Sorotan
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Wajah Rupawan Bukan Jaminan Rumah Tangga Bertahan: Mengapa Berpisah? Oleh: Prof.Dr.Sudirman,M.A (Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)
Rabu, 12 Agustus 2026, suasana di Pengadilan Agama Kabupaten Malang berjalan seperti biasa.
Para pihak datang membawa persoalan rumah tangga masing-masing.
Ada yang datang dengan wajah tegang, ada yang terlihat sedih, tetapi ada pula yang tampak tenang seolah tidak sedang menghadapi masalah besar.
Sebagai mediator, saya kembali menyadari bahwa persoalan rumah tangga sering kali tidak terlihat dari apa yang tampak di luar.
Hari itu saya mendampingi sepasang suami istri. Sang suami, pria berusia 36 tahun, terlihat rupawan dengan penampilan yang cukup berbeda dari kebanyakan orang.
Sementara istrinya, perempuan berusia 35 tahun, tampil cantik dengan busana berkelas, riasan yang tertata, dan aksesori yang cukup mencolok. Dari penampilannya, keduanya tampak berasal dari keluarga berkecukupan.
Permasalahan Rumah Tangga
Keduanya memasuki ruang mediasi setelah mengikuti sidang pertama bersama majelis hakim.
Awalnya, saya tidak menyangka mereka sedang menghadapi persoalan serius. Mereka terlihat santai, bahkan sesekali tersenyum. Namun, suasana berubah ketika proses mediasi dimulai.
Dari pembicaraan yang berlangsung, terungkap bahwa sang istri mengajukan gugatan cerai.
Persoalan yang mengemuka berkaitan dengan campur tangan mertua yang dinilai terlalu jauh dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Sekilas, persoalan itu mungkin tampak sederhana. Pasangan tersebut bahkan telah membeli hunian baru untuk hidup lebih mandiri.
Tetapi ternyata, persoalannya tidak berhenti pada tempat tinggal. Kebiasaan orang tua yang kerap membandingkan sang istri dengan perempuan lain membuat hubungan semakin renggang.
Lebih jauh, tindakan kasar suami terhadap istri dan anak juga disebut selalu mendapatkan pembenaran dari pihak mertua.
Baca juga: Ketika Istri Menjadi Pencari Nafkah: Bagaimana Membagi Beban Rumah Tangga secara Adil?
Keluarga kecil yang telah dibangun selama lebih dari sepuluh tahun akhirnya sampai di meja hijau.
Sebagai mediator, pengalaman tersebut kembali mengingatkan saya bahwa penampilan dan kondisi ekonomi bukan jaminan sebuah ikatan pernikahan dapat bertahan.
Wajah rupawan, pakaian berkelas, hunian yang bagus, bahkan kehidupan yang berkecukupan tidak otomatis membuat pasangan mampu menghadapi persoalan rumah tangga.
Hal yang jauh lebih penting adalah kematangan emosional.
Dalam perkawinan, perbedaan karakter dan cara berpikir adalah sesuatu yang wajar.
Persoalan kemudian muncul ketika pasangan tidak mampu mengelola perbedaan tersebut.
Masalah kecil dapat menjadi besar ketika masing-masing sibuk mencari siapa yang salah, enggan melakukan introspeksi, atau memilih diam daripada membicarakan persoalan secara terbuka.
Campur tangan keluarga besar juga perlu ditempatkan secara proporsional. Nasihat orang tua tentu penting dan pengalaman mereka layak dihargai.
Namun, setelah anak menikah, ada ruang privat yang semestinya dihormati. Keluarga kecil anak bukan lagi ruang yang dapat sepenuhnya dikendalikan oleh orang tua.
Seorang suami tetap harus menghormati orang tuanya, tetapi pada saat yang sama perlu memahami tanggung jawabnya terhadap istri dan anak.
Begitu pula seorang istri perlu membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan dan keluarga besar.
Sebab, pernikahan pada dasarnya adalah proses membangun keluarga baru.
Selain campur tangan pihak ketiga, komunikasi juga menjadi salah satu kunci penting dalam mempertahankan keluarga kecil tersebut.
Tinggal bersama selama bertahun-tahun tidak selalu berarti pasangan benar-benar saling memahami. Ada kalanya seseorang memilih diam karena kecewa, sementara pasangannya menganggap tidak ada masalah.
Padahal, persoalan yang terus disimpan dapat berubah menjadi luka yang semakin dalam.
Komunikasi bukan sekadar berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan. Terkadang pasangan tidak membutuhkan nasihat panjang.
Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan memahami apa yang sedang dirasakan.
Dari ruang mediasi, saya belajar bahwa setiap pasangan suami istri memiliki cerita yang berbeda.
Ada persoalan yang dapat diselesaikan dengan komunikasi, ada yang membutuhkan bantuan pihak ketiga, dan ada pula yang akhirnya membawa pasangan pada keputusan untuk berpisah.
Apa pun akhirnya, satu hal yang patut direnungkan adalah bahwa rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar.
Rumah tangga adalah tentang bagaimana dua orang yang berbeda dapat belajar memahami, menghargai, dan menjaga satu sama lain.
Karena itu, wajah rupawan bukan jaminan rumah tangga bertahan. Materi juga bukan ukuran kebahagiaan.
Faktor-faktor yang membuat sebuah rumah tangga tetap berdiri adalah kedewasaan, komunikasi, batas yang sehat dengan keluarga besar, serta kemauan dua orang untuk terus belajar berjalan bersama.
Sebab, di balik rumah tangga yang tampak sempurna dari luar, bisa saja ada cerita yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun.(MFT)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.