
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS : Limbah kulit kopi, daun gamal, dan sisa tanaman yang kerap belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi menjadi solusi untuk memperbaiki kualias tanah perkebunan. Melalui program pengabdian masyarakat Dosen dan Mahasiswa Departemen Tanah Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya mendampingi petani kopi rakyat di Desa Sumbermanjing Wetan, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, dalam menerapkan pengelolaan bahan organik dan konservasi air secara berkelanjutan, Minggu, (04/10/2026)
Kegiatan pengabdian ini diharidi oleh petani kopi, petani milenial, serta perwakilan dari perangkat desa. Program bertajuk “Peningkatan Ketersediaan Lengas Tanah melalui Pemanenan Air Hujan dan Bahan Organik pada Kebun Kopi Rakyat Lahan Kering di Sumbermanjing Wetan, Malang” mengintegrasikan sosialisasi hasil penelitian, diskusi bersama petani, serta demonstrasi pembuatan kompos dari bahan organik lokal.
Dosen penyelenggara, Prof. Dr. Ir. Sugeng Prijono, SU, menekankan pentingnya bahan organik dalam menjaga kualitas tanah perkebunan.“Bahan organik memiliki peran penting dalam memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air, serta membantu menjaga ketersediaan unsur hara bagi tanaman kopi. Oleh karena itu, limbah perkebunan yang tersedia di sekitar petani dapat dimanfaatkan secara optimal agar memberikan nilai tambah bagi keberlanjutan perkebunan kopi,” ujarnya dalam sesi sambutan.

Pak Isbandi, Perwakilan Perangkat Desa (kiri), Prof Sugeng Prijono, Dosen FBIPK UB (tengah), Pak Chatib, Petani Kopi (Kanan)
Persoalan yang dihadapi petani tidak hanya berkaitan dengan sedikitnya air yang tersedia pada musim kemarau. Pada lahan berlereng, sebagian air hujan dapat mengalir di permukaan sebelum sempat meresap ke dalam tanah. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah pemanenan air hujan melalui penerapan teras gulud, rorak, dan lubang resapan biopori. Pada salah satu penelitian yang dipaparkan, perlakuan berupa kombinasi teras dan rorak lurus menghasilkan simpanan lengas tanah sebesar 396,70 mm. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol yang hanya mencapai 293,36 mm. Hasil ini memberikan gambaran mengenai potensi konservasi air dalam membantu mempertahankan simpanan lengas tanah selama periode pengamatan.
Selain konservasi air, program ini mengangkat potensi limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit kopi, daun tebu kering, daun gamal, serta kotoran kambing diperkenalkan sebagai bahan baku kompos yang dapat diolah dengan memanfaatkan sumber daya di sekitar kebun. Pendekatan ini membuka peluang untuk mengurangi penumpukan limbah organik sekaligus mengembalikannya ke dalam sistem produksi pertanian sebagai sumber bahan organik.
Dalam sesi diskusi, peserta menunjukkan partisipasi aktif melalui pertanyaan teknis dan perbandingan materi dengan pengalaman mengelola lahan masing-masing. Pembahasan mencakup pemanfaatan limbah kopi dan bahan organik lokal, penerapan teknologi konservasi air, serta pentingnya mengintegrasikan pupuk organik untuk mempertahankan produktivitas kebun secara berkelanjutan. Chatib selaku petani kopi membagikan cerita mengenai kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat “Selama ini, limbah hanya dibakar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal jika diolah menjadi kompos, limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi tanah seperti yang sudah dijelaskan dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia” ujarnya.
Dalam demonstrasi pembuatan kompos, tim memperagakan pencampuran bahan organik dengan larutan dekomposer yang terdiri atas 20 ml EM4, 20 ml molase, dan 1 liter air. Melalui praktik tersebut, petani diperkenalkan pada tahapan pengolahan limbah yang relatif sederhana dan berpotensi diterapkan secara mandiri. Kompos yang telah matang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah untuk mendukung pembentukan agregat, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air serta unsur hara.

Demonstrasi Pembuatan Kompos
Melalui kegiatan ini, Tim Pengabdian berharap petani semakin memahami bahwa pengelolaan limbah organik dan konservasi air merupakan langkah yang saling melengkapi untuk memperbaiki kualitas tanah. Pendampingan lanjutan direncanakan untuk memperkuat penerapan teknologi tersebut, sehingga dapat mendukung produktivitas kebun kopi rakyat secara berkelanjutan.

Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.