Sorotan
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Jalan Raya Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi ruang pertunjukan budaya, Sabtu (3/10/2026).
Sekitar 35 kelompok mengikuti Belung Culture Carnival 2026, kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Belung bersama masyarakat untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Karnaval dimulai pukul 10.00 WIB dengan mengusung tema “Menjaga Tradisi, Merayakan Kreasi”.
Belung Culture Carnival 2026
Peserta karnaval dari berbagai unsur masyarakat, termasuk lembaga pendidikan dari jenjang TK, TPQ, MI, SD, MTs hingga MA di Desa Belung.
Keterlibatan lembaga pendidikan menjadi salah satu ciri kegiatan tahun ini.
Anak-anak dan pelajar tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari kelompok peserta yang mengisi arak-arakan.
Kegiatan tersebut dihadiri Camat Poncokusumo Didik Agus Mulyono, S.P., M.P.A., jajaran Muspika Kecamatan Poncokusumo, tokoh masyarakat, serta unsur masyarakat Desa Belung.
Baca juga: 71 Tahun Sarbumusi: Dari Sejarah Perjuangan Buruh Menuju Pekerja yang Berbudaya dan Berdaya
Tradisi sebagai Identitas
Plh Kepala Desa Belung Sulhan Hadi Wijaya, SE, mengatakan karnaval tersebut tidak semata-mata dimaksudkan sebagai kegiatan hiburan dalam rangka peringatan kemerdekaan.
“Hari ini kita tidak sekadar menyelenggarakan karnaval. Kita sedang merayakan jati diri, persatuan, dan kreativitas warga Belung dalam momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81,” ujar Sulhan.
Menurut dia, tema Menjaga Tradisi, Merayakan Kreasi menggambarkan hubungan antara identitas budaya dan kreativitas masyarakat.
“Tradisi adalah akar yang menjaga identitas kita, sementara kreasi adalah ruang untuk tumbuh dan berkembang,” katanya.
Sulhan mengatakan masyarakat perlu mempertahankan tradisi sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bentuk-bentuk kreativitas baru.
Ia juga mengaitkan kegiatan tersebut dengan potensi ekonomi masyarakat. Menurut dia, kegiatan budaya dapat membuka ruang bagi UMKM, penjahit, perias, seniman, dan pelaku usaha lokal.
Baca juga: Mocopat Padang Bulan Tumpang, Ratusan Pendekar Berkumpul Merawat Ingatan Pencak Silat
“Betul-Betul Karnaval”

Ketua BPD Desa Belung Imam Suyuti menilai unsur tradisi dan budaya menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
“Ini betul-betul karnaval, karena memunculkan unsur tradisi dan budaya masyarakat,” ujar Imam.
Sekitar 35 kelompok peserta tampil dalam kegiatan tersebut. Kehadiran peserta dari berbagai lembaga pendidikan membuat karnaval berlangsung lintas generasi.
Namun, keterlibatan banyak peserta belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa proses pelestarian budaya telah berlangsung.
Di sini terdapat perbedaan antara menampilkan budaya dalam sebuah perayaan dan memastikan pengetahuan serta praktik budaya terus diwariskan.
Baca juga: Baiturrahim Islamic Carnival 2026, Merawat Kerinduan Warga pada Karnaval yang Sarat Nilai
Dari Perayaan ke Pelestarian
Secara faktual, Belung Culture Carnival memperlihatkan adanya pertemuan antara pemerintah desa, masyarakat, lembaga pendidikan, dan generasi muda dalam satu kegiatan budaya.
Secara lebih luas, fenomena tersebut dapat dibaca sebagai upaya menggunakan ruang publik desa untuk membangun ekspresi identitas bersama.
Jalan raya, yang sehari-hari berfungsi sebagai ruang mobilitas, dalam kegiatan ini berubah menjadi ruang sosial dan kultural.
Masyarakat tidak hanya menggunakan ruang tersebut untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga untuk memperlihatkan identitas dan kreativitas mereka.
Di titik ini, tema Menjaga Tradisi, Merayakan Kreasi menghadirkan persoalan yang lebih substantif: apa yang sebenarnya dijaga ketika tradisi ditampilkan dalam bentuk baru?
Pertanyaan tersebut penting karena tradisi tidak hanya berupa kostum, musik, tarian, atau simbol yang dapat dipertunjukkan.
Di dalamnya terdapat pengetahuan, nilai, ingatan kolektif, serta praktik sosial yang diwariskan antargenerasi.
Karena itu, kreativitas tidak harus dipertentangkan dengan tradisi. Persoalannya adalah bagaimana inovasi tetap memiliki hubungan dengan sumber budaya yang direpresentasikan.
Hal serupa berlaku pada aspek ekonomi kreatif. Kegiatan karnaval dapat menciptakan permintaan terhadap jasa penjahit, perias, pelaku UMKM, seniman, dan usaha pendukung lainnya.
Namun, untuk menyebutnya sebagai dampak ekonomi kreatif yang berkelanjutan, diperlukan data mengenai transaksi, jumlah pelaku usaha, peningkatan pendapatan, dan keberlanjutan aktivitas setelah kegiatan berakhir.
Baca juga: Ngaji Qanun Asasi Mbah Hasyim, Ansor Poncokusumo Perkuat Sinergi hingga Ranting
Dengan demikian, Belung Culture Carnival 2026 dapat dibaca dalam dua lapis.
Pada lapis pertama, ia merupakan perayaan HUT Kemerdekaan RI yang melibatkan puluhan kelompok masyarakat dan lembaga pendidikan.
Lapis kedua, ia menjadi ruang untuk melihat bagaimana sebuah komunitas desa mempertahankan identitas budaya sekaligus memberi tempat bagi kreativitas generasi baru.
Ukuran keberhasilannya pada akhirnya tidak hanya terletak pada kemeriahan acara.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang tersisa setelah jalan raya kembali menjadi ruang lalu lintas: apakah tradisi semakin dipahami, apakah generasi muda terus terlibat, dan apakah kreativitas yang muncul dapat berkembang menjadi praktik budaya dan ekonomi yang berkelanjutan.(ROF)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.