MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Masalah keterbatasan lahan di kawasan permukiman perkotaan tidak menyurutkan semangat warga dan mahasiswa untuk berinovasi dalam penghijauan dan ketahanan pangan. Melalui program Malang Enviro Action (MEA) 2026, Keluarga Mahasiswa Teknik Lingkungan (KMTL) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat RW 06 Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang. Program pengabdian ini mengusung pendekatan urban farming untuk menyulap area sempit menjadi produktif.
Kegiatan yang berlangsung pada 6 September 2026 tersebut dihadiri oleh sekitar 20 peserta aktif, yang terdiri atas jajaran perangkat RW dan RT, perwakilan Ibu PKK, serta warga setempat. Kolaborasi erat terjalin antara KMTL FTAB UB dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang, yang menghadirkan Pak Tjutjuk Hardijanto, S.P., sebagai narasumber ahli. Sinergi ini bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan dan semangat untuk mandiri secara pangan meskipun hidup di lingkungan perkotaan yang padat.
Rangkaian kegiatan dikemas dalam dua sesi, yakni edukasi dan praktik penanaman langsung. Di sesi pertama, Pak Tjutjuk Hardijanto memaparkan materi penting mengenai ketahanan pangan sekaligus strategi penghijauan di lahan yang sangat terbatas. Kepada para peserta, beliau menekankan bahwa luas tanah bukanlah penghalang utama untuk menjadi produktif secara mandiri.
“Materi tersebut memberikan gambaran kepada warga bahwa keterbatasan ruang tidak harus menjadi penghalang untuk melakukan kegiatan penghijauan maupun menghasilkan tanaman pangan secara mandiri. Pemanfaatan ruang secara vertikal menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan area yang tersedia,” ujarnya.
Antusiasme warga semakin memuncak di sesi kedua ketika panitia MEA 2026 mulai memberikan materi teknis mengenai penerapan vertical garden. Warga tidak hanya diajarkan cara membuatnya dengan menggunakan susunan pipa PVC, tetapi juga dikenalkan dengan tahapan lengkap budidaya tanaman, mulai dari proses penyemaian benih, pemindahan tanaman, perawatan, hingga waktu pemanenan. Dalam kesempatan ini, panitia telah menyiapkan sebanyak 12 unit vertical garden yang diserahkan untuk ditempatkan pada enam RT di RW 06.
“Masing-masing RT memperoleh dua unit. Tanaman yang digunakan dalam kegiatan adalah pakcoy dan selada, yang dipilih sebagai tanaman sayur untuk menjadi media pembelajaran urban farming langsung bagi masyarakat,” kata salah seorang panitia MEA 2026.
Implementasi vertical garden ini tidak sekadar diarahkan sebagai kegiatan menanam, namun lebih sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas. Program ini bertujuan membuka pemahaman warga bahwa penghijauan lingkungan dan pemanfaatan ruang untuk ketersediaan pangan dapat berjalan beriringan. Kehadiran 12 unit vertical garden ini diharapkan menjadi pemantik semangat masyarakat untuk mandiri dalam memanfaatkan ruang yang ada dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hijau di area permukiman.
Melalui kegiatan praktik yang aplikatif ini, para peserta mendapatkan pengalaman langsung sehingga pengetahuan urban farming yang diterima dapat diterapkan terus menerus.
Program MEA 2026 ini memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) dan SDG 11: Sustainable Cities and Communities (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan).
Pemanfaatan vertical garden untuk budidaya sayuran merupakan upaya nyata dalam mendukung edukasi ketahanan pangan melalui produktivitas lahan, sejalan dengan SDG 2. Sementara itu, pemanfaatan lahan terbatas untuk menciptakan lingkungan permukiman yang lebih hijau turut mendukung terciptanya kota yang berkelanjutan seperti amanat SDG 11. Melalui Malang Enviro Action 2026, KMTL FTAB UB berupaya membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah akhir, melainkan awal untuk berinovasi bagi lingkungan dan ketahanan pangan secara mandiri.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.