SIDOARJO | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Hari Jadi Desa Bungurasih, Kec. Waru, Sidoarjo, yang ke 1.166 Tahun kali ini ditandai dengan Pergelaran Wayang Kulit Jawa Timuran dengan lakon “Babat Alas Wonomarto,” Sabtu malam (22/8/26). Acara yang dilangsungkan di pelataran Makam Mbah Ibrahim al Jaelani alias Mbah Kramat, di Bungurasih Tengah ini menghadirkan dalang Ki Pringgo Jati Rahmanu, dengan selingan lawak Cak Tawar Gonzales dan Cak Roso.
Rangkaian acara sudah dimulai sejak pukul 16.00 berupa Kirab Manusuk Sima, yaitu iring-iringan anggota Karang Taruna dan masyarakat membawa hasil bumi, tumpeng, bunga, penjor janur, umbul-umbul daun klaras, serta rombongan Ishari Bungurasih. Kirab ini dikemas secara teatrikal oleh sutradara Meimura.
Sebelum wayangan, acara dibuka oleh penampilan Grup Banjari IKSAMU (Ikatan Santri Amanatul Muslimah) Bungurasih Timur, Samba Fun Music, Klenengan Karawitan, Campursari, dan Tari Remo. Pada kesempatan itu juga dilakukan pelantikan pengurus Karang Taruna Desa Bungurasih oleh Kepala Desa Bungurasih.
Ketua Panitia, Henri Nurcahyo, menjelaskan bahwa acara ini merupakan program pemberdayaan ruang publik dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Ditambahkan, Hari Jadi Desa Bungurasih itu sendiri sebetulnya tanggal 31 Oktober, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Gedangan atau Prasasti Kancana. Di mana pada tahun 860 Masehi Raja Rakai Kayuwangi dari Mataram Kuno memberikan anugerah Desa Sima kepada Desa Bungur Lor dengan memberikan kewajiban kepada warganya menjaga dan merawat bangunan suci Kancana. Prosesi penganugerahan Desa Sima itu dilakukan dengan ritual Manusuk Sima. Dahulu, manusuk sima berarti menetapkan batas dan status sebuah wilayah. Kini, manusuk sima dapat dimaknai sebagai menancapkan kembali ingatan sejarah sebuah desa agar tidak tercerabut oleh perubahan zaman.
Menurut Henri Nurcahyo, yang juga tokoh desa Bungurasih, acara peringatan Hari Jadi dimajukan bulan Agustus karena alasan teknis, dan sekaligus ikut memeriahkan peringatan Proklamasi Kemerdekaaan Republik Indonesia.
Pada acara inilah peserta kirab akan membacakan “Sumpah Bungurasih” yang pada intinya sebagai berikut:
Kami, warga Desa Bungurasih, para ulama, tokoh masyarakat, sesepuh, kaum perempuan, para pemuda, serta seluruh unsur masyarakat, dengan kesadaran dan keikhlasan hati, berikrar:
- Menjaga Desa Bungurasih sebagai tanah kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur, serta merawatnya agar tetap menjadi tempat yang aman, tenteram, dan bermartabat.
- Menghormati dan melestarikan seluruh peninggalan sejarah, tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri Desa Bungurasih.
- Memelihara persaudaraan, menjunjung tinggi kerukunan, berlaku jujur, adil, saling menolong, serta menghindarkan diri dari segala bentuk permusuhan dan perpecahan.
- Menjaga alam, tanah, air, pepohonan, dan seluruh lingkungan hidup sebagai titipan Tuhan yang wajib diwariskan kepada anak cucu dalam keadaan lebih baik.
- Bergotong royong membangun Desa Bungurasih dengan semangat kebersamaan, demi kesejahteraan dex seluruh warga, kini dan pada masa yang akan datang.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan keselamatan, menjauhkan kami dari segala malapetaka dan bencana, melancarkan rezeki, menguatkan persatuan, serta memberikan keberkahan bagi Desa Bungurasih sepanjang zaman.
Dan kami bersumpah: Barang siapa dengan sengaja mengkhianati ikrar ini, merusak kerukunan, mencederai warisan leluhur, atau merusak alam dan kehidupan desa, maka biarlah ia mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan, masyarakat, sejarah, dan anak cucu; serta menerima akibat yang setimpal sesuai dengan keadilan dan hukum yang berlaku. (*)

