Langsung ke konten
Sabtu, 12 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Ngadirejo, Desa Ke Tiga Dinilai Lomba Kampung Pancasila Harmoni Lebih Setengah Abad

Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi desa ketiga yang menjalani penilaian Lomba Kampung Pancasila Kabupaten Pasuruan

Juri, Kades, Forkopimda , pecalang, Banser dan warga foto bersama

Juri, Kades, Forkopimda , pecalang, Banser dan warga foto bersama (Foto: Doc. Anis Hidayatie)

PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi desa ketiga yang menjalani penilaian Lomba Kampung Pancasila Kabupaten Pasuruan, Kamis (10/9/2026).

Berada di wilayah paling timur Kecamatan Tutur dan berbatasan dengan Kecamatan Tosari, Desa Ngadirejo menyuguhkan kekayaan budaya masyarakat Tengger sekaligus memperlihatkan praktik nyata kerukunan antarumat beragama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kedatangan tim juri dipimpin Kaban Kesbangpol Nurul Huda, Ketua FPK Kabupaten Pasuruan Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi, unsur TNI Dovik Sudarmanto, serta unsur Polri Bambang. Disambut dengan kesenian Selompret khas Tengger yang dibawakan oleh para siswa SDN 1 Ngadirejo.

Baca juga: Penunggul, Desa nominator Pertama Dinilai dalam Lomba Kampung Pancasila Kabupaten Pasuruan, Video Karya Kartar

Baca juga: Pasrepan Desa ke-24 Dinilai Lomba Kampung Pancasila Kabupaten Pasuruan, Disambut Tari Petik Durian

Kepala Desa Ngadirejo, Mulyono, menyampaikan apresiasi atas kedatangan tim penilai serta seluruh unsur masyarakat yang mendukung kegiatan tersebut.

“Selamat datang di Desa Ngadirejo. Desa kami berada di wilayah paling ujung timur Kecamatan Tutur dan berbatasan dengan Kecamatan Tosari. Kami sangat bersyukur dan bangga karena Desa Ngadirejo mendapat kesempatan mengikuti penilaian Kampung Pancasila,” ujarnya.

Menurut Mulyono, keberagaman masyarakat justru menjadi kekuatan bagi Desa Ngadirejo. Di desa tersebut hidup masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda, antara lain Islam, Hindu, dan Kristen.

“Desa kami memang sudah beragam. Ada agama Hindu, Kristen dan Muslim. Alhamdulillah, dalam kehidupan sehari-hari semuanya dapat hidup berdampingan, saling menghormati dan menjaga kerukunan,” katanya.

Ia menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak hanya ditampilkan ketika mengikuti perlombaan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Camat Tutur H. Hendi mengapresiasi seluruh elemen masyarakat Desa Ngadirejo yang mampu menunjukkan semangat persatuan dalam keberagaman.

Ia bahkan membuka sambutan dengan salam yang mencerminkan keberagaman budaya masyarakat Tengger.

“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh, Hong Ulun Basuki, Selamat datang di Desa Kampung Pancasila, Desa Ngadirejo Kecamatan Tutur,” ujarnya.

Hendi mengatakan, Desa Ngadirejo sebenarnya tidak membutuhkan perlombaan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila. Sebab, nilai tersebut telah terlihat dalam kehidupan masyarakat.

“Desa Ngadirejo ini meskipun tidak dilombakan, nilai-nilai Pancasila sudah dianut oleh masyarakatnya. Hari ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat mampu memelihara persatuan dalam keberagaman,” jelasnya.

Menurutnya, budaya Tengger juga menjadi salah satu identitas budaya yang dimiliki Kabupaten Pasuruan dan patut terus dipelihara.

Ia mengapresiasi keterlibatan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta seluruh warga yang bersama-sama menyukseskan penilaian Kampung Pancasila.

“Persiapannya memang cukup mendadak, tetapi Alhamdulillah semua elemen masyarakat bersatu padu untuk menyukseskan kegiatan hari ini,” ungkapnya.

Pancasila Bukan Sekadar Gapura dan Simbol

Sekretaris Desa Ngadirejo, Willy, dalam paparannya menegaskan bahwa Kampung Pancasila tidak boleh dimaknai sebatas gapura, tulisan atau simbol yang dipasang di sebuah desa.

Menurutnya, esensi Kampung Pancasila adalah ketika nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dan menjadi kultur masyarakat.

“Pancasila itu tidak hanya sekadar monumen, tidak hanya sekadar gambar dan tidak hanya sesuatu yang perlu dihafalkan. Tetapi nilai-nilai Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia mencontohkan penerapan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, melalui kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

“Kalau ingin melihat Bhinneka Tunggal Ika, bisa dilihat dari kehidupan masyarakat kami. Di sini ada pura, ada gereja dan masyarakat Muslim. Kami tidak pernah gontok-gontokan karena persoalan agama. Kami merasa semuanya saudara,” tegasnya.

Kerukunan tersebut, lanjut Willy, juga diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan ketika umat agama lain melaksanakan ibadah atau perayaan hari besar keagamaan.

Di Desa Ngadirejo terdapat unsur keamanan dan sosial dari berbagai komunitas keagamaan, seperti pecalang, Banser, serta unsur masyarakat lainnya.

Ketika umat Muslim melaksanakan Hari Raya, misalnya, masyarakat dari komunitas lain turut membantu menjaga keamanan. Demikian pula ketika umat Hindu melaksanakan kegiatan keagamaan maupun saat umat Kristen merayakan Natal.

“Ketika ada Natal, teman-teman Banser ikut menjaga. Ketika Nyepi, kami juga saling menjaga. Begitu juga ketika umat Muslim melaksanakan hari raya. Ini bentuk nyata bahwa kita saling menjaga kenyamanan dan keamanan,” paparnya.

Video Dua Hari Berbuah Lima Besar

Dalam penilaian Kampung Pancasila tahun ini, Desa Ngadirejo menjadi salah satu dari lima desa yang masuk nominasi dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan.

Tim penilai melakukan penilaian melalui video yang dikirimkan masing-masing desa, sebelum kemudian melakukan kunjungan lapangan untuk melihat secara langsung implementasi nilai-nilai Pancasila.

Iklan

Ketua Karang Taruna Desa Ngadirejo sekaligus sutradara video, Nicolaus Fernando, mengungkapkan bahwa proses pembuatan video Kampung Pancasila dilakukan hanya dalam waktu dua hari.

“Kami mendapat perintah dari Kecamatan Tutur dan langsung siap. Kebetulan kami juga memiliki tim media yang bergerak di bidang videografi dan fotografi untuk promosi desa,” tuturnya.

Dalam proses produksi, pihaknya melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pecalang, Banser, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga komunitas dari gereja dan pura.

“Kami datangi semuanya. Kami minta bantuan dan dukungan seluruh lapisan masyarakat. Ternyata semuanya kompak. Dalam dua hari video selesai dan langsung kami kirim,” katanya.

Fernando mengaku sejak awal tidak terlalu berharap Desa Ngadirejo bisa masuk nominasi lima besar. Pasalnya, waktu produksi yang sangat singkat membuat tim harus bekerja secara maksimal.

Namun, video tersebut justru berhasil mengangkat pesan kuat mengenai toleransi.

Konsep utama video menggambarkan sosok pecalang yang memiliki kepedulian terhadap umat agama lain yang sedang menjalankan ibadah.

“Konsepnya ada seorang pecalang yang tetap menjalankan ibadahnya, tetapi dia juga memiliki hati untuk menjaga teman-temannya yang beragama lain ketika sedang beribadah,” jelasnya.

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah pernyataan yang menurut Fernando menjadi inti dari semangat Kampung Pancasila.

“Walaupun saya adalah pecalang, hak teman-teman saya untuk beribadah tetap harus saya jaga,” ungkapnya.

Tim Penilai Apresiasi Pesan Kerukunan

Tim penilai, Gus Bayhaqi Kadmi, yang merupakan perwakilan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Pasuruan, menyampaikan bahwa Desa Ngadirejo berhasil masuk lima besar setelah melalui tahapan penilaian video.

Gus Bayhaqi (biru) bersama dewan Juri Kaban Kesbangpol Nurul Huda, TNI Dovik Sudarmanto dan Polri Bambang
Gus Bayhaqi (biru) bersama dewan Juri Kaban Kesbangpol Nurul Huda, TNI Dovik Sudarmanto dan Polri Bambang

Tim penilai terdiri dari unsur terkait, di antaranya Nurul Huda selaku ketua tim juri, perwakilan Polres Pasuruan, Kesbangpol, serta unsur FPK.

Menurut Gus Bayhaqi, tahun ini konsep lomba Kampung Pancasila disederhanakan. Dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan, masing-masing mengirimkan video untuk kemudian diseleksi hingga menyisakan lima nominasi terbaik.

“Kecamatan Tutur yang diwakili Desa Ngadirejo sudah masuk nominasi lima besar. Selanjutnya kami melakukan penilaian langsung untuk menentukan peringkat terbaik,” jelasnya.

Ia mengatakan, penilaian tidak hanya melihat kualitas teknis video, tetapi terutama bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

“Nilai terbesar berasal dari penerapan sila-sila Pancasila. Editing video juga menjadi bagian penilaian, demikian pula sisi menarik dari penampilan dalam film yang dibuat,” katanya.

Gus Bayhaqi mengapresiasi video Desa Ngadirejo karena dinilai mampu menyampaikan pesan kerukunan secara sederhana dan menyentuh.

Menurutnya, kekuatan video tersebut justru terlihat dari penampilan masyarakat lokal dan pesan yang muncul secara natural, bukan sekadar dibuat untuk kepentingan lomba.

Penilaian lapangan di Desa Ngadirejo kemudian menjadi bukti bahwa pesan yang ditampilkan dalam video memang sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat sehari-hari. Ans

Penghormatan ala pecalang desa Ngadirejo (Video: Doc. Pri Anis Hidayatie)

Ngadirejo, Desa Ke Tiga Dinilai Lomba Kampung Pancasila Harmoni Lebih Setengah Abad

PASURUAN — Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi desa ketiga yang menjalani penilaian Lomba Kampung Pancasila Kabupaten Pasuruan, Kamis (10/9/2026).

Berada di wilayah paling timur Kecamatan Tutur dan berbatasan dengan Kecamatan Tosari, Desa Ngadirejo menyuguhkan kekayaan budaya masyarakat Tengger sekaligus memperlihatkan praktik nyata kerukunan antarumat beragama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kedatangan tim juri dipimpin Kaban Kesbangpol Nurul Huda, Ketua FPK Kabupaten Pasuruan Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi, unsur TNI Dovik Sudarmanto, serta unsur Polri Bambang. Disambut dengan kesenian Selompret khas Tengger yang dibawakan oleh para siswa SDN 1 Ngadirejo.

Kepala Desa Ngadirejo, Mulyono, menyampaikan apresiasi atas kedatangan tim penilai serta seluruh unsur masyarakat yang mendukung kegiatan tersebut.

“Selamat datang di Desa Ngadirejo. Desa kami berada di wilayah paling ujung timur Kecamatan Tutur dan berbatasan dengan Kecamatan Tosari. Kami sangat bersyukur dan bangga karena Desa Ngadirejo mendapat kesempatan mengikuti penilaian Kampung Pancasila,” ujarnya.

Iklan

Menurut Mulyono, keberagaman masyarakat justru menjadi kekuatan bagi Desa Ngadirejo. Di desa tersebut hidup masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda, antara lain Islam, Hindu, dan Kristen.

“Desa kami memang sudah beragam. Ada agama Hindu, Kristen dan Muslim. Alhamdulillah, dalam kehidupan sehari-hari semuanya dapat hidup berdampingan, saling menghormati dan menjaga kerukunan,” katanya.

Ia menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak hanya ditampilkan ketika mengikuti perlombaan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Camat Tutur H. Hendi mengapresiasi seluruh elemen masyarakat Desa Ngadirejo yang mampu menunjukkan semangat persatuan dalam keberagaman.

Ia bahkan membuka sambutan dengan salam yang mencerminkan keberagaman budaya masyarakat Tengger.

Camat Tutur H Hendi beserta istri dan Kades Ngadirejo Mulyono beserta istri

“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh, Hong Ulun Basuki, Selamat datang di Desa Kampung Pancasila, Desa Ngadirejo Kecamatan Tutur,” ujarnya.

Hendi mengatakan, Desa Ngadirejo sebenarnya tidak membutuhkan perlombaan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila. Sebab, nilai tersebut telah terlihat dalam kehidupan masyarakat.

“Desa Ngadirejo ini meskipun tidak dilombakan, nilai-nilai Pancasila sudah dianut oleh masyarakatnya. Hari ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat mampu memelihara persatuan dalam keberagaman,” jelasnya.

Menurutnya, budaya Tengger juga menjadi salah satu identitas budaya yang dimiliki Kabupaten Pasuruan dan patut terus dipelihara.

Ia mengapresiasi keterlibatan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta seluruh warga yang bersama-sama menyukseskan penilaian Kampung Pancasila.

“Persiapannya memang cukup mendadak, tetapi Alhamdulillah semua elemen masyarakat bersatu padu untuk menyukseskan kegiatan hari ini,” ungkapnya.

Pancasila Bukan Sekadar Gapura dan Simbol

Sekretaris Desa Ngadirejo, Willy, dalam paparannya menegaskan bahwa Kampung Pancasila tidak boleh dimaknai sebatas gapura, tulisan atau simbol yang dipasang di sebuah desa.

Menurutnya, esensi Kampung Pancasila adalah ketika nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dan menjadi kultur masyarakat.

“Pancasila itu tidak hanya sekadar monumen, tidak hanya sekadar gambar dan tidak hanya sesuatu yang perlu dihafalkan. Tetapi nilai-nilai Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia mencontohkan penerapan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, melalui kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

“Kalau ingin melihat Bhinneka Tunggal Ika, bisa dilihat dari kehidupan masyarakat kami. Di sini ada pura, ada gereja dan masyarakat Muslim. Kami tidak pernah gontok-gontokan karena persoalan agama. Kami merasa semuanya saudara,” tegasnya.

Kerukunan tersebut, lanjut Willy, juga diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan ketika umat agama lain melaksanakan ibadah atau perayaan hari besar keagamaan.

Di Desa Ngadirejo terdapat unsur keamanan dan sosial dari berbagai komunitas keagamaan, seperti pecalang, Banser, serta unsur masyarakat lainnya.

Ketika umat Muslim melaksanakan Hari Raya, misalnya, masyarakat dari komunitas lain turut membantu menjaga keamanan. Demikian pula ketika umat Hindu melaksanakan kegiatan keagamaan maupun saat umat Kristen merayakan Natal.

“Ketika ada Natal, teman-teman Banser ikut menjaga. Ketika Nyepi, kami juga saling menjaga. Begitu juga ketika umat Muslim melaksanakan hari raya. Ini bentuk nyata bahwa kita saling menjaga kenyamanan dan keamanan,” paparnya.

Video Dua Hari Berbuah Lima Besar

Dalam penilaian Kampung Pancasila tahun ini, Desa Ngadirejo menjadi salah satu dari lima desa yang masuk nominasi dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan.

Tim penilai melakukan penilaian melalui video yang dikirimkan masing-masing desa, sebelum kemudian melakukan kunjungan lapangan untuk melihat secara langsung implementasi nilai-nilai Pancasila.

Ketua Karang Taruna Desa Ngadirejo sekaligus sutradara video, Nicolaus Fernando, mengungkapkan bahwa proses pembuatan video Kampung Pancasila dilakukan hanya dalam waktu dua hari.

Iklan

“Kami mendapat perintah dari Kecamatan Tutur dan langsung siap. Kebetulan kami juga memiliki tim media yang bergerak di bidang videografi dan fotografi untuk promosi desa,” tuturnya.

Dalam proses produksi, pihaknya melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pecalang, Banser, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga komunitas dari gereja dan pura.

“Kami datangi semuanya. Kami minta bantuan dan dukungan seluruh lapisan masyarakat. Ternyata semuanya kompak. Dalam dua hari video selesai dan langsung kami kirim,” katanya.

Fernando mengaku sejak awal tidak terlalu berharap Desa Ngadirejo bisa masuk nominasi lima besar. Pasalnya, waktu produksi yang sangat singkat membuat tim harus bekerja secara maksimal.

Namun, video tersebut justru berhasil mengangkat pesan kuat mengenai toleransi.

Konsep utama video menggambarkan sosok pecalang yang memiliki kepedulian terhadap umat agama lain yang sedang menjalankan ibadah.

“Konsepnya ada seorang pecalang yang tetap menjalankan ibadahnya, tetapi dia juga memiliki hati untuk menjaga teman-temannya yang beragama lain ketika sedang beribadah,” jelasnya.

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah pernyataan yang menurut Fernando menjadi inti dari semangat Kampung Pancasila.

“Walaupun saya adalah pecalang, hak teman-teman saya untuk beribadah tetap harus saya jaga,” ungkapnya.

Tim Penilai Apresiasi Pesan Kerukunan

Ketua tim penilai, Gus Bayhaqi Kadmi, yang merupakan perwakilan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Pasuruan, menyampaikan bahwa Desa Ngadirejo berhasil masuk lima besar setelah melalui tahapan penilaian video.

Tim penilai terdiri dari unsur terkait, di antaranya Nurul Huda selaku ketua tim juri, perwakilan Polres Pasuruan, Kesbangpol, serta unsur FPK.

Menurut Gus Bayhaqi, tahun ini konsep lomba Kampung Pancasila disederhanakan. Dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan, masing-masing mengirimkan video untuk kemudian diseleksi hingga menyisakan lima nominasi terbaik.

“Kecamatan Tutur yang diwakili Desa Ngadirejo sudah masuk nominasi lima besar. Selanjutnya kami melakukan penilaian langsung untuk menentukan peringkat terbaik,” jelasnya.

Ia mengatakan, penilaian tidak hanya melihat kualitas teknis video, tetapi terutama bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

“Nilai terbesar berasal dari penerapan sila-sila Pancasila. Editing video juga menjadi bagian penilaian, demikian pula sisi menarik dari penampilan dalam film yang dibuat,” katanya.

Gus Bayhaqi mengapresiasi video Desa Ngadirejo karena dinilai mampu menyampaikan pesan kerukunan secara sederhana dan menyentuh.

Menurutnya, kekuatan video tersebut justru terlihat dari penampilan masyarakat lokal dan pesan yang muncul secara natural, bukan sekadar dibuat untuk kepentingan lomba.

Penilaian lapangan di Desa Ngadirejo kemudian menjadi bukti bahwa pesan yang ditampilkan dalam video memang sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat sehari-hari. Ans

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.