Langsung ke konten
Jumat, 23 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Danau Follsjø – Ketemu Air Kaca di Ujung Dunia

Dan kapan hari, saya ada di depan danau yang airnya... astaghfirullah, beningnya ampun ampunan.

Santy sedang menikmati sunyi yang tenang dan jernihnya air Danau Follsjø, Notodden, Norwegia.

Santy sedang menikmati sunyi yang tenang dan jernihnya air Danau Follsjø, Notodden, Norwegia. (Foto: Istimewa)

Catatan Perjalanan Santy Trip

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Saya Santy. Dari Malang.Jangan tanya Malang mana. Malang kota. Bukan Kabupaten. Dan kapan hari, saya ada di depan danau yang airnya… astaghfirullah, beningnya ampun ampunan. Namanya Danau Follsjø. Di Notodden, Norwegia. Coba ucapkan: Foll-syø. Lidah saya sampai keseleo.Orang Malang kalau mau ke sini, niatnya harus sekuat mau nikah. Coba saya hitung: Malang ke Surabaya dulu. 2 jam. Kalau lewat tol. Kalau tidak macet di Porong. Kalau sopir bus tidak berhenti beli rokok dulu.Surabaya ke Oslo? Itu yang gila.Terbangnya lebih dari 20 jam. Transit di Doha atau Istanbul. 20 jam di dalam pesawat. Saya sudah khatam baca juz 30 bolak balik, khatam 3 film India, khatam ngitung berapa kali pramugari lewat, masih belum sampai.Pantat saya sudah berbentuk kursi pesawat.Belum selesai.Dari Oslo ke Notodden, masih 120 kilometer lagi. 2 jam naik mobil. Seperti Malang ke Kediri. Tapi pemandangannya… bukan sawah. Hutan pinus. Air terjun. Dan sepi.Total perjalanan: 26 jam. Malang – Juanda – Langit – Oslo – Notodden.

Kenapa saya bela-belain sejauh itu? Karena saya mau lihat air yang katanya sejernih kaca.Dan ternyata… bohong.Bohong kalau dibilang sejernih kaca.Karena kaca masih kalah bening.Air di Follsjø ini beningnya kebangetan. Pol. Sak pol-pole.Saya berdiri di pinggirnya, pakai jaket 3 lapis, pakai jilbab harus disembunyikan dibalik jaket supaya ndak yang diterbangkan angin, saya bisa lihat batu-batu di dasar danau. Jaraknya mungkin 8 meter ke bawah. Kelihatan jelas. Warnanya gelap. Lumutnya hijau.Ikan trout lewat. Kelihatan seperti burung. Terbang di dalam air.

Baca juga: Adnan Aziz, Dari Benin Menuju Peluang Global: Perjalanan Seorang Pesepak Bola Yang Belum Selesai

Iklan

Baca juga: Adnan Aziz: Dari Benin, Menempuh Perjalanan Panjang Demi Meraih Impian Sepak Bola Internasional

Karena airnya tidak kelihatan.Saya coba celupkan tangan. Dingin! Ya Allah dinginnya! Seperti celup tangan ke kulkasnya Elsa di film Frozen.Tapi saya tidak bisa berhenti. Saya cuci muka. Rasanya… seperti wudhu pakai air yang baru diciptakan Allah kemarin sore. Masih fresh.Di Malang, air bening itu barang langka. Air sumur saya saja agak kuning. Di sini, satu danau isinya air mineral surga.

Saya bengong. Lama banget. Temen saya di sebelah, bule Norwegia asli, bingung lihat saya bengong. Dia kira saya kesurupan.Padahal saya lagi mikir: Ya Allah, kalau ciptaan-Mu saja sebersih ini, gimana caranya saya bikin hati saya sebersih ini juga? Puitis ya saya? Maklum. Efek kelamaan tidak lihat tukang bakso lewat.

Terus di danau seindah ini ngapain aja, San?Saya catat. Buat teman-teman muslimah Malang yang mau nyusul. Nabung dulu ya.
1. Nyebur. Tapi Jangan Kaget.
Boleh berenang di musim panas. Airnya 14-16 derajat. Dinginnya itu jujur. Tidak PHP seperti janji manis. Pas masuk, semua dosa dan lemak saya langsung mengkeret. Tapi setelah 2 menit, badan jadi enteng. Serius. Saya merasa 2 kilo lebih kurus. Padahal cuma kedinginan.
2. Naik Kayak. Jadi Ratu Danau.
Naik kayak dan kayung ke tengah. Terus diam. Di tengah danau, tidak ada suara motor. Tidak ada suara adzan. Tidak ada suara ibu-ibu rebutan jilbab murah. Yang ada cuma suara… jantung saya sendiri. Dan angin. Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun hidup, saya mendengar sunyi yang halal. Saya nangis di atas kayak. Bule di sebelah saya makin bingung.
3. Piknik. Bawa Bekal Dari Malang? Jangan.
Orang Norwegia hobinya duduk di batu, masak kopi pakai kompor kecil. Namanya Friluftsliv. Saya ikutan. Saya bawa termos, isi air panas, bikin pop mie. Makan pop mie di pinggir danau sejernih kaca di Norwegia. Rasanya? Pop mie-nya jadi rasa sultan.
4. Mancing. Buat yang Sabar.
Ikannya banyak. Trout dan Perch. Tapi ikannya pinter-pinter. Tidak seperti lele di Malang yang gampang ditipu. Saya mancing 2 jam. Tidak dapat. Yang dapat malah masuk angin.
5. Yang Paling Penting: Nggak Ngapa-ngapain.
Iya. Di Follsjø, aktivitas paling mewah adalah tidak melakukan apa-apa. Cuma duduk. Lihat air. Lihat langit yang mantul di air. Rasanya langit ada dua. Satu di atas, satu di bawah. Saya di tengah-tengah. Kejepit di antara dua langit.Di situ saya sholat Ashar. Di atas batu. Sajadah saya batu. Mukena saya jaket. Angin jadi imam.Khusyuknya… tidak bisa saya ceritakan. Harus kamu rasakan sendiri.

Iklan

Jadi, teman-teman.Kalau kamu capek sama hidup yang riuh. Capek sama macet Malang. Capek sama deadline. Capek sama grup WA keluarga yang isinya hoax melulu.Coba deh, sekali-sekali, jauh.Jauh banget. 20 jam lebih dari Surabaya. Sampai ke Oslo. Lanjut 120 km lagi ke Notodden.Cari Follsjø.Tidak ada tiket masuk. Tidak ada tukang parkir liar teriak “Maju.. maju..”. Gratis. Allah yang jaga.Datang. Lihat sendiri air yang sejernih kaca itu.Siapa tahu, pulangnya, hati kamu juga jadi sejernih itu.Saya Santy. Sudah pulang ke Malang.Kangen Follsjø. Kangen dinginnya yang jujur.Kalau mau nitip salam ke danau itu, DM saya. Gratis.

Keindahan luar biasa Danau Follsjø di Norwegia.
Keindahan luar biasa Danau Follsjø di Norwegia. (Foto: Istimewa)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.