Langsung ke konten
Senin, 26 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Internasional

Dobrak Kancah Global, 10 Mahasiswa UMM Jalani Magang Setahun di Daihatsu Jepang

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kualitas mahasiswanya di kancah global. Sebanyak 10 mahasiswa angkatan

Potret kebersamaan mahasiswa UMM saat menjalani program magang di Jepang.

Potret kebersamaan mahasiswa UMM saat menjalani program magang di Jepang. (Foto: Istimewa)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kualitas mahasiswanya di kancah global. Sebanyak 10 mahasiswa angkatan 2023 yang terdiri atas lima mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan lima mahasiswa Teknik Industri terpilih mengikuti program magang Daihatsu Kyushu Jepang Batch 2. Mereka telah diberangkatkan sejak 22 Juni lalu untuk menjalani program magang selama satu tahun penuh guna mempelajari proses produksi otomotif sekaligus mengadaptasi budaya kerja industri di Negeri Sakura.

Motivasi Kuat Cari Pengalaman Global

Salah satu peserta dari Program Studi Teknik Mesin, Naufal Zuhdi ‘Athallah, mengungkapkan bahwa ketertarikannya mengikuti program ini berawal dari informasi brosur yang dibagikan oleh pihak jurusan. Keinginan kuat untuk menjajal atmosfer kerja global mendorongnya mantap mendaftarkan diri.

“Kalau saya pribadi, motivasi utamanya adalah mencari pengalaman baru, terutama merasakan langsung bagaimana bekerja di luar negeri,” ungkap Naufal.

Baca juga: Faizah Salsabila Said, Mahasiswi FITK UIN Malang Raih Juara 3 Kategori Podcast Audio di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Baca juga: Konflik Timur Tengah, UMKM Kita yang ‘Berdarah Oleh: Firmanda Ibrahim, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang

Tersebar di Tiga Divisi Utama Produksi

Selama menjalani program di Daihatsu Kyushu, kesepuluh mahasiswa UMM tersebut disebar ke dalam tiga divisi utama sesuai bidang keahlian masing-masing, yakni welding (pengelasan), assembly (perakitan), dan painting (pengecatan). Naufal menjelaskan bahwa setiap divisi memiliki peran krusial yang saling berkaitan dalam alur produksi kendaraan.

Iklan

Pada divisi welding, proses pengelasan kerangka mobil telah menggunakan teknologi robotik, sehingga mahasiswa bertugas menyiapkan penempatan komponen serta memastikan ketersediaan stok produksi. Sementara itu, divisi assembly berfokus pada perakitan komponen kendaraan secara menyeluruh, sedangkan divisi painting menangani tahap akhir pengecatan bodi mobil. Keterlibatan ini memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa mengenai pemanfaatan teknologi mutakhir dan manajemen pembagian tugas di lingkungan manufaktur profesional.

Sebelum terjun langsung ke lini produksi, para peserta wajib mengikuti masa orientasi dan pelatihan selama dua hingga tiga minggu. Pelatihan ini memadukan materi di ruang kelas dengan praktik kerja langsung di lapangan agar mahasiswa lebih cepat beradaptasi dengan standar operasional perusahaan. Dari sisi akademik, pihak UMM turut memberikan dukungan penuh melalui pendampingan dosen untuk proses pembelajaran dan konversi SKS mata kuliah, sedangkan pengurusan dokumen keberangkatan difasilitasi oleh lembaga pendamping program.

Kuasai Bahasa Demi Kelancaran Kerja

Di samping penguasaan teknis, Naufal menekankan bahwa kecakapan berbahasa Jepang menjadi kunci utama kelancaran magang. Kemampuan komunikasi yang baik sangat dibutuhkan agar alur kerja tetap aman dan sesuai prosedur.

“Kemampuan bahasa Jepang sangat penting agar kami bisa memahami instruksi atasan dengan tepat dan tidak melakukan kesalahan saat bekerja. Bahasa juga menjadi jembatan utama untuk berkoordinasi dengan rekan satu tim,” jelasnya.

Bagi Naufal, program magang internasional ini merupakan bekal strategis untuk menghadapi persaingan dunia kerja pascakampus, baik di dalam maupun luar negeri. Menutup ceritanya, ia berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa UMM lainnya agar berani mengambil peluang serupa di masa depan.

“Jangan pernah takut mencoba hal baru. Magang di Jepang bukan sekadar bekerja, tetapi juga proses belajar membangun kedisiplinan, tanggung jawab, cara menghargai waktu, serta etos kerja yang berbeda dari Indonesia,” pungkasnya.(Ans)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.