SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Tim peneliti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya untuk memodelkan kerapatan kanopi hutan mangrove di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar. Penelitian berbasis penginderaan jauh ini memanfaatkan data satelit Sentinel-2 yang divalidasi melalui pengukuran lapangan dengan metode hemispherical photography.
Ketua Tim Penelitian, Bagas Aryaseta, S.T., M.S., menjelaskan bahwa pemantauan kanopi kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) penting untuk menjaga fungsi mangrove sebagai pelindung dari banjir rob dan penyerap karbon pesisir (blue carbon). Ia menyebut mangrove memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang sangat tinggi, berkisar 740–950 Mg C/ha, serta mampu meredam abrasi dan gelombang badai.
Di tingkat global, luas mangrove tercatat menurun sekitar 3,4% sepanjang 1996–2020. Indonesia memiliki sekitar 22–29% mangrove dunia, tetapi masih mengalami deforestasi mangrove dalam beberapa tahun terakhir. Di Surabaya, kawasan Pamurbaya telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi dalam RTRW Kota Surabaya 2014–2034. Meski demikian, Gunung Anyar masih menghadapi tekanan, mulai dari fragmentasi lahan bekas tambak hingga rencana pembangunan infrastruktur jalan di sekitar kawasan.
Penurunan kerapatan kanopi sering terjadi perlahan sehingga sulit terdeteksi lewat pengamatan visual biasa. Karena itu diperlukan pemantauan berbasis satelit yang periodik dan akurat. Penelitian ini menggunakan citra Sentinel-2 Level 2A beresolusi spasial 10 meter, dengan kanal Red Edge dan Short-Wave Infrared yang sensitif terhadap klorofil dan kandungan air pada tajuk vegetasi.
Tiga algoritma indeks vegetasi dibandingkan, yaitu NDVI, GNDVI, dan MVI (Mangrove Vegetation Index). NDVI banyak dipakai, tetapi pada ekosistem mangrove hasilnya dapat bias oleh genangan air dan lumpur basah. MVI dikembangkan khusus untuk mangrove. Studi terdahulu di Taman Nasional Alas Purwo menunjukkan tingkat kesesuaian MVI (40,9%) lebih tinggi daripada NDVI (32,1%), namun validasi lapangan pada studi-studi tersebut masih terbatas. Celah inilah yang hendak dijawab penelitian ini.

Untuk menguji akurasi model, tim akan mengambil data persentase tutupan kanopi di 15 titik menggunakan lensa fisheye yang diarahkan ke atas. Titik ditentukan dengan pendekatan stratified purposive sampling, yakni 5 titik di area kanopi rapat, 5 di area sedang, dan 5 di area rendah. Foto kemudian diolah dengan perangkat lunak Gap Light Analyzer untuk memisahkan piksel langit dan piksel daun. Semakin besar persentase piksel daun, semakin rapat kanopinya.
Performa tiap indeks dinilai menggunakan koefisien determinasi (R²) dan Root Mean Square Error (RMSE). Indeks terbaik akan dipakai untuk menyusun peta kerapatan kanopi seluruh area penelitian, lalu diterapkan pada citra Sentinel-2 lima tahun terakhir untuk melihat tren degradasi atau perbaikan kondisi tajuk mangrove.
Hasil riset ditargetkan menjadi rujukan data ilmiah bagi Pemkot Surabaya dalam mengelola ekosistem pesisir secara berkelanjutan, sekaligus mendukung SDG 13 (penanganan perubahan iklim), SDG 14 (ekosistem lautan), dan SDG 15 (ekosistem daratan). Penelitian ini direncanakan berlanjut pada tahap berikutnya untuk menganalisis dinamika temporal dan hubungan kanopi dengan karakteristik sedimen di area restorasi.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.