PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Arjuno-Welirang dan sekitarnya membawa dampak serius bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Pasuruan. Selain mengancam kelestarian hutan, kebakaran tersebut juga merusak jaringan pipa air bersih sepanjang sekitar 5 kilometer, sehingga mengganggu pasokan air bagi warga Desa Jatiharjo dan sekitarnya.
Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dari Fraksi PDI Perjuangan, Andri Wahyudi, menyampaikan bahwa kondisi kebakaran kali ini tergolong luar biasa dan lebih parah dibandingkan kejadian yang biasa terjadi setiap tahun.
Menurut Andri, kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan Gunung Arjuno, tetapi juga meluas ke Gunung Ringgit dan wilayah lainnya di sekitar kawasan tersebut. Arah perambatan api yang mendekati sumber mata air turut menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Baca juga: Podcast Jawara, Komisi I DPRD Pasuruan Minta Pemda Segera Tangani Karhutla Arjuno-Welirang
“Kami sudah menyampaikan perkembangan ini kepada teman-teman DPC PDIP. Bencana ini cukup luar biasa. Biasanya tidak separah ini, tetapi sekarang kondisinya cukup parah. Karena itu, selain upaya pemadaman, kami juga berkonsentrasi pada kebutuhan air bersih masyarakat,” ujar Andri saat wawancara khusus Selasa 20/10/2026.
Butuh Tangki Air Bersih
Sebagai langkah tanggap darurat, Andri bersama jajaran PDI Perjuangan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak.
Ia menyebutkan, sekitar 42 RT membutuhkan pasokan air bersih akibat terputusnya jaringan pipa air. Untuk mengatasi kebutuhan mendesak tersebut, bantuan air bersih disiapkan secara bertahap.
“Untuk kebutuhan air bersih, Minggu malam kawan kawan kami telah mengirim tiga tangki. Senin kami kirim lagi 15 tangki. Jadi, total yang telah kami kirim 18 tangki air bersih. Harapannya, bantuan ini bisa sedikit meringankan beban masyarakat di Desa Jatiharjo dan sekitarnya,” jelasnya.
Andri merinci, bantuan dari DPC PDI Perjuangan sebanyak 10 tangki, sedangkan DPD PDI Perjuangan memberikan dukungan lima tangki. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga selama jaringan perpipaan belum dapat berfungsi kembali.
Ia menegaskan, distribusi air tangki hanya menjadi solusi jangka pendek. Pemerintah dan pihak terkait perlu segera merencanakan perbaikan jaringan pipa agar kebutuhan air masyarakat dapat kembali terpenuhi secara berkelanjutan.
BPBD Akan Lakukan Asesmen Kerusakan Pipa
Untuk penanganan jangka menengah, Andri menyampaikan perlunya penyusunan rencana anggaran biaya (RAB) perbaikan atau pembangunan kembali jaringan perpipaan yang rusak akibat kebakaran.
Ia mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Rencananya, BPBD akan melakukan asesmen guna mengidentifikasi kebutuhan pipa serta langkah penanganan yang diperlukan.
“Kita tidak mungkin selamanya mengirim air menggunakan tangki. Karena itu, perlu segera dipikirkan bagaimana mendapatkan anggaran untuk pipanisasi selanjutnya. Besok rencananya BPBD juga melakukan asesmen terkait kebutuhan pipa,” ungkapnya.
Andri juga meminta jajaran DPC PDI Perjuangan dan pemerintah desa segera menyiapkan laporan kebutuhan beserta RAB agar dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.
Menurutnya, penanganan harus dilakukan secara bertahap, mulai dari pemenuhan kebutuhan air bersih, pendataan kerusakan, hingga pemulihan jaringan distribusi air yang terdampak.
Terkait kemungkinan pembentukan posko bantuan PDI Perjuangan, Andri menyatakan hal tersebut masih akan dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan di lapangan. Jika diperlukan, posko dapat dibuka untuk mendukung koordinasi dan penyaluran bantuan kepada masyarakat.
Ingatkan Relawan Utamakan Keselamatan
Di tengah upaya penanganan karhutla, Andri turut mengingatkan para relawan agar tetap menjaga semangat sekaligus mengutamakan keselamatan diri.
Menurutnya, kondisi kebakaran di kawasan pegunungan cukup berbahaya, terutama karena angin bertiup kencang dan dapat mengubah arah pergerakan api secara cepat.
Ia mengungkapkan, dalam proses penanganan sebelumnya, terdapat relawan yang harus kembali karena kondisi di lapangan dinilai terlalu berisiko.
“Harapan kami, para relawan tetap semangat, tetapi keselamatan harus menjadi prioritas. Kalau kondisinya memang berat dan membahayakan, jangan memaksakan diri. Kita harus menyadari bahwa ada faktor alam, termasuk angin kencang, yang berada di luar kendali kita,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa perkembangan kondisi terus dipantau dan dikoordinasikan bersama kepala desa untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat segera ditangani.
Ajak Masyarakat Jaga Hutan dan Antisipasi Banjir
Selain penanganan darurat, Andri mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian hutan. Menurutnya, kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada rusaknya vegetasi dan terganggunya sumber air, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan lanjutan.
Kerusakan kawasan hutan dapat meningkatkan risiko erosi dan banjir bandang ketika hujan turun, sehingga diperlukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak setelah kebakaran.
Karena itu, ia menilai upaya pemulihan kawasan hutan, penghijauan, dan penanaman kembali pohon perlu menjadi perhatian bersama.
“Kalau hutan sudah terbakar, kita juga harus memikirkan dampak berikutnya. Ketika hujan turun, bagaimana potensi banjir bandangnya, sejauh mana dampaknya, itu perlu menjadi bagian dari investigasi dan mitigasi kita,” katanya.
Andri pun mengajak masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan, untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam semakin meluas.
“Prinsipnya, ayo jaga alam kita. Hutan ini adalah titipan untuk anak cucu kita ke depan. Mari kita selamatkan hutan, menjaga sumber air, dan menanam pohon agar lingkungan tetap terjaga,” pungkasnya.
Dengan adanya bantuan air bersih dan rencana asesmen kerusakan jaringan pipa, diharapkan kebutuhan dasar warga Desa Jatiharjo dan sekitarnya dapat segera terpenuhi. Di sisi lain, pemulihan kawasan terdampak dan penguatan mitigasi bencana menjadi langkah penting agar dampak karhutla tidak semakin meluas. (Ans)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.