakat.
​Melalui pembagian peran yang terintegrasi, FKUB terus mengawal moderasi beragama, FPK menjembatani interaksi warga lokal dan perantau, FKDM mengoptimalkan pengawasan cegah dini di akar rumput, serta DPPI menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Sinergi seluruh mitra ini diharapkan mewujudkan iklim sosial yang aman, toleran, dan rukun di tengah keberagaman warga Kota Malang.
menjembatani interaksi warga lokal dan perantau, FKDM mengoptimalkan pengawasan cegah dini di akar rumput, serta DPPI menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Sinergi seluruh mitra ini diharapkan mewujudkan iklim sosial yang aman, toleran, dan rukun di tengah keberagaman warga Kota Malang.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.